Friday, 12 May 2017

Fakta Nyata Dari Misteri Segitiga Bermuda

Fakta Nyata Dari Misteri Segitiga Bermuda

Wilayah laut di selatan Amerika Serikat dengan titik sudut Miami (di Florida), Puerto Rico (Jamaica), dan Bermuda ini, telah berabad-abad menyimpan kisah yang tak terpecahkan. Misteri demi misteri bahkan telah dicatat oleh pengelana samudera macam Christopher Columbus.
Sekitar 1492, ketika dirinya akan mengakhiri perjalanan jauhnya menuju dunia barunya, Amerika, Columbus sempat menyaksikan fenomena aneh di wilayah ini. Di tengah suasana laut yang terasa aneh, jarum kompas di kapalnya beberapa kali berubah-ubah. Padahal cuaca saat itu begitu baik.
Lebih dari itu, tak jauh dari kapal, pada suatu malam tiba-tiba para awaknya dikejutkan dengan munculnya bola-bola api yang terjun begitu saja ke dalam laut. Mereka juga menyaksikan lintasan cahaya dari arah ufuk yang kemudian menghilang begitu saja.
Segitiga Bermuda: Miami (di Florida), Puerto Rico (Jamaica), dan pulau Bermuda
Begitulah Segitiga Bermuda. Di wilayah ini, indera keenam memang seperti dihantui ‘suasana’ yang tak biasa. Namun begitu rombongan Columbus masih terbilang beruntung, karena hanya disuguhi ‘pertunjukkan’. Beda dengan para pelintas yang lain.
Menurut catatan kebaharian, peristiwa terbesar yang pernah terjadi di wilayah ini adalah lenyapnya sebuah kapal berbendera Inggris, Atalanta, pada 1880. Tanpa jejak secuilpun, kapal yang ditumpangi tiga ratus kadet dan perwira AL Inggris itu raib di sana. Selain Atalanta, Segitiga Bermuda juga telah menelan ratusan kapal lainnya.
Lima Grumman TBF Avenger AL AS yang lebih dikenal dengan “Flight 19” hilang di segitiga Bermuda
Di lain kisah, Segitiga Bermuda juga telah membungkam puluhan pesawat yang melintasinya.
Peristiwa terbesar yang kemudian terkuak sekitar 1990 lalu adalah raibnya iring-iringan lima Grumman TBF Avenger AL AS yang lebih dikenal dengan “Flight 19” tengah berpatroli melintas wilayah laut ini pada siang hari 5 Desember 1945.
Setelah sekitar dua jam penerbangan komandan penerbangan melapor, bahwa dirinya dan anak buahnya seperti mengalami disorientasi.
Beberapa menit kemudian kelima TBF Avenger ini pun raib tanpa sempat memberi sinyal SOS. Anehnya, misteri Avenger tak berujung di situ saja.
Ketika sebuah pesawat SAR jenis Martin PBM-3 Mariner dikirim mencarinya, pesawat amfibi gembrot dengan tigabelas awak ini pun ikut-ikutan lenyap. Hilang bak ditelan udara.

Martin PBM-3 Mariner, yang ditugaskan mencari “Flight 19” juga hilang di segitiga Bermuda
Keesokan harinya ketika wilayah-wilayah laut yang diduga menjadi tempat kecelakaan keenam pesawat disapu enam pesawat penyelamat pantai dengan 27 awak, tak satu pun serpihan pesawat ditemukan.
Ajaib… Tahun demi tahun berlalu. Sekitar 1990, tanpa dinyana seorang peneliti berhasil menemukan onggokan kerangka pesawat di lepas pantai Fort Launderdale, Florida. Betapa terkejutnya orang-orang yang menyaksikan. Karena, ketika dicocok kan, onggokan metal itu ternyata bagian dari kelima TBF Avenger!

C-119 Flying Boxcar, hilang di segitiga Bermuda
Kisah ajaib lainnya adalah hilangnya pesawat transpor C-119 Flying Boxcar pada 7 Juni 1965. Pesawat tambun mesin ganda milik AU AS bermuatan kargo ini, hari itu pukul 7.47 lepas landas dari Lanud Homestead.
Pesawat dengan 10 awak ini terbang menuju Lapangan Terbang Grand Turk, Bahama, dan diharapkan mendarat pukul 11.23.
Pesawat ini sebenarnya hampir menuntaskan perjalanannya. Hal ini diketahui dari kontak radio yang masih terdengar hingga pukul 11. Sesungguhnya memang tak ada yang mencurigakan. Kerusakan teknis juga tak pernah dilaporkan. Tetapi Boxcar tak pernah sampai tujuan.
“Dalam kontak radio terakhir tak ada indikasi apa-apa bahwa pesawat tengah mengalami masalah. Namun setelah itu kami kehilangan jejaknya,” begitu ungkap juru bicara Penyelamat Pantai Miami. “Besar kemungkinan pesawat mengalami masalah kendali arah (steering trouble) hingga nyasar ke lain arah,” tambahnya.
Beberapa pesawat yang pernah hilang di segitiga bermuda
Seketika itu pula tim SAR terbang menyapu wilayah seluas 100.000 mil persegi yang diduga menjadi tempat kandasnya C-119. Namun hasilnya benar-benar nihil. Sama seperti hilangnya pesawat-pesawat lainnya di wilayah ini, tak satu pun serpihan pesawat atau tubuh manusia ditemukan.
“Benar-benar aneh. Sebuah pesawat terbang ke arah selatan Bahama dan hilang begitu saja tanpa jejak,” demikian komentar seorang veteran penerbang Perang Dunia II.
Seseorang dari Tim SAR mengatakan, kemungkinan pesawat jatuh di antara Pulau Crooked dan Grand Turk. Bisa karena masalah struktur, ledakan, atau kerusakan mesin. Kalau memang pesawat meledak, kontak radio memang pasti tak akan pernah terjadi, tetapi seharusnya kami bisa menemukan serpihan pecahannya.
Begitu pula jika pesawat mengalami kerusakan, mestinya sang pilot bisa melakukan ditching (pendaratan darurat di atas air). Pasalnya, cuaca saat itu dalam keadaan baik. Dalam arti langit cerah, ombak hanya sekitar satu meter, dan angin hanya 15 knot. Analisis selanjutnya memang mengembang kemana-mana.
Namun tetap tidak menghasilkan apa-apa. Kasus C-119 Flying Boxcar pun terpendam begitu saja, sampai akhirnya pada tahun 1973 terbit artikel dari International UFO Bureau yang mengingatkan kembali sejumlah orang pada kasus ajaib tersebut. Dalam artikel ini dimuat kesaksian astronot Gemini IV, James McDivitt dan Edward H. White II, yang justru membuat runyam masalah.
Rupanya pada saat-saat di sekitar raibnya C-119, dia kebetulan tengah mengamati wilayah di sekitar Karibia. Gemini kebetulan memang sedang mengawang-awang di sana. Menurut catatan NASA, pada 3 sampai 7 Juni 1965 keduanya tengah melakukan eksperimen jalan-jalan ke luar kapsul Gemini dengan perlengkapan yang dirahasiakan.
Menurut Divitt, dia melihat sebuah pesawat tak dikenal (UFO) dengan semacam lengan mekanik kedapatan sedang meluncur di atas Karibia. Beberapa menit kemudian Ed White pun menyaksikan obyek lainnya yang serupa. Sejak itulah lalu merebak isu, C-119 diculik UFO. Para ilmuwan pun segera tertarik menguji kesaksian ini.
Tak mau percaya begitu saja, mereka mengkonfirmasi obyek yang dilihat kedua astronot dengan satelit-satelit yang ada disekitar Gemini IV. Boleh jadi ‘kan yang mereka salah lihat ? Maklum saat itu (hingga kini pun), banyak pihak masih menilai sektis terhadap kehadiran UFO. Ketika itu kepada kedua astronot disodori gambar Pegasus 2, satelit raksasa yang memang memiliki antene mirip lengan sepanjang 32 meter dan sejumlah sampah satelit yang ada di sekitar itu.
Namun baik dari bentuk dan jarak, mereka menyanggah jika telah salah lihat. “Sekali lagi saya tegaskan, dengan menyebut UFO ‘kan tak berarti saya menunjuk pesawat ruang angkasa dari planet lain. Pengertian UFO sangat universal. Bahwa jika saya melihat pesawat yang menurut penilaian saya tak saya kenal, tidakkah layak jika saya menyebutnya sebagai UFO?” sergah Divitt.
This diagram shows the current variation of the Earth magnetic field.
Begitulah kasus C-119 Flying Boxcar yang tak pernah terpecahkan hingga kini. Diantara kapal atau pesawat yang raib di wilayah Segitiga Bermuda kisahnya memang senantiasa sama. Terjadi ketika cuaca baik, tak ada masalah teknis, kontak radio berjalan biasa, tetapi si pelintas tiba-tiba menghilang begitu saja. Tanpa jejak sama sekali.
Banyak teori kemudian dihubung-hubungkan dengan segala kejadian di sana. Ada yang menyebut teori pelengkungan waktu, medan gravitasi terbalik, abrasi atmosfer, dan ada juga teori anomali magnetik-gravitasi.
Selain itu ada juga yang mengaitkannya dengan fenomena gampa laut, serangan gelombang tidal, hingga lubang hitam (black-hole) yang hanya terjadi di angkasa luar sana. Aneh-aneh memang analisanya, namun tetap saja tak ada satu pun yang bisa menjelaskannya.

Penyelidikan terakhir

Segitiga Bermuda di program TV Discovery & National Geographic tahun 2011 telah  menyelidiki bahwa terjadinya gangguan mesin, kompas & alat navigasi lain karena adanya daya magnet lokal (bukan magnet kutub) yang dihasilkan dari bawah kulit bumi pada daerah tersebut. Bukti baru ini telah diselidiki oleh para ahli dengan citra satelit di daerah tersebut.
Lalu para ahli beserta para pilot berpengalaman menyusuri daerah sekitarnya dan terbukti pula bahwa alat-alat navigasi dalam kokpit berubah dan terganggu. Karena  teknologi masa kini semakin canggih, maka dapat di pantau pula melalui satelit.
Lithosphere magnetic field
Dari citra satelit dengan infra red, ultra violet & lainnya yang memantau daerah itu telah terbukti bahwa di dalam kerak bumi pada daerah tersebut terdapat pusaran-pusaran lava panas yg menghasilkan gelombang-gelombang elektromagnet sampai menembus ke luar permukaan bumi.
Pusaran-pusaran panas yang berupa lava cair di dalam kerak bumi berputar seperti layaknya hurricane atau thypoon yang diameternya sangat besar dan terjadi di bawah kerak bumi.
Earth Magnetic Field
Jadi jika bumi diibaratkan balon yang diisi air, karet balon adalah kerak bumi sedangkan air dalam balon adalah magma/lava cair yang berada di dalam inti bumi.
Cairan lava dibawah mantel Bumi tersebut memiliki tekanan dan panas yang berbeda-beda.
Cairan tersebut juga memiliki “arus” dan dapat berputar-putar seperti jika kita baru merebus air.
Gerak arus lava yang berputar-putar tersebut ternyata juga menimbulkan medan magnetik.
Medan magnet yang dihasilkan dapat menimbulkan gelombang elektromagnet dan dapat mempengaruhi alam sekitarnya hingga ke atas kerak bumi / permukaan bumi dan membuat alat navigasi menjadi berantakan dan tak berfungsi sempurna.
Akibat peralatan navigasi yang terpengaruhi oleh medan magnet dari putaran-putaran lava di dalam mantel Bumi inilah yang akhirnya membuat peralatan navigasi terganggu dan membuat tujuan atau rute yang direncanakan akan dituju mengubah halauan sang kapten dan pilot.
Bermuda triangle magnetic field area
Hingga kini, tiada satupun ada orang yang selamat (survivor) yang berhasil ditemukan. Pada masa lalu teknologi tak secanggih sekarang, bangkai pesawatpun tak berbekas sama sekali. Oleh sebab itulah, pada masa lalu, teori mengenai medan magnet lokal akibat adanya putaran-putaran lava di dalam kerak Bumi bukan hanya satu-satunya teori.
Teori tentang akibat adanya campur tangan UFO atau pengaruh Geografi dan iklim (alamiah) serta pengaruh medan magnet, masih merupakan beberapa teori dari adanya teori-teori lainnya tentang Segitiga Bermuda ini. Selama itu belum mutlak pasti, misteri masih terbuka lebar.
Namun yang jelas dalam beberapa dekade terakhir, kecelakaan sangat jarang sekali terjadi bahkan bisa dibilang tak ada. Jika ini karena adanya konspirasi lain apalagi diluar domain sains, misalnya karena menyangkut alien, UFO, makhluk laut jahat, bahkan makhluk gaib, dajjal ataupun setan alas, atau bahkan gas methane, pasti kecelakaan akan terus terjadi hingga saat ini.
Kenapa dalam beberapa dekade ini tak ada lagi kecelakaan yang berarti di segitiga bermuda? Sebabnya adalah karena pada masa kini pesawat dan kapal laut tak lagi hanya menggunakan penunjuk arah yaitu Kompas saja. Namun pada masa kini semua transportasi tersebut sudah menggunakan sistim navigasi GPS (Global Positioning System) yang dipandu oleh minimal 3 buah satelit.
Itu sebabnya karena telah dipandu oleh satelit, dan tak lagi dipandu oleh magnet di kedua kutub Bumi, maka arah mata angin Utara, Selatan, Timur dan Barat akan lebih akurat dan takkan berpengaruh oleh medan magnet atau apapun itu.
Tapi, bagaimana dengan bangkai-bangkai kapal dan pesawat yang tak ditemukan? Bangkai-bangkai kapal apalagi pesawat tak semuanya dapat ditemukan karena dalamnya lautan di wilayah segitiga Bermuda. Belum lagi masalah “impact” saat pesawat jatuh dan tekanan air yang kuat saat tenggelam.
Apparently most of the ships met their fate as a result of the 200 square miles of coral reef surrounding the island rather than the infamous Bermuda Triangle’s influence.
Walau tak semuanya, namun nyaris semua posisi kapal-kapal karam itu telah diketahui keberadaannya, baik secara pencarian ataupun secara tak sengaja terdeteksi oleh sonar kapal yang sedang lewat.
Untuk sebuah pencarian janganlah sepelekan kawasan ini, kawasan segitiga bermuda sangat luas, bahkan lebih besar dan lebih luas dari pulau Kalimantan, namun ini lautan bebas, yang sangat sering dilalui puluhan badai (hurricane) ditiap tahunnya dan kadang juga lautannya berarus kuat.
Tapi dari sisi apapun, tak ada keuntungannya untuk mencari semua kapal-kapal dan pesawat tersebut. Secara biaya juga sangat besar, karena harus memakai robot yang dikendalikan dari jauh atau kapal selam khusus yang dapat menyelam di lautan yang dalamnya lebih dari 200 meter hingga ribuan meter. Bangkai kapal karam yang sangat dekat dengan permukaan laut saja tidak digubris apalagi yang ada dilaut yang sangat dalam?
Apa keuntungan yang dapat diperoleh dengan mencari bangkai-bangkai kapal tersebut? Secara nilai historikal juga tak sebanding dengan biaya yang akan dikeluarkan. Cobalah pencarian di google tentang penemuan-penemuan bangkai-bangkai kapal tersebut. Kebanyakan dapat terdeteksi oleh sonar, namun tak ada tindak lanjut, apalagi untuk ditelusuri, diselidiki atau diambil.
Kini, semua misteri telah usai, sudah tak ada lagi kecelakaan atau hilangnya pesawat dan kapal laut akibat salah navigasi di segitiga Bermuda hingga saat ini. Dan kini pula, saatnya si Dajjal pensiun, atau ngungsi ke planet lain. (sumber: icc.wp.com, Bermuda Triangle on National Geographic TV Channel)
Beberapa kapal yang hilang di Segitiga Bermuda:
USS Cyclops (AC-4) lost in 4 March 1918 en route from barbados to Baltimore. No traces are left behind. The ship and its crew and passengers are numbered 306 people vanished. This is the greatest loss of life in the history of the U.S. Navy–was not the outcome of the battle.
USS Nereus (AC-10) was a U.S. Navy ship during World War i. his name is taken from the Sea-God in the mythology of Greece 00 Nereus. Missing about 10 December 1941, en route to Portland, Maine from St. Thimas in the Virgin Island. As many as 61 crews participated were lost. Interestingly, Nereus was lost on the same route with USS Proteus that disappeared earlier.
USS Proteus (AC-9) is a Navy ships into merchant ships. No clear News newspaper since 23 November 1941.



Sumber             :  Indocropcirclearticle 

Tuesday, 28 February 2017

cerpen, ceritaku dihari itu. Angin dan Jejak cerita perjalananku



Goresan Angin dalam Jejak Cerita Perjalanan Menuju Selatan
Dingin. . . dingin udara di kamar menelimutiku.
Sejenak aku melihat langit-langit diatas kasurku. Tiba-tiba berdering sebuah nada yang tidak asing bagiku bersumber dari sebelah bantalku, ku ingat sejenak itu adalah nada dari smartphone jadul ku yang aku set sebelum aku tidur di malam itu. Sejenak ku terngiang bersama gelap kamar tidurku saat itu, kuingat aku punya janji dengan sahabat-sahabatku di Semarang. Sahabat yang mungkin saja adalah bermula dari sebuah mimpiku kubertemu dengan mereka saat ini. Dingin fajar yang menusuk kalbuku membawaku bangkit menuju kamar mandi untuk wudlu, kemudian ku  menunaikan sholat tahjjud. Dalam sujudku mengalir tetes demi tetes air mataku, teringat oleh mereka sahabatsahabatku yang bisa membuatku kuat berdiri. Mereka yang meyakinkan aku untuk kuat dan berfikir untuk bisa melanjutkan setiap asa ku. Perlahan kubangkit dan menyelesaikan sholatku.
Beberapa saat setelah itu aku bergegas untuk mandi. Guyuran air diatas kepalaku beberapa kali membuatku segar, namun beberapa kali hembusan angin dari celah-celah ventilasi kamar mandi membuat ku merasakan hawa dingin. Setelah beberapa lama ku berada di dalam kamar mandi akhirnya kusudahi mandiku lalu bergegas ku memakai pakaianku. Beberapa saat ku terduduk disuduk kamar diatas kasur, sambil terus mencoba menghubungi teman-teman dengan smartphone mungilku. Sejurus dengan itu angin fajar terus berhembus dan menerpa tubuhku, membuatku merasakan dingin. Namun dingin inilah yang membuatku merasa bahwa ada sosok yang bersamaku di pagi ini. Namun dalam hatiku berdoa bahwa cuaca hari ini tidak hujan. Sekali lagi ku pandangi smartphone miliku. Terbaca sebuah grup dalam whatsapp. Sempat vacuum selama beberapa hari namun akhirnya kembali menjadi salah satu yang membantu dalam komunikasi kami sebuah jalinan persahabatan yang aku sendiri berjanji akan menjaga jalinan persahabatan ini hingga nanti. Bahkan waktu pun tidak akan sanggup mengikis persahabatan kami.
Tik . . . tik. . . tik. . . . terdengar dari luar kamarsebuah tetesan kecil air dari genting. Mungkin saja hujan deras tadi malam masih membekas hingga fajar menjelang. Tetes ini menyejukkanku, mengingatkanku pada embun di pagi hari desaku desa kelahiranku yang masih selalu menjadi tujuanku untuk kembali. Tiba-tiba sebuah bunyi notifikasi dari smartphone yang ku genggam membuyarkan khayalanku. Sahabatku Agung berkata “aku sudah bangun”. Aku segera membalas “bagaimana dengan yang lain?” sesaat itu balasan dari seberang sana “aku habis mandi, asrama banyak orang jadi berani mandi =D “ haha aku tertawa membaca balasan dari sahabatku wanita yang menempati asrama atau biasanya di sebut Rusunawa Putri candanya kadang gajelas tapi membuatku nyaman dalam batinku nih Azizah pagi-pagi sudah membuatku tertaw. . . belum sempat menyelesaikan gumamku dalam hati sebuah balasan kembali lagi dalam grup kali ini Rahma ikut nimbrung “teman-teman udah pada mau berangkat ya? Hati-hati dijalan ya jangan lupa baca doa  and have fun” dengan emot sedihnya kembali membuatku sedih karena hari ini kita melakukan perjalanan hanya berempat karena sahabatku rahma besok pagi akan melakukan perjalanan menuju kampong halamannya yang sangat jauh dan paling jauh diantara kami berlima. Setelah nimbrung dalam gruoup aku teringat bahwa dari tadi kita yang berada di grup hanya berempat berarti kurang satu. Nah baru teringat bahwa sahabatku yang satu ini kena virus dariku yaitu susah bangun hehe dalam hatiku tertawa. Aku Tanya pada teman-teman dan kata mereka whatsapp nya off, jadi tak ada pilihan lain lagi segera kuambil kunci di atas rak buku samping kasur tidurku. Dalam dinginnya udara di luar sana aku tetap harus pergi ke kost temanku untuk membangunkannya. Perjalahan kubuka pintu luar seketika angin dngan kencang dari luar menerpa keras ke wajahku, dinginnya sungguh membuatku merasa igin balik berbaring di kasur apalagi dengan langit yang masih terlihat gelap dengan hanya bersinarkan cahaya bulan dan barisan bintang-bintang yang memang cahayanya tidak lebih terang dari cahaya matahari di pagi hari.namun, tekadku untuk persahabatan ini jauh lebih terang membuatku jalanan yang gelap terlihat terang dengan penglihatanku, sinar dari persahabatan ini. Kemudian ku melangkah menuju garasi motor-motor yang tersisa di sini karena sudah banyak yang balik kampong menikmati liburan semester. Bergegas ku keluarkan motorku lalu ku starter untuk memanasi mesin, beberapa saat setelah itu aku tarik gas motorku perlahan untuk melaju menuju kost temanku, dinginnya pagi dengan gelap cahaya di jalanan belakang Fakultas Bahasa dan Seni membuat bulu kudukku sedikit merinding. Sesaat sejenak telah terlewati dan kini aku melaju lagi menuju kost temanku yang masih belum bangun. Beberapa saat kemudian aku sampai di depan kost temanku danku langsung meakirkan motorku lalu bergegas menuju kamar temanku. “tok. . . tok. . . tokkk!! Tur. . . fathur. . .” ketokan kepintu kamar dan panggilan agak keras ke pada temanku. Seketika itu pintu terbuka dan perlahan terlihat muka yang tidak asing lagi bagiku namun kali ini dengan muka sedikit kucel dan kusut. Sambil menggosok matanya “apa lutt?” dengan raut muka yang masih mengantuk itu cukup membuatku ingin tertawa, namun aku hanya menjawab singkat “ayo bangun cepet kita akan melakukan trip”  dengan muka sedikit kaget ia menghampiri kasur nya kembali dan melemparkan tubuhnya ke kasur dan kembali berbaring “haa, lutfi ini baru jam berapa.. masih ngantuk.” Sejurus itu aku langsung ikut melomat ke kasur dan mengganggu usahanya untuk merem kembali. Dan alhasil diapun bangun lalu mandi. Ketika itu juga aku keluar dan teriak kepada Fatkhur “Tur aku balik kos dulu ya, sampai ketemu nanti ya” dan hanya suara guyuran airyang bercampur dengan suara tidak terlalu jelas dari kamr mandi dan lalu ku tancap gas menuju kostku.
Itu tadi ke Empat sahabatku di Semarang ini. Sahabat-sahabat yang selalu membuatku terbangkit dikala aku terjatuh. Panca Anucara Arsawati merupakan nama yang kupilih untuk persahabatan ini. Mempunyai makna 5 sahabat yang selalu berpikir dan bahagia. Begitu terkesan jikalau langkah ini berada bersama-sama mereka. Dari berbagai background yang berbeda di kehidupan awal bukan menyebabkan perpecahan namun membuat kita semakin kuat. “Azizah Nur Aini Muslichah” gadis dengan perawakan kecil ini berasal dari selatan tepatnya klaten dengan tutur kata halus cerminan oraang selatan kadang membuat aku gemes dengannya, nyaman ketika bersamanya. Terkadang sifat dewasaku menjadi kekanak-kanakan dan manja kepadanya. “Agung Putra Pratama”  yang satu ini adlah pribumi asli, hanya agunglah satu-satunya dari kita ber-lima yang asli kota Atlas. Dahulunya dia sangat pendiam namun akhir-akhir ini ketika kita berkumpul ternyata orangnya juga asyik dan agak gila juga becandanya. Nah pada hari ini dialah yang menjadi driver kita menuju selatan jawa. Sisi lainnya dia adalah sosok yang humoris juga hanya beberapa orang yang dapat becanda dengannya “Rahmawati Pratiwi” gadis mungil ini adalah pejuang dari luar Jawa berasal dari daratan Sumatra muara tebo Jambi, suka main gitar dan seni music, mungkin dari ke-lima sahabatku ini hanya aku yang tidak punya jiwa seni music. Semuanya hebat dalam seni dan music.  Suara-sara indah para sahabatku ini mugkin berpotensi jadi band ya hehe. “Fatkhurofiq” bocah yang dahulunya bermimpi di PGSD yang harus menata kembali mimpinya dan sekarang dia bersama kami, putra Brebes, kadang suka ngeluh terhadap sesuatu yang tidak penting namun juga suka becanda gajelas dan tiba-tiba nyanyi gajelas juga namun itulah yang kadang membuat kita tertawa mengurangi beban dalam menjalani tugas-tugas mata kuliah yang terkadang membuat kami lelah. Namun kebersamaan inilah yang mampu membuat  kami bisa sampai akhir semester satu dan meraih IP yang cukup sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Yang terakhir adalah aku “Muhammad Lutfi” orang yang kadang sok cool namun juga bisa membersamai siapapun. Tetap pada kata-kata awal Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. mungkin kami adalah sekumpulan orang aneh yang kadang tidak dilihat oleh siapapun. Namun suatu saat aku dan sahabat-sahabatku mampu meraih mimpi bersama-sama dan sampai saat itu semua prang akan bertepuk tangan atas karya keringat kami semua dan mereka akan berkata “dahulunya mereka bukan siapa-siapa”.
Hembusan angin pagi yang semilir berpadu bersama embun sejuk di pagi hari membangunkanku dari khayalanku diatas motor biru putih yang sedikit tua namun masih tetap kokoh tergilas oleh perkembangan zaman. Tanpa kusadari aku sudah sampai di depan rumah kecil persinggahanku di kota Atlas untuk mencari ilmu, segera ku masukkan dan kurapikan barisan motorku di garasi motor, kemudaian ku segara masuk menuju kamar. Udaranya sedikit hangat di dalam sini pikirku. Sejenak ku baringkan tubuh ini diatas kasur mungil di dalam kamar petak yang luasnya juga tidak seberapa. Tak ada beberapa menit ku termenung tiba-tiba aku dikagetkan dengan nada notifikasi dari smartphone ku. Tanpa membukanya aku mengambil gillete lalu ku menuju kamar mandi lalu kubersihkan mukaku. Lalu beberapa kali kubasuhkan air dari bak mandi ke arah wajahku hingga bersih. Lalu kubergegas menuju kamar untuk ganti baju dan beres-beres dengan barang yang akan aku bawa nantinya, kupilah-pilah lalu kumasukkan kedalam tas. Hufffhhtttt. Selesai juga akhirnya. Sebuah kata yang muncul lirih dari mulutku. Searah dengan itu aku pun kembali terduduk diatas kasurku. Kemudian aku mengambil smartphone mungilku yang berada di atas bantal dan mulai ku buka-buka chat grup bersama sahabat-sahabatku. Tidak ada pembahasan yang lain selain pemahasan persiapan pagi ini. Ulai aku scroll ke atas lalu kebawah dan kubaca chat mulai tadi aku tinggal ke kos fatkhur sampai saat ku baca sekarang ini. Aku pun ikut  nimbrung ngalor-ngidul dan beberapa saat kemudian Agung member aba-aba “OTW. . . OTW” saat kulihat jam menunjukan pukul 05.08 WIB tanpa membalasnya aku langsung mengambil tas dan ku gendong. Masih berfikir apa yang kurang kemudian aku ambil jaket dari tempt gantungan baju kemudian aku keluar kamar dan bergegeas menuju Gerbatama UNNES.
Langit gelap nan indah diatas langit kota Semarang, kota atlas arah masyarakat Jawa tengah berada. Gelap namun tampak indah dengan hiasan bintang-bintang kecil yang banyak terlihat sangat dekat diatas sana, tepat diatas kepala ini. Bulan tersenyum kepadaku. Semoga hari ini menjadi hari yang indah untuk persahabatan ini dalam pikirku. Sambil memakai sepatu putihku aku berdendang tanpa arah dan wujud. Hanya nada nada tak beraturan yang keluaar dari mulutku. Di temani hawa dingin yang menyelimuti badanku pun mulai terasa dingin. Ku bergegas bangkit dan segera ku melangkah. Langkah demi langkah terus membawaku berlalu menjauhi kontrakan ku. Ditemani daun-daun bamboo dan jati yang saling bergesekan seakan melambai dan mengucapkan kata selamat berlibur dan sampai ketemu lagi. Ku hanya tersenyum dan mempercepat langkahku. Melewati garis putih di jalanan belakang kampus yang hijau nan rindang dengan pohon-pohon di sekelilingnya. Sampai ku di depan gerbatama ku duduk-duduk sembari menikmati udara dingin yang mulai menjadi sejuk, kupandangi sekelilingku alam menjadi saksi keberadaanku pagi ini menanti hari indah bersama sahabat-sahabatku.  Masih dalam dudukku ku melihat kembali grup chat ku Tanya “Agung sampai mana?” jawaban singkat terlontar dari sudut sana “iya nih Agung dimana? Ko belum sampai rusun. Sudah nunggu nih” fatkhur ikut membalas dengan sederhana “aku udah di Mantulanang(sebuah gang kecil di belakang fakultas ilmu sosial arah ke kost fatkhur)” “santai semuanya aku juga sudah nunggu di gerbatama nih, mungkin Agung lupa jalan ke Unnes. Haha” gurau ku mencairkan suasana menunggu yang memang semua orang pun merasa bosan jika di suruh menunggu. Beberapa menit Agung pun tiba-tiba muncul di chat “hmm.. sampai dimana ya? Haha” dengan ia membalas pun sudah bisa aku tebak bahwa Agung sudah sampai rusun. Sesuai kesepakatan di hari lalu Rute Awal perjalanan adalah Rusun(Azizah)-Gerbatama(Aku)-Gg. Setanjung(Fatkhur).
Kulihat diatasku dedaunan bergerak terkena hembusan angin pagi. Langit mulai berganti gelap memulai terang kebiruan menandakan sang surya akan mulai muncul. Teringat bahwa di grup chat sudah sepi tanpa notifikasi. Baru ingin membuka lockscreen dari smartphoneku dari arah depanku melintas mobil putih mungil imut nggak terlalu besar juga tidak kecil dengan suara klakson dari mobil itu melintas dan menurunkuan kecepatannya hingga berhenti di seberang jalan sana. Terlihat Wajah Agung dengan senyumnya lalu melambaikan tangan ke arahku di tambahi dengan senyum Azizah ke aku disebelahnya. Hah. . . ini dia mereka baru nyampe ‘gumam dalam batinku. Tanpa berpikir apa-apa langsung kuberjalan kearah mobil putih yang telah menungguku di seberang jalan. Lansung ku buka pintu belakang karena depan udah penuh hehe. Belum sampai duduk Azizah menyapaku dengan suara lirihnya, Haiii Luvii. . . maaf ya lama tadi ngankutin barang-barangku dulu, mau sekalian pulang kampung hehe. Haha dasar cari tumpangan sekalian ya hihi ongkosnya tambah ya zi hahaha candaku dibarengi dengan ketawa agung. Ya udah yuh gung langsung saja berangkat ‘pintaku sambil menutup pintu mobil belakang. Eh tapi nanti mampir ke GSG dulu ya ke atm Mandiri mau ambil uang saku hehe ‘tambahku. Wkwk siap lut jawab singkat agung bersamaan dengan pijakan gas dan mobil mulai melaju meninggalkan Gerbang Utama universitas Negeri Semarang. Hana beberapa menit dari gerbatama kami sampai di GSG langsung ku turun menuju atm mandiri sementara Agung mulai pijak gas mobil untu merapikannya di Parkiran. Bergegas ku masuk atm dan mengeluarkan kartu debit mandiriku dari tas dan mengambil eberapa lembar uang dari mesin atm. Kukantongi lembaran uang tadi lalu keluar dari atm. Ku tengok parkiran ku cari mobil putih imut milik Agung kulihat dr sudut sebelah kiri parkiran dan sampai di tengah akhirnya kudapati mobil yang kucari kemudian kubergegas ke arah mobil itu dan langsung masuk kedalamnya. Tanpa aba-aba agung pun pancal gas. Sepertinya Agung bersemangat sekali ‘pikirku. Mobil melaju pelan ke arah selatan menuju Mantulanang untu menghampiri Fatkhur pasukan terakhir dalam perjalanan ini, sangat disayangkan Rahma tidak bisa ikut. Tapi ya sudahlah suatu saat nanti akan ada waktu dimana kita bisa pergi bersama-sama berlima. 3 menit berjalan kami sampai di depan mantulanang. Terlihat fatkhur berjalan menghampiri kami. “zi kamu belakang aja nanti aku yang depan nemenin Agung” kataku kepada Azizah. Azizahpun membuka pintu lalu keluar berbarengan dengan Fatkhur yang sampai disamping mobil. “tur kamu mau depan apa belakang?” tanyaku. “depan aja deh” jawab singkat dari Fatkhur. Ohhh Kamu yang di depan Fatkh ‘tambah Azizah beralih membuka pintu belakang dan langsung masuk duduk dan menutupnya. Sembari beres-beres barang bawaan kami pun ngobrol-ngobrol ringan mencairkan suasana. Beres pak siap gas hehe ‘canda ku yang terakhir sebelum berangkat. 
Negeri indah ini sungguh luar biasa alam indah hijau pepohonan biru langit dan lelautan benar saja jika orang bilang tanah ini tanah surge. Kaki gunung Ungaran tempat saat ini ku mengais ilmu menambah takjubnya diriku. Bukan kota namun keramaiannya menyamai kota namun dikala musim liburan terasa sepi dan sunyi. Hanya bangunan-bangunan rumah-rumah yang kulihat di sepanjang jalan melewati daerah Sekaran. Mobil putih yang dikendarai Agung melaju sedikit lebih cepat dengan kondisi dan suasana jalanan yang sepi di temani music play dari dashboard depan menambahi rasa dingin yang menyelimuti seisi mobil hanya dengan AC control yang menunjuk angka satu. Kulihat Agung membelokan mobilnnya masuk kearah SPBU Bensin untuk memberi minum mobil imut ini. Dengan cirri khas anak perantauan kita pun sedikit gaduh di dalam mobil menumpuk lembaran uang untuk membelikan minum untuk kendaraan yang akan menghantarkan kami berjalan-jalan nantinya. Agung membuka kaca nya dan dikasihkan beberapa lembar uang kepada petugas di SPBU tersebut dengan menyebutkan nominal untuk mengisi tangki bahan bakar si Putih ini. Diselingi dengan candaan dari petugas SPBU tersebut membuat kami yang didalam mobil pun tertawa, tanpa terasa perut si Putih pun penuh sebelum sampai di nominal yang diminta Agung dan di kembalikan kembali kelebihan uang yang di berikan. Kami pun langsung tancap gas kembali berlalu meninggalkan petugas SPBU yang konyol tadi. Kembali ku pandagi dari kaca mobil bagaimana rindangnya pohon nan indah yang selalu membuatku takjub akan Negeri ini. Awan-awan yang bergerak di atas sana seolah menemani perjalanan ini. Meter demi meter jarak telah kami tempuh hingga kiloan meter pun telah kita lalui tak terasa walaupun Agung hanya memacu mobilnya berjalan dengan kecepatan 60KMpH itu tak membuat perjalanan ini terasa lama namun menambahi indahnya ku menikmati segala apa yang ada diluar sana dari tempat dudukku ku dibuat tepukau akn apa yang tellah kami lalu. Sejenak ku dibuat nostalgia disaat ku menengok ke arah kanan. Kampoeng kopi banaran ungaran mengingatkan aku tentang masa LDK OSIS saat masa SMA hanya sejenak kumampu mengingat masa itu si putih tetap melaju meninggalkan setitik kenanganku di tempat itu.
 Selamat jalan kota Salatiga Kab Semarang tulisan tersebut ang dapat aku baca dari kaca di sampingku. Di dalam mobil suasana sudah mulai sunyi. Dinginpun semakin menyelimuti bukan hanya kami yang terasa dingin. Kulihat di depan Agung focus dengan jalanan dan fatkhur yang disebelahnya sedang asyik dengan gadgednya dan juga mengabadikan momen perjalanan dengan membuat sebuah rekaman video dengan smartphone miliknya. Hanya music yang terdengar didalam mobil ini. Ah sudahlah pikirku mungkin belum saatnya mengganggu mereka dalam fikirku. Kembali kupalingkan wajahkku ke arah kanan ke kaca pintu mobil untuk melihat jalanan ini. Jalanan yang mungkin pertama kalinya aku lewati. Diatas jalan aspal hitam sebuah kisah baruku melewatinya menuju arah selatan negeri istimewa Yogyakarta.  Kulupa tadi menengok sebelahku ada gadis lucu sahabatku juga. Sekejap itu aku pandangi Azizah di terlihat mulai pucat. Sahabatku yang satu ini mempunya kondisi psikis yang buruk ketika naik alat transportasi yang tertutup namun yang kulihat kali ini adalah dia kedinginan. Segera kutanya apakah dia baik-baik saja dia hanya mengangguk namun masih tersenyum. Dari depan fatkhur menoleh kebelakang terkaget dan Agung hanya melihat dari kaca kecil di dalam mobil. Azizah pun hanya tersenyum dan mengelak dia berkata tidak apa-apa. “Yaqin??” dengan nada khasnya dia pun berbalik badan dan melihat ke depan lagi. ini merupakan pertanyaan khas fatkhur yang sering membuat orang marah ini pun seketika membuat suasana di dalam mobil menjadi cair dan tertawa dari sudut kanan depan maupun dari fatkhur sendiri aku hanya tersenyum simpul lalu mengambil jaketku di bagasi belakang tanpa membalikkan badanku tangaku berhasil mendapati jaketku, kutarik dan kubawa kedepan lalu ku buat untuk menutupi tubuh Azizah. Dia hanya tersenyum manis kepadaku. Mungkin ya memang wanita itu sungguh sulit di mengerti. Bicaranya sih bilang tidak kenapa-kenapa dibalik itu semua aku mengerti. Dengan kondisinya yang sekarang pun kurasa ketakutan dalam dirinya tidak akan semudah itu hilang.  Kelihat didepan focus pada jalanan dan music yang mengiringi perjalanan kita. Dengan kondisi di depan yang seperti itu aku mendekati sahabatku Azizah lalu kudekap erat tubuhnya sembari  berdoa dia kuat melakukan perjalanan selama mungkin setengah hari berada di dalam kendaraan yang dari dahulu ia takuti. Dia berbisik pelan di telingaku. Aku mual bolehkah aku bersandar? Tanyanya kepadaku. Aku pun mengangguk dan mendekatkan diriki. Dan iapun bersandar kepadaku. Sampai detik inipun ia masih berpolah seakan kuat dan masih menjadi petunjuk jalan bagi peralanan kami.  Berada dakam sandarannya membuatku sedikit merasa nyaman dalam perjalananku kali ini. Sungguh ini adalah perjalanan yang sangat berkesan. Untuk kali pertamanya aku hangout bersama sahabat-sahabatku. Aku dari kecil memang sangat suka dengan perjalanan. Namun ini adalah perjalanan yang baru kurasakan. Kupandangi diluar sana terlihat satu puncak gunung dengan bentuk lanciptunggal yang pertama kali kulihat. Biasanya yang kulihat adalah 3 puncak tinggi di pegunungan muria. Namun kali ini puncak gunung itu menatapku dan aku pun berbalik melihatnya dan mengucapkan perkataan-perkataan dalam hati. “persahabatan kami akan membawa kebahagiaan yang besar dan kami akan menggapai mimpi-mimpi kami bersama, mimpi yang lebih tinggi dari puncak mu” kubahagia bersama sahabat-sahabatku. Seperti pepatah kuno china yang sampai saat ini masih teringat bagaiman jika kita ingin menarik nasib yang baik,menghabiskan satu sen dengan teman lama, berbagi kesenangan lama dengan teman baru dan mengangkat hati seorang sahabat sejati dengan menulis namanya di sayap naga.
Laju mobil yang ku naiki terasa sudah menempuh jarak yang sangat jauh.aku tidak tahu sudah berapa kilometer jarak yang telah di tempuh. Daerah yang baru saj aku lihat disisi kanan dan kiri sudut sorot mataku. Dingin AC mulai membuat kakiku kedinginan. Ku lihat Azizah tertidur dan di depan Agung dan fatkhur focus pada jalanan dengan hanya sesekali suara obrolan yang ku dengarkan dari mereka berdua. Kini aku yang menjadi petunjuk jalan dengan bantuan gps dan google maps dari smartphone kecil di genggamanku. Kulihat diatas sana terdapat beberapa Awan mendung yang menutupi birunya langit dan putihnya awan. Hanya Belok kanan kiri yang ku ucapkan kepada Agung. Dengan suasana yang makin lama mendung sangat terasa walaupun belum semuanya rata mendung masih terdapat sinar matahari yang masih dapat menembus ke Bumi di sela-sela awan pekat. Kini suasana di dalam mobil mulai tegang tanpa tau arah yang pasti hanya mengandalkan papan plang penunjuk jalan di persimpangan jalan dan juga gMaps kamipun mulai was-was dan menegangkan.  Azizah satu-satunya yang pernah ketempat yang kita tuju tidak kuat dengan perjalanan sementara diluar sana mendung mulai menyurutkan semangat kami. Hitam pekat mulai mengurangi pandangan kami ke jalanan. Beberapa kaali hanya memberikan aba-aba dari belakang lurus belok kiri maupun kanan. Terlihat disebelah ku azizah mulai terbangun dan muntah-muntah, sepertinya dia sudah sampai batasnya dalam fikirku. Terlihat di sebelah kiri SMA 3 Klaten. Dia hanya berucap ooo sudah sampai disini ya. Sepertinya dia punya cerita dengan sesorang di sekolah ini. Tak lama ku hiraukan ku kembali focus kedepan ‘lurus gung kataku. Tiba-tiba azizah kembali muntah-muntah lagi. Beberapa lama kemudian ia selesei dengan muntahnya dan bersandar ke aku. panas tubuhny. Dia berkata Aku tidak kuat dengan suara terisak kurasa dia menangis. Aku sudah nggak kuat vi. Anterin aku balik kerumah saja. Beberapa kali suara tersebut keluar dari mutnya dengan perkataan yang sama namun dengan suara yang makin keras. Hal ini semakin membuatku bingung. Mau tetap melanjutkan perjalanan atau berhenti berbalik arah dan menghantarkan gadis yang dalam kondisi lemah ini balik.   Gejolak tersebut muncul dari dalam diriku. Aku tak tahu lagi mana yang harus kupilih. Perkataan darinya makin keras membuat Agung dan Fatkhur mendengarnya. Mereka ikut bingung. Seisi mobil dalam suasana kebingungan. Kita bertiga sebagai pria tidak mungkin membiarkan seorang gadis yang tengah lemah larut dalam tangisnya dan kecapaiannya. Fatkur hanya berkata Azizah apa kabar? Masih kuat kan? Azizah hanya menjawabnya dengan tangisnannya dan kalimat yang sama. Sementara raut muka Agung di depan juga terlihat bingung. Aku hanya terus melanjutkan intruksiku untuk melanjutkan jalan yang sudah kutandai di google maps. Sementara Agung mulai perlahan tenang terhadap jalan. Suasana di belakang masih sama. Ku masih terpaku dalam kepanikanku. Bersama dengan kucoba menenangkan Azizah. Namun sulit menenangkannyadalam kondisinya yang mungkin jika aku di posisinya aku memilih untuk berhenti dan turun. Namun itu bukan jalan yang terbaik dengan hanya memikirkannya. Kembali dia muntah-muntah untuk yang kedua kalinya. Sudah habis 2 plastik yang ia bawa. Kini jika ia muntah maka tidak akan ada lagi plastic untuk menampung muntahannya. Kulihat dia terkulai lemas bersandar di pintu. Mukanya mulai lesu. Tanpa tenaga dan semangat seperti saat berangkat.  Berat rasanya melanjutkan perjalanan. Kembali dia menangis dan memelukku bilang dia ingin pulang saja. Waktu terasa berhenti menyerangku. Pupus sepertinya harapanku untuk kesekian kalinya untuk pergi bersama sahabatku dari dahulu hingga detik saat itu moment yang sudah aku impikan sejak lama.  Aku juga tidak ingin membiarkan egoku menyakiti salah satu sahabatku.
Hijau hamparan sawah diluar sana sedikit mengurangi pikiranku. Kubuka sedikit kaca mobil di sebelahku. Dinginnya AC sdikit berkurang dan berganti dengan hembusan-hembusan angin yang semilir membuat fikiranku sedikit Adem. Azizah masih sedikit terisak karena merasa tidak dituruti keinginannya untuk pulang saja. Kucaba menepuk pundaknya. Dan mencoba berbicara kepadanya. Kamu sudah tidak kuat zi? Dia pun hanya mengangguk di sertai isak tangisnya. Gini deh. Ini kita berhenti dulu ya, beli maem pas semuana juga belum sarapan, gimana? Kamu ingin makan apa tanyaku kepadanya. Dia terlihat sedikit tenang dengan perlahan dia pun menjawab lirih, iya deh aku mau maem yang anget-anget dan es. Kutawari berbagai macam makanan namun dia tidak mau, setelah beberapa lama negosiasi dengannya Akhornya dia menjawab pengen soto lalu ku intruksikan kepada Agung ‘gung nanti kalau ada warung Soto Belok ya kita sarapan dulu. Agungpun menjawab Iya. Fatkhur disebelahnya juga ikut menjawab, iya nih aku juga belum sarapan nih, ya udah yuh cuss. Kemudian kita melanjutkan perjalanan sembari melihat kanan kiri mencari warung Soto. Kurasakan Angin disini membuatku sedikit nyaman. “Klaten” dalam hatiku ku sedikit mengagumimu. Ini kali pertama ku memijakkan diriku disini. Ku terbuai Akan hamparan laut Hijau sawah yang menjadi lahan suburmu. Ku hembuskan nafasku bersamaan dengan Angin yang menerpa wajahku. Kembali ku pandangi alam di sebelah kanan ku. Mungkin Angin ini yang akan menjadi satu cerita berkesanku. Menjadi goresan kisahku menuju jalan keselatan. Angin semilirmu tak akan kulupa. Terimakasih telah menemani perjalananku.lamunanku berhenti dikala kulihat di depan sana terlihat tulisan SOTO. Ku bilang ke Agung untuk menepi. Perlahan agung menurunkan kecepatan laju mobil imut ini. Mobilpun berhenti tepat di depan warung makan yang telah kutunjuk tadi. Azizah langsung terbangun dan merapikan jilbab merah muda yang di kenakannya. Sementara Fatkhur turun Agung menunggu Azizah dan Aku keluar, beberapa saat kami bertigapun menyusul Fatkhur turun. Azizah yang ttadinya lesu kini mulai terlihat ceria lagi. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dilanjutkan senyumannya melihat kakinya ngapak ditanah. Aku Fatkur dan Agung menyambung senyumnya sesaat setelah nya. Dan tanpa sesuatu yang jelas kami tertawa tanpa alasan. Mungkin ininlah rasanya persahabatan.  Perasaanku lebih tenang dan damai setelah melihat senyum mereka.

sebuah susunan bata tanpa acian semen yang Nampak rapi dihadapakanku. Nuansa tradisional namun bangunannya tertata rapi. Pengunjungnya ramai. Suara sedikit gauh dari para pengunjung warung makan ini membuatku lapar. Ku lihat menu makanannya ada berbagai varian soto dan minuman yang ditawarkan. Langsung kami berempat masuk berbarengan dan mengambil posisi tempat duduk yang kita inginkan. Kemudian kutanya kepada ketiga sahabatku ingin pesan apa. Mereka pun menjawab saling bersahutan seperti burung berkicau. Lucu dan nyaman ketika bersama mereka. Setelah sudah menentukan pesanannya akhirnya aku dan Fatkhur memesannya. “Bu, soto Ayamnya 4 nggih” ucap fakhur dilanjutkan jawaban dari ibu nya “minume nopo nggih mas?” Esteh 2 the anget setunggal es jeruknya setunggal ‘sahutku. Nggih ditunggu sekedap nggih mas, monggo ‘tutur ibu mempersilahkan kepada kami Suwun Bu ‘ucap terimakasih kami dan kembali menuju tempat di kejauhan sana yang terlihat Azizah dan Agung yang sudah terduduk manis di kursi dampar kayu. Aku dan Fatkhur sgera menyusul Agung dan Azizah duduk di tempat duduk itu. Kamipun ngobrol-ngobrol bareng untuk mencairkan suasana tegang di dalam mobil dari tadi.  Azizah terlihat sangat ceria sekarang. Agung juga ikut berbincang-bincak gajelas dengan kami. Canda tawaini sedikit mengurangi rasa lelah di perjalanan yang sudah kami lalui hampir tiga jam setengah. Tak terrasa dengan candaan kita makanan dan minuman yang kita pesan pun sampai, dibagikan satu persatu oleh pelayan warung makan tersebut. Kupandangi semangkuk soto di hadapanku. Hehe ternyata soto di Klaten beda dengan soto di daerahku, dari semua sajian makanan yang dimeja makan tersebut berbeda karakteristiknya dari semangkuk soto sampai gorengan-gorengannya pun berbeda. Dari tekstur dan bentuknya ‘gumamku dalam hati. Kini ketiga sahabatku tadi sudah meluakan ketegangan yang terjadi sebelumnya. Kulihat mereka sudah menyantap sajian makanan dari warung makan ini dengan lahap dan berirama sambil sesekalli melirik satu sama lain. Kembali kulihat mangkuk di hadapanku rasanya ingin kusantap namun aku lupa bilang tidak memakai kol dan toge terpaksa aku harus membuangnya terlebih dahulu.  Seusai bersih hanya meninggalkan satu dua toge akupun segera menyantap soto segar dihadapanku. Setelah kucoba ternyata rasanya tidak jauh beda dengan soto di daerahku. hanya kuahnya yang membedakannya santan yang biasanya dipakai untuk memperkental kuah kalu didaerahku disini tidak memakai santan. Namun tak terlalu ku hiraukan dan sekarang aku lanjutkan menghabiskan sajian makanan tersebut. Sendok demi sendok kulahap habis soto tersebut. Segera kuambil tisu didepan Agung. Ku usapkan ke bibirku yang masih terasa ada bekas kuah soto. Kulihat Fathur Agung dan Azizah juga sudah selesai menghabiskan semangkuk soto dihadapannya yang tersisa kini hanyalah mangkuk dengan sisa kuah sedikit dan minuman pesanannya masing-masing. Sambil berbincang-bincang kamipun tak lupan member kabar kepada sahabat kami Rahma yang tidak bisa ikut. Kini kami pun bercanda kembali, kali ini si Fatkhur yang merupakan raja kritikan mulai ngebanyol tentang makanan sajian yang di hadapannya. Makanan disini kok beda ya. Namun masih sesuai dengan lidahku lhoohh ‘dengan nada bicaranya yang khaas kamipun mulai saling membahas perbedaan mengenai makan-makanan dari daerah masing-masing. Lama kami bercanda dengan makanan dihadapanku kulihat satu persatu lagi sajian makanan di hadapan kami tiba-tiba mataku terhenti di salah satu makanan yaitu tahu. Mungkin jika bilang tahu itu sudah tak asing lagi bukan. Namun kali ini tahunya teksturnya itu beda dengan daerahku. mempunyai tekstur dengan pori-pori besar dan banyak, seperti menggembung dan tak beerisi, tak seperti tahu ditempatku yang padat berisi. Terus kupandangi lagi dan lagi ku Tanya-tanya mengenai tahu ini, namun agung dan fatkhur sama sama shock dengan tahu ini. Ah emang aneh ya makanan disini hehe ‘dengan sedikit melirik AZizah berharap dia menjelaskan. Dengan nada santai dia pun menjelaskan. Ah lama ia menjelaskan kami bertiga hanya mlongo dengan sesekali menyrutup minuman kita. Shruuuppp. . . sampai di serutupan terakhirku tiba-tiba aku kebelet pipis. Segera ku ke kamar kecil yang ada di warung makan ini. Ku Tanya kepada pelayan yang ada ditunjukkan sebuah jalan ke kamar kecil. Akupun segera masuk tempat yang di tunjukan pelayan tersebut. AH lega dalam fikirku hehe. Langsung saja ku balik ketempat makan tadi. Terlihat terjadi perbincangan antara ketiga temanku. Setelah ku mendekat ternyata tadi selama aku kebelakang Azizah membayari makan kami. Kebiasaan nih anak ‘gumamku. Yaudah yuk keluar ‘ajakku keteman-temanku dengan tak lupa mengucap terimakasih kepada Sahabatku Azizah.  Sambil berjalan kedepan warung makan ini menuju si putih imut ku lihat cahaya dari pintu depan rasanya lega ketegangan tadi berakhir.
Cahaya diluar kian terliahat. Langkah kami beriringan berjalan. Hembusan semilir angin tipis kearah kami. Pintu indah ini adalah satu jejak saksi pijakan kami pernah mengapakkan kaki kami disini. Sampai pijakan kami ditanah ini. Kulihat keatas mendung mulai bergeser menuju utara dan cerahnya langit kembali terlihat. Dibawah pohon karsem udara di pagi menjelang siang ini masih sejuk. Semerbak angin bersih udara Jalanan desa begitu segar tanpa polusi berlebihan dari kendaraan bermotor. Kami duduk-duduk sejenak dibawah pohon teras rumah makan. Masih ingin menghirup udara segar sebelum melanjutkan perjalanan. Angin ini menggoreskan sebuah cerita jejak-jejak pijakan kaki kebersamaan kita. Panca Anucara ARsawati. Ingin rasanya ku berteriak dengan nama tersebut. Belum sempat berteriak ada pak penjaga parkir mendekati kami dan ikut nimbrung. Lucu candaannya membuat kita semua tertawa dan cukup terhibur. Dengan Azizah yang terduduk melamun pun masih di ejek dan di goda dengan caandaannya untuk tertawa. Bahkan setelah aku ingin mencarikan plastic tuk Sahabatku aku di bantu pak Jukir dan di mintakannya plastic kedalam lalu dikasihkan ke aku. kuucapkan terimakasih kepada bapak nya dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan. 
Kembali ku buka gMaps dari smartphone mungilku. Lalu ku intruksikan kepada Agung. Dengan nafas sedikit lega Akhirnya kami tetap pada tujuan Awal kita yakni ke Gunuung Kidul. Namun ku belum sepenuhnya lega. Karena mulai dari sinilah perjalanan akan semakin berat walaupun terlihat Semuanya kembali semangat, Agung menyetir dengan senyumnya, Fatkhur dengan nada-nada bulat senandungnya dan Azizah dengan wajah berseri semangatnya yang kembali dengan hilangnya ketakutan yang ada dalam raut wajahnya. Semua ini hanyalah awal orang dahulu berkata dalam perjalanan 1000km di 999km itu hanyalah perjalanan ringan dan 1km itulah ang sesungguhnya antara maju dengan resiko besar atau mundur dengan keputusasaan,  kulihat pohon demi pohon terlewati dengan tanda di gpsku sebentar lagi kita akan melewati perbatasan antara klaten dan Yogyakarta dan langsung berada dikawasan Gunung kidul. Dengan bergantinya mendung yang berganti panas terik matahari tanda siang menjelang pukul 10.22a.m yang kulihat dalam smartphoneku. Ini akan menjadi akhir perjalanan ini akan semakin sulit.  Terlihat dikanan kiri sudah mulai banyak pepohonan rimbun alam asri nan alami bukit-bukit tinggi dengan tumpukan pohon menjadi hiasan alam indah, jalanan yang kian menyempit untuk kita lewati. Hanya rumah-rumah kecil dusun kecil yang kami lewati, padi yang terhampar luas menambahi keindahan yang terlewati. Jalan berkelok dengan tanjakan-tanjakan indahnya pertanda perjalanan kami sudah sampai di Deretan Gunung kidul.  Pegunungan ini kira-kira ada tujuh lapis nantinya akan kita lewati ‘penjelasan Azizah membuyarkan lamunanku. Terlihat dari tatapan matanya ia pun sedikit dalam lamunannya melihat jalanan yang sudah lama tak di lewatinya. Mungkin lebih dari dua tahun lanya ia sudah tak melewatinya, mungkin juga melepas rindu dirinya akan kampong halaman dengan sudah lama ia sudah tak pulang ke kampong halamannya. Ku tersenyum melihat tatapan indahnya.  Jalanan ini berliku seperti kehidupan sesekali terdapat persimpangan yang membuat bingung dan bimbang untuk memilihnya. Di depan terlihat jalan bercabang, ambil kiri gung ‘kataku. Dan mobil terus melaju kedepan dengan kecepatan sedang tanjakan demi tanjakan kita lewati, kini tanjakan yang agak tinggi dan terjal kami lewati menakutkan, dengan jalan sempit ini kami terus melewati jalanan ini, dibalik terjarnya tanjakan tersebut, dari sebelah kiri melihatkan bagaimana pemandangan Alam yang sangat indah, Kemudian Azizah sedikit berbicar dengan cletuknnya mengenai bukit bintang, dia sudah seperti pemandu wisata dalam benakku. Perjalanan terus berlanjut dengan terus melajunya si putih imut yang kami kendarai.
Lama sudah kami berada didalam mobil namun tan kunjung mendapati tanda akan segera sampai di lokasi. Naik terun kelok jalan sudah kami lalui. Kulihat smartphoneku sudah lost jaringan internet. Kini tinggal gps dan jalan yang sudah ku tandai. Semakin lama yang kurasakan hanyalah bahwa yang terlewati adalah perjalanan ini semakin masuk jauh kedalam hutan.  Dengan kelokan jalan yang sangat terjal membuat semua orang merasakan pusing Azizah sudah mengisyaratkan bahwa dia mulai tidak seperti tadi, mukanya kembali pucat pasi menandakan bahwa kondisinya sudah tidak fit lagi. Kulihat Agung juga sudah sedikit lesu menyetir moil hampir setengah hari tanpa ada yang menggantikan, Fatkhur juga kelihatan lemas apalagi ditambah cuaca panas yang menyelimuti daerah pegunungan disiang hari ini membuatnya begitu letih. Huekk ‘kulihat Azizahmenutup mulutnya dengan kedua tangannya, ku ambilkan satu kantong plastic hitam pemberian bapak tukang parkir yang tdi.  Dia mulai muntah-muntah hebat. Sampai beberapa menitan ia baru selesai, ku sodorkan tisu untuk mengusap bibirnya, kini iapun tertidur di pangkuanku dan sedikit merintih kesakitan namun nadanya lirih, ku coba mengusap ubun-ubun kepalanya untuk sedikit membuatnya tenang. Jalan yang kami lewati kini benarlah seperti hutan tak berpenghuni, dengan jalan yang hanya setapak semobil kecil ini dengan jalan yang berkolok idahnya disapu dengan gerakan belokan-belokan indah dari Agungpun kini menambah pusing Sahabat-sahabatku, didepan Fatkhur sudah tertidur sengan pulasnya, Azizahpun juga sudah memejamkan mata dengan sesekali gerakan tubuhnya. Smartphone yang kugenggam juga sudah kehabisan daya baterai maupun Asupan Jaringan, perjalanan kita kini hanya mengenakan feeling dalam beberapa pilihan jalanan di persimpangan, hawa panas terkadan juga membuatku pusing, letih dan mengantuk. Namun inilah sulitnya perjalanan Akhir yang sudah aku fikirkan sejak tadi. Aba-aba kiri kananku hanya menggunakan feeling ku tanpa tahu mana arah yang sejatinya benar, tak ada minuman kini kita harus melawan medan terjal kelokan tajam khas pegunungan, udara panas siang hari dan juga rasa kantuk yang mulai menyerang. Azizah kembali bangun dan muntah-muntah lagi kini plastic terakhir yang kami punya, mau tidak mau harus cepat sampai, kini wajah Azizah Nampak semakin lesu bersandar dalam kaca, namun tidak mengeluh dan ingin pulang. Kutarik kembali kepalanya kepangkuanku, kutahu jalanan yang seperti pasti tambah membuatnya berputar kepalanya ditambah hawa panas ini kuhanya termenung bisakah kita mencapai arah yang sebenarnya. Sudah satu jam setengahan kita berada dalam perjalanan dari warung makan soto tadi, sudah lama ku tak melihat belokan. Yang ada hanyalah beberapa bekas galian Karst dipegunungan ini. Mobil terus melaju, kubuka sedidkit kaca mobil. Angin sepoi sepoi mulai menjalari tubuhku. Angin lah yang semenjak tadi sealu menenangkanku. Kini udara pengap panas mulai terobati dengan Angin segar. Pegunungan indah dengan susunan batuan Alami yang rapi nan indah yang baru juga bagiku. Ku terkagum dengan perjalanan ini walaupun banyak sekali yang terlalui canda suka maupun letih susah namun inilah perjalanan indah dengan jejak-jejak kami akan abadi tak tergerus oleh zaman. Kenangan perjalanan ini dalam sebuah goresan angin yang juga akan abadi menjadi cerita di masa yang akan datang. Angin oh Angin kau membuatku nyaman disini dengan sosok gadis kuat dengan senyumnya yang berada dalam pangkuanku dengan pria pendiam namun kuat dan pria berkacamata dengan nada shimponinya juga dengan gadis jauh yang masih support walaupun dia tak mampu membersamai perjalanan ini. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan bersamaan dengan semilir angin ‘Huffffhhhff. . . kupejamkan mataku sejenak kurasa jalanan setapak ini adalah jalan Aspal terakhr kami, kubuka pejaman mataku perlahan dan kulihat beberapa meter di depan ada pal gapura masuk destinasi wisata gunung kidul,ku lega Akhirnya ‘suara dalam hatiku dengan senyum sedikit kearah depan. Sebuah kesabaran ini akhirnya menemui titik yang mulai menyejukkan jiwa.
Dengan laju yang mulai pelan. Agungpun berhenti tepat di samping petugas yang menghentikannya tadi. Bersamaan dengan itu ku lihat Fatkhur sudah terbangun dari tidurny dan juga Azizah yang sudah membuka matanya.terdengar bincang-bincang Agung dan Fatkhur dengan petugas penjaga yang ku dengar tiket masuknya 10.000 per anak, cukup murah meurutku karena dengan biaya operasional segitu kita dapat menikmati beberapa pantai yang ada di gunung kidul yang jumlahnya lebih dari 12 pantai. Disodorkan selembar uang biru dari Agung lalu di kasihkannya empat tiket dan juga kembalian. Kamipun segera tancap gas kembali. Dengan jalanan yang tidak terlalu terjal kamipun melaju sedikit kecang ditambah jalanan Aspal yang terlihat masih hitam yang sepertinya masih baru.
Musik play menemani perjalanan terakhir kami. Bebeerapa menit kami telah berjalan menjauhi pal gapura tadi. Yang ada di fikiran kami kini hanyalah cepat sampai dan memijakkan kaki kembali di bumi indah, negeri penuh nuansa. Eksotisnya pantai dan juga alam negeri mataram yang masih terjaga hingga kini. Hanya beberapaa tanjakan yang kami lewati. Ditemani tebing-tebing indah di sebelah kanan kiri kami. Kulihat di depan ada sebuah tanjakan yang tinggi kubecanda dengan teman-temanku, “ya ini setelah kita melewati tanjakan ini, kita akan melihat pantai indah ini diiaa” semuanya terpaku melihat kedepan da n mereka semuanya kecewa karena yang terlihat masihlah gundukan tanah dengan pepohonan, hehe mereka menghembuskan nafas berbarengan. Hehe namun ini belumm berakhir tinggal sedikit lagi kita menggapai tujuan kita. Senandung music dari sound menbuat keheningan sesaat di dalam mobil dengan play radio Dakocan. Lucu karena paduan Dangdut koplo enak tenan ini baru kutemui juga. Banyak sesuatu yang baru yang kutemukan di dalam perjalanan ini. lagu kemesraan turut menemmani perjalanan akhir ini dari penyiar radio tersebut. Mobil yang ku naiki ini berasa mlaju berirama beriringan dengan music play yang kudengarkan. Tak terasa perjalanan kami menuai titik hasil. Pantai indah dengan tebing-tebing indah menyatu.
Persimpangan jalan dengan tugu kokoh berdiri menjulang tegak. Bus-bus pariwisata sudah banyak berjejeran. Riuh-riu suara pengunjung dipadu dengan suara larian diatas deburan pasir putih pantai sadranan, tua muda remaja dan anak-anak tumpah ruah dalam kegembiraan tebing-tebing indah di sisi mereka dan biru air laut berada disisi yang berbeda dengan pijakan pasir menambah eksotisnya pantai ini. sampai aspal terakhir pasir pun menyambut hangat kedatangan kami disini, sepanjang jalan tak ada spot kosong, semuanya ramai oleh pengunjung yang mendekati petakan ruko penjual jajaan. Dengan laju pelan kita mencarikan tempat parkir untuk si putih imut ini. Sadranan lewat kini sampai di Slili beach laju pelan kita kini berubah dengan belokan ke kanan mengikuti tanda Area Parkir Mobil. Tak lama dari itu spot luas parkir mobir sudah di depan mata. Dengan sigap Agungpun memarkirkan mobil putihnya dibawah pohon yang sangat teduh walaupun berbalut dengan cuaca cerah panas di Gunung Kidul dikala itu. Azizah terbangun dengan nafas lega. Segera ia merapikan baju dan jilbab merah jambu yang dikenakannya dan kitapun segera turun dari siputih bersamaan. Udara panas dengan segarnya angin yang berhembus menyambut kita. Matahari nan terik dengan sinarnya seakan menyorot kearah kita memberikan salam kenal kepada kita.
Oh ya hampir lupa snack ringan cemilan yang dibawa azizah masih tertinggal. Eh bentar gung ada yang ketinggalan di dalam mobil ucapku keagung sambil membuka pintu mobil belakang ku raba-raba bagasi belakang untuk menemukan sekantong plastic putih yang berisi berbagai snack ringan didalamnya. Shreekkkk. . . ini dia plastiknya. Langsung ku bawa keluar tak lupa ku tutup pintu mobilnya. “beres gung” kataku sambil mengacungkan jempolku kepadanya, Cuit. . . cuit. . . bunyi lock mobil berbarengan dengan ucapannya “siap lut”. “Pantaiiiii. .” teriakan Azizah dalam posisinya tengah jongkok dengan kecapean yang dirasakannya. “yuh langsung kesana yuk” ujar Fatkh dengan menunjuk arah pantai. Kitapun segera berjalan menuju pantai tersebut. Hanya beberapa langkah kamipun sampai di Slili Beach. Udara atmosphere ini sungguh berbeda dengan pantai utara jawa pikirku. Ahhh capeknya ‘kata Azizah yng langsung duduk di sebuah gazebo yang berada diantara banyaknya gazebo di pantai ini, kedua sahabatku lainnya Fatkh dengan Agung pun mengikutinya dengan duduk. Aku berjalan menuju gazebo tepi duduk bersama. Nih dimakan ‘kusodorkan snack ringan yang kubawa ketengah gazebo. Iya tuh dimakan saja semuanya ‘lanjut azizah dengan dibalas tawa lucu Agung, Hatur nuhun ‘ucap Fatkh dengan nada yang meniru cirri khas sunda, makasih makasih ‘sambung agung dank u buka satu snack ringan tersebut lalu menyerbunya bersama ditengah-tengah panas dan terik terasa tak goyahkan semangat kita bersama kita wujudkan Asa tuk meraih CITA.
Diriku duduk ditepian gazebo, menghitung banyak ombak datang mendekat. Sahabatku ada di sampingku. Kubahagia ku tidak sendiri di pinggiran susuna kayu yang saat ini kududki. Laut yang sangatlah biru menyerupai kasih sayang, yang mengajari suatu arti dari keabadian. Sinar matahari menyilaukan, saat tatap wajahmu dari samping. Dalam hatiku ingin berteriak kencang keisenganku saja.  meskipun persahabatan terasa sedih, hanya Angin laut yang sejak dari dulu bertiup menujuku. Burung laying-layang putih mengelilingi langit sepert memanasiku “ayo cepat teriakan!” akupun diselingi bercanda dengan sahabatku namun tatapanku tetap menuju pasir disana, inginku melepas sepatuku dan seketika lari sekuat tenaga  bagai mengejar mimpi. Bersama debaran denyut jantung yang meningkat, kusadar,  walau ku hitung deburan ombak tak akan ada habisnya. Akupun bangkit dari duduku dank u pandangi jauh di lautan lepas sana, ku langkahkan kaki perlahan dan berhenti. Sinarmu tak akan mengalahkan anginku. Namun aku tak akan kabur menjauhimu. Tetaplah melangkah kita semua akan terus disinari cahaya matahari, anganku ini akan terus berlanjut apapu yang terjadi, lebih jauh menuju cakrawala diujung sana. Sesaat kusadar akupun sendirian menatap langkah kaki tak mampu melepaskan teriakan. Pantai putih bersih ini seperti perasaan jujur yang memaksaku tuk kembali duduk dan bersama sahabatku, impian tanpa dorongan dari sahabat tak akan berarti. Kini aku bersama kalian sahbat-sahabatku.
Bunyi desiran ombak pantai adalah suara alami yang begitu indah, damai saat mendengarkannya, ombak ini adalah ombak yang indah desiran ombak yang menggulung dari jauh sana hingga ke tepian berbeda dengan ombak yang selama ini kunikmati di jepara ombak disini besar tapi suaranya kian indah. Sesekali ku ambil snack yang kita makan bersamasama dengan diselingi canda tawa ini tak terasa waktu terus berjalan dan ku lihat matahari sudah mulai bergeser dar sebelumnya semenjak kami duduk di gazebo ini. kulihat jam ditangan Agung ternyata sudah menunjukan pukul 1.12 waktu sholat dzuhur sudah hampir terlewakan, terlihat diseberang sana seorang ibu penjaga warung berjalan menghampiri kami dengan menghantarkan  dua mangkuk dengan nampan. Sepertinya pesanan kita segera sampai ‘celetuk azizah.  Iyya tuh kyaknya pesenannya udah mau nyampai hehe kata si Fatkh dengan ketawanya yang kadan mengerikan, yah setelah menunggu pesenan kita yang tadi telah sepakat membeli mie rebus dua untuk berempat kita pun memutuskan menunggu pesenan kita dahulu karena sudah terlanjur pesan lalu sholat. Tak sampai satu menit pesanan mie rebus kita sampai. Di sodorkan 2 mangkuk mie rebus tersebut kepada kita oleh ibu pemilik took diseberang sana, terlihat tanpa aba-aba azizah langsung berdoa dan melahapnya. Mungkin karena muntahannya jadi perutnya kosong dan perlu isi ulang, disisi sebelah fatkh dan Agung juga mulai memakan mie rebus tersebut. Hanya butuh lima menitan kita menghabiskan mie rebus tersebut. Nampak semuanya sudah mulai terisi lagi. Kita pun kembali mengobrol gajelas kesana kemari hingga hampir kelupaan untuk sholat. Eh kita belum sholat lhoh, yuh sholat ‘ajakku ke teman-temanku. Yuh ayok jawab aFatkh dan Agung bersamaan. Yahh aku gak sholat nih, terus aku disini sama siapa? Nanti kalau aku diculik bagaimana? hehe ‘jawab Azizah dengan sedikit candaanya. Ya udah aku sama Agung sholat dulu nanti gentian sama lutfi, usul fatkh. Ya udah gitu juga gapapa, jawabku. Eh tapi musholla nya dimana ya? Tanya agung terlihat bingung dan menegok-nengok sekeliling. Itu tuh disana tadi aku lihat ad tulisan musholla, jawab azizah dengan menunjuk ke sebuah tempat di seberang sana. Oh oke deh, jawab Agung dan Fatkh dengan berdiri dan berjalan berlalu dari gazebo, tinggal aku dan Azizah yang terduduk terdiam tanpa sepatah duapatah kata yang keluar dari kami berdua, dari dulu aku selalu gugup dengan wanita. Namun muka dinginku menutupi semuanya, gugup gemetar dan yang lain tertutup hanya dengan wajah dinginku. Tak ada 5 menit lammanya Fakh dan Agung kembali kehadapanku. Eh sana mushollanya tutup semua. Ada tempat lagi nggak ya? Tanya Fatkhur mengagetkanku ang tengah berkonsentrasi dihadapan seorang gadis. Ha? Hanya kata itu yang keluar dari mulutku yang terkaget kulanjutkan dengan mengajak mencari musholla kearah barat dan mereka pun mengiyakan.sementara Azizahpun mengangguk. Ya udah deh yuh jalan kesana, aku ikut aja nggapapa, ntar bisa nunggu diluar, jawab azizah mempertegas anggukannya. Kalau begitu yuk langsung jalan, keburu habis waktu dzuhurnya, ajakkuu kepada ketiga sahabatku , merekapun mengangguk dan berkata ayuk kompak. Kitapun segera berjalan kebarat berlalu meninggalkan slili beach dengan gazebo tempat yang sedari tadi telah member salam sambutannya kepada kami.
Jalanan pasir ini lembut, tiap langkah kita terbekas dalam pasir itu, jalanan menyusuri pesisir pantai dari pantai sadranan sampai pantai slili hingga kini langkah kita menuju pantai krakal. Mencari Ridlo Allah SWT sebagai hambanya dan menunaikan kewajiban kita sebagai umat Islam. Langkah kita semakin ringan, dikala jalan menuju impian kami dengan ridlonya, kita tidak main-main dengan impian kita, yakin suatu saat kita akan menggapainya, semua harapan dan impian. Perjalanan ini hanyalah miniature bagaimana keinginan kita menggapainya.   Jalanan penuh batuan, rintangan, tanjakan yang berkelok tajam dan juga dapat membersamai semuanya dalam situasi apapun.  Tapak-tapak bekas sepatu dan kaki kami dalam pasir putih ini member arti bahwa kita mampu bersama berjalan beriringan tak terpisahkan. Kulihat batuan-batuan karst yang tertata dijalanan untuk memadatkan jalanan untuk kendaraan mulai kita tapaki juga menuju pantai krakal, beberrapa meter saja kami melewati jalan berbatuan ini. tampak indah jalanan dengan batuan yang bersatu dengan pasir ditambah rindangnya pepuhonan menutupi jalanan ini membuat kita sedikit terpesona.  Langkah demi langkah berjalan melewati jalanan berbatu ini. hna beberapa langkah kita melewatinya dan mulai berjalan diatas pasir pantai yang terbentang luas, to krakal beach. Sebuah tulisan besar menempel di bukit pantai menambahi indahnya pantai disini. Panas terik terasa kembali, kulihat di kejauhan terdapat musholla, eh disana ada musholla, yuk kesana aja ‘ajakku ke sahabat-sahabatku. Merekapun mengikutiku menuju tempat itu.
Langkah kami terhenti di sebuh rumah kecil, lusuh dengan atap yang terbuat dari asbes dengan tembok papan triplek lantai tanah, sebuah musholla umum yang disewakan oleh seorang warga, kami tak punya pilihan lain lagi. Kami disambut ramah oleh sang pemilik, aku Agung dan Fatkh memasukinya sementara Azizah kusuruh menunggu di sebuah gazebo di tepi pantai. Ku lihat tempat sholat yang disediakan hanyalah sebuah tikar yang langsung bersentuhan dengan tanah dengan satu sajadah di atasnya. Bergantian ku memasuki kamar mandi untu sekedar buang air kecil dan Ambil wudhu.  Beberapa saat kemudian kita berkumpul ditempat sholat tersebut dan langsung menunaikan sholat bersama-sama. Dengan keterbatasan waktu nanti diperjalanan pulang kitapun menunaikan dua sholat dengan di jama’ dan qoshor. Dengan khusuk kita menunaikan solat. Hingga tahiyyat terakhir sholat kami sejuk dan damai kembali merasukiku. Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh, asslamualaikum warahmatullahiwabarakatuh kuhanya berdoa singkat setelahnya semoga perjalanan kita nantinya lebih baik dan semoga kebersamaan ini tidak hanya sesaat. Berbeda dengan kedua sahabatku yang memang anggota rohis jadi wajar berdoanya cukup lama, ku terssenyum melihatnya. Segera ku ambil jaket yang kuletakkan disebelahku lalu keluar menemui pemilik musholla umum ini “Pinten bu?” tanyaku kepada ibu pemilik tempt ini. 2000rp per anak mas, jawab ibu tersebut. Kuambil uang di sakuku dan kuberikan kepada ibu tersebut.  Kemudian ku mendekati gazebo di seberang sana tuk sekedar menemani sahabat wanitaku disana. Belum sempat duduk ku disambut Azizah dengan mengatakan lama banget vi dengan muka agak bĂŞte karena ditinggal lama.  Ku duduk dan hanya terdiam dengan senyumku kepadanya, tak lama kemudian Agung dan Fatkh juga telah selesai dan duduk bersama-sama dengan canda tawa kita.
Sejenak saja kami bersandar di tempat ini dibawah teriknya panas matahari yang sangat menyengat. Fatkh di sebelahku sesekali mengeluuh seperti biasanya dengan menunjukkan foto dan video teman-temannya yang di share di grup, yang harusnya hari ini adalah jadwal bimbingan dengan dosen pembimbingnya, kita dengan sesekali membuatnya tabah dengan sedikit ledekan dan tawa kami. Disisi baiknya Fatkh merupakan orang yang sangat baik, namun sisi lainnya terkadang muncul sebuah sifat kekanak-kanakannya yang lucu dan sering membuat kita semua ikut merasakan yang dialaminya walaupun itu anya hal kecil. Fatkh tetap menghadap layar smartphone yang baru ia beli beberapa waktu yang lalu denganku. Sementara agung terus melihat-lihat sekelilingnya dengan wajah senyum dinginnya. Sementara azizah tengah main smartphone miliknya disebelahku. Vi aku haus, beliin air minum yang dingin donng, pinta azizah kepadaku. Iya zi, jawabku pelan dengan berdiri dan mencarikan minuman buat azizah. Satu warung kuampiri namun zonk tidak ada yang dingin akhirnya diwarung kedua ku mendapatkan minum air putih. Segera kuambil lalu kubayar. Dengan langkahku berbalik badan dan kembali kearah  gazebo tadi. Sampai ku di gazebo langsung ku berikan sebotol air itu kepada Azizah. Ah bukain dong vi, pinta Azizah kembali kepadaku. Kutarik lagi uluran tanganku lalu ku bukakan tutup botol tersebut. Ssshrekkk. . . kusodorkan kembali tanganku memberikan air minum tersebut. Azizahpun menerimanya dan langsung meneguknya. Glek. . . glek. . glek. Tegukan air minum azizah. Terlihat lagi segarnya azizah. Kemudian ditawarkannya kepada agung dan Fatkh. Dengan tegukan air yang bergilir kamipun larut dalam canda tawa kami lagi.
Suntuk rasanya duduk lama-lama. Kuajak Azizah agung dan Fatkh untuk berjlan-jalan karena sudah jauh-jauh jalan masa hanya duduk dan bermalas-malasan. Eh yuk keliling lihat-lihat yang disebelah sana yuk, ajakan Azizah yang sudah segar sehabis minum mendahuuiku. Ayoo, agung Nampak semangat dilanjutkan dengan suara fatkhur sama. Aku ngikut kalian saja hehe, jawbku dengan menyeringai. Langsung kita pun beranjak dari duduk dan langsung bangkit.  Berjalan lah kita semua kearah barat bongkahan batu besar disebelah cukup membuatku takjub. Inilah yang kucari, sebuah keindahan alami. Ntah ini batu   atau bukit aku tidak tahu namun cukup membuatku berdegup kagum. Ingin ku naik keatas sana namun ntah karena apa dilarang menaiki bukit tersebut. Kulanjutkan langkah ini mengikuti sahabat-sahabatku. Dalam hitungan langkahku tiba-tiiba tercium bau busuk, sepertinya kerang busuk namun tak kami hiraukan dan terus berjalan. Baru beberapa detik kami berjalan melewati bau busuk tadi langkah kami terhentikan oleh putusnya jalanan kami oleh muara sungai.  Air ini bercampur, tawar dan asin terlihat sedikit dibalik beningnya air banyak ikan hidup didalam situ, berlari-larian lepas satu dengan yang lainnya. Penglihatanku dibuyarkan dengan tepukan di punggungku oleh azizah, kita pun akhirnya berbalik dan kembali melewati bau busuk tadi dan berniat melewati jalur yang lebih baik. Satu dua mobil melewati jalan itu. Berniat menuju puncak sana yang terlihat sebuah tugu berbentuk ikan dengan cat warna kuning, namun dengan langkah kaki ini sepertinya terlalu berlebihan dan membuang waktu yang sangat banyak. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kita memutuskan untuk menuju pantai sadranan saja di sebelah timur untuk bermain pasir. Kembali langkah ini berlalu beriringan melewati jalanan ini. langkah-langkah ini terukir indah dalam pasir putih.
Bhuuussss. . . bhiuuusss. . . bhuuusssh . . . desiran ombak pantai krakal membuatku terdiam bersama sahabat-sahabatku. Hijau rerumputan dengan pasir putih disebelahnya, dihiasi gelombang ombak air laut yang menabraki karam dan melambai ke pasir yang kini kami pijaki, terhenti sejenak untuk sekedar mengabadikan moment-moment ini di pantai krakal nan indah ini. lautan dan perbukitan menjadi hiasan alam yang indah membuatku semakin terpesona dengan indahnya ciptaan sang maha kuasa. Beberapa menit brlalu satu dua foto dan video sebagai kenangan berhasil kita ambil, waktu semakin sore kitapun melangkah lagi berjalan menuju pantai Sadranan agar nantinya balik tidak terlalu kesorean.
Batuan karst yang terususn rapid an daun pohon-pohon yang menari dengan rindangnya terkena tiupan angin seakan menyapa kami tuk mengucapkan salam perpisahan kami. Sampai jumpa kembali dalam hatiku berucap. Hanya beeberapa jangkahan kami melangkah kami telah melewati susnan batuan tersebut dan berganti dengan pasir putih pantai slili, gazebo yang sebelumnya telah kami singgahi pun Nampak sedih melihat langkah kita melewatinya. Langkah kita terus, terus dan terus melangkah berjalan ke timur hingga kudapati petunjuk masuk kepantai Sadranan, bahkan langkah inipun terus melangkah kembali pasir berganti aspal lalu aspal berganti dengan pasir yang baru kupijaki, kali ini Pasir pantai sadrana manambut hangat kami dengan ramainya pengunjung berlalu lalang berlarian di pasir. Dalam hati ku berteriak “KAMI DATANG PANTAI SADRANANNN. . . .!!!”
Panas terik sang surya terpantul indah menyilaukan dalam deru ombak yang kian menepi. Garis panta yang lebih panjang dibandingkan pantai slili dan pantai krakal menjadi favorit para pengunjung, terlihat bergerombol para pengunjung bermain pasir dan bermain air, ada juga yang sekedar hunting foto. Pantai selalu mempunyai cerita. Menyisakan butiran kenangan yang bercampur dengan pasir putih.  Batu batu karang menambahi indahnya relief pantai ini. dengan riuhnya para pengunjung membuatku juga ingin berlarian di tepi pantai.  “yuk main aair dong, masa sampai sini kita nggak basah sih” ajakku kepada sahabat-sahabatku. “Ayukkk. .. aku juga ingin main air” jawab Azizah setuju. Namun berbeda dengan dua sahabatku yang lain, sepertinya mereka bimbang. Karena tidak membawa baju ganti. Kubujuk berulang-ulang dengan Azizah hingga Akhirnyapun masih tetap sama mereka tidak mau. Akhirnya aku dan Azizah yang main Air sendiri sementara Agung dan Fatkh menunggu di tepian yang adem disebuah petakan tempat jualan orang yang kosong.  Gung tur nitip ya. . . ucapku minta tolong pada kedua sahabatku untuk menitipkan HP uang jacket dan sepatuku. “ohh siap siap sana main aja ya kita nunggu disini aja ya gung, ujar Fatkh sementara agung hanya berkata Iya Iya sambil tersenyum khas Agung.  Sekarang kakiku lebih siap untuk berlari. Azizah juga telah siap. Sementara Agung dan Fatkhur hanya menikmati melodi indah ombak Air laut yang menerpa karang dan riuhnya pengunjung yang berada disini. Berjalan ku berlalu bersama seorang gadis di sebelahku. Langakh langkah kebersamaan yang belum pernah kurasakan.
Berhenti sejenak ku gulung celanaku selutut. Ku usap pasir pantai ini. ku pun berlari mengejar Azizah yang sudah berlari terlebih dahulu. Terkesima ku seakan terpaku kulihat siluet seorang gadis tengah berdiri bermain Air. Rok hitamnya mulai basah terkena ombak baju panjang serta jilbab merah jambunya terkibas terhempas oleh derunya Angin. Ku tak berani berlari kuhampiri ia perlahan dengan langkahku. Jujur saja selama ini aku mengaguminya lebih dari yang ia ketahui. Auranya luar biasa semenjak pertama kali ku bertemu dengannya.
Dia Adalah BUNGAku, dimana tumbuh dan mekarnya tergantung bagaimana aku menjaganya. Janjiku kepada diriku sendiri kan kujaga ia. Rangkaian kata tertulis dibenakku untuknya yang mungkin jika aku ucapkan sulit dimengerti. Kimi no koto ga suki dakara. Jika kamu merasa bahagia, semoga saat ini kan berlanjut, selalu selalu selalu ku akan terus berharap. Walaupun ditiup Angin kuakan lindungi bunga itu. Cinta itu suara yang tak mengharapkan jawaban tapi kan dikirimkan satu Arah. Dibawah mentari tertawalah. Menyanyi menari sebebasnya. Karena kusuka suka dirimu, kuakan selalu berada disini walau didalam keramain, taka pa jika tak kamu sadari. Karena hanya dengan bertemu dirimu saja perasaanku menjadi hangat. Lalu, disaat dirimu merasa resah berdiam diri aku mendengarkan. Air mata yang terlinang, kan kuseka dengan jari di anganku. Cinta bagai riak air, meluas dengan perlahan yang pusatnya adalah dirimu. Semua masih tersimpan dalam benakku. Kini dia ada di sampingku bersama bermain air dan pasir, sesekali kutulis persahabtan kita berlima sbagai keberadaan kuat persahabatan ini, bahkan hanya ombak sekalipun tak mampu menghancurkan kita. Namun sesekali juga kutulis namanya sebagai sebuah goresan cerita ku di masa ini dan masa yang akan datang. Ku gumpalkan pasir ditanganku dan melemparkannya, membuang segala kenangan buruknya, kini aku bersamanya. Mekarlah sahabatku. . .
Azizah nur Aini Muslichah

Dan ini untuk para sahabatku, Walaupun sedih jangan menyerah. Kelangit! Impian! Lihatlah!!! Kapanpun disaat memikirkan kalian, ku bisa bertemu kebetulan itu, mungkin hanya sekali dalam hidup kupercaya keajaiban. Akupun bersyukur kepada tuhan walau kutoleh kebelakang yang ada hanyalah ujung kegagalann.
Senja mulai datang diufuk barat sana, kurasa ku harus menyudahi pelampiasan kepenatanku kali ini. sebuah kisah manis bersama laut dan cakrawala luas ini. kulihat Azizah masih sangat menikmati arus ombak yang menepi seakan menghampirinya. Namun waktu sudah semakin sore. Zi sudahan yuk, ajakku kepadanya. Belum terasa bergulirnya waktu begitu cepat juga kurasakan. Bentar lagi yah, tawarnya kepadaku. Aku baru tersenyum di sudah menjawab makasih luviii. Sebenaarnya ku tahu apa yang dia rasakan sama sepertiku. Belum puas jika belum basah seluruh tubuhnya. namun, karena semuanya tidak basah maka tidak bisa, satu basah harus basah semuanya bagiku.  Sesekali ia menantangku untuk berhadapan dengan ombak lebih dekat, juga meneebak datangnya ombak, kadang juga lariku dari ombak takut basah membuatnya tertawa. Namun aku bahagia melihatnya tertawa. Waktu terus berjalan, sore semakin dekat. Zi. Sebagai akhir ayuk kita jalan berdua keujung pling timur lalu balik ‘ajakku lagi kepadanya. Yahhh padahal belum puas. Aku belum basah semua, tapi ayuh deh. Tapi kamu di pinggir ya. Nggaboleh kabur dari ombak ‘tantangnya kepadaku. Langsung ku tarik tangannya lalu berjalan bersama bergandeng tangan ke ujung timur pantai Sadranan lalu kembali. Langkah demi lngkah kita berdua berjalan walaupun sesekali ombak menerpaku hingga setengah badanku basah kuyub dibuatnya.  Pegangan erat tangannya kepadaku semakin kuat langkah ini semakin mantap dan maaf saja kita tidak akan jatuh untuk saat ini. 
Semilir angin sore di pantai mulai terasa. Mungkin ini akhir kisah kami disini. Ku bersama sahabatku lagi. Berbaur menjadi satu. Satu arah pandangan kami, jauh disana cakrawala luas dengan mata ini yang tidak akan lelah melihat dan menatap mimpi. Dengan kaki ini yang tak akan berhenti bangun dan berlari menggapai mimpi. Fikiran yang akan bekerja lebih lebih dan lebih jauh dari batas kita untuk mewujudkan mimpi sebagai civitas akademika, serta hati dan perasaan ini yang membuat kita merasakan semuanya, susah senang dan bahagia, namun semua ini adalah kebahagiaan murni dari kami. Barisan jejak kaki ini akan menjadi ukiran kenangan kami dalam pasir putih tanda kesucian abadi.  PANCA ANUCARA ARSAWATI suatu saat kami akan kembali kesini dengan mimpi kita yang tiada batas seperti cakrawala jagad raya ini yag akan selalu mengembang.
Syair dan melodi mengiringi langkah kepergian kits (Suatu hari dikala kita duduk di tepi pantai, dan memandang ombak dilautan yang kian kemari. Burung camar terbang bermain di derunya air, suara ala mini hangatkan jiwa kita. Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam, suara gitar ini mengalunkan melodi tentang cinta. Ada hati membara erat bersatu terbasuh jiwa tercurah saaat itu. Kemesraan ini janganlah cepat berlalu kemesraan ini inginku kenang selalu, hatiku damai, jiwaku tentram di sampingkalian, hatiku damai jiwaku tentram bersama kalian SAHABATKU.)
Mungkin hanya ini lagu yang menghantarkan kepulangan kami. Seeyou next time Gunung kidul dengan pantai sejuta kenangan. Salam hangat dari kami. Kami pamit tuk pulang Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh  dengan menutupnya pintu dan kami mulai dari sini perjalanan pulang kami.
Suasana dalam mobil sunyi. Wajah letih sahabat-sahabatku terlihat dari ekspresi wajah mereka. Dedaunan berguguran dari pepohonan besar dikanan dan kiri jalan tertiup oleh Angin sore yang mulai bertiup kearah Laut. Kita telah berfikir dan memutuskan akan menghantarkan Azizah ke rumahnya langsung, Azizah teringat sesuatu. Bertanya pada kita bertiga apakah ada pulsa untuk menghubungi rumah. Karena HPnya sudah mati. Kusodorkan Handphone kecilku, jari lentiknya mulai menekan beberapa nomor dan kudengar dia mulai berbincang dengan ibunya, tak lama kemudian ia mengucapkan salam dan menutup telfonnya dengan langsung mengembalikanna kepadaku. Akupun menerimanya dan bertanya kepadanya. “Bagaimana?” dia hanya tersenyum manis tanpa berbicara apapun namun senyumnya kubaca bahwa tak apa tak ada masalah. Akupun member tahukannya kepada Agung dan Fatkh, merekapun hanya sama dengan respon singkat karena letihnya. Yah tak apa ini adalah perjaanan kembali  yang tak kalah beratnya. Dengan kondisi fisik yang sudah letih kita akan menempuh jarak lebih dari 100 km menuju Universitas negeri semarang lagi. Aku pun mulai tersenyum lega bahwa kita mampu melakukan apa yang kita impikan. Tiap meter laju kami ini adalah semangat kami.
Angin bertiup begitu kencangnya, membawa sejuta kisah dan menggoreskannya kepada daun-daun yang berguguran, ironis kudapati kini buukan lagi daun-daun yang berguguran, jauh disebelah sana kulihat banyak pohon-pohon tumbang dari bukit-bukit yang makin tandus. Entah alam memang sudah tak lagi bersahabat atau ulah manusia dengan tujuan ekonomi aku tak tahu, kulihat ada beberapa warga dan polisi disana, semoga akan ada perubahan dan alam ini tetap terjaga hingga suatu saat nanti aku kembali. Siputih masih terus melaju berkelok-kelok dengan indah, ku yakin jika kita telah jauh dari pantai namun di kala ku temui pertigaan selalu ada petunjuk jalan kepantai, aku tak tau berapa banyak garis pantai disini, namun sungguh ala mini sangat menakjubkan. Tebing-tebing karst yang indah menghiasi bersama pepohonan jati yang tertancap kuat sesekali kutengok kebelakang dikala kutemui tanjakan, birunya laut dengan deru ombak masih kudapati disela-sela tebing yang Nampak mulai menutupinya. Ku masih teringat dikala tadi ku berlarian di pasir pantai. Di bawah matahari aku berlari, hari-hari masa muda. Jalan milik kita terbentang lurus dan terus memanjang. Angin yang sesaat bersama dengan debu, melihatkan memory jauh disana. Tak ingin kalah dari siapapun, tak peduli dengan siapakah ku bersaing. Sampai tujuan yang aku ingin, terus jalan walau tak akan sampai. Di tengah mimpi air mata mengalir ku hapus dengan tangan ini. jauh disana telah banyak orang yang berlari di depan, menghantarkan bayangan yang panjang. Daun-daun berguguran dan meninggalkan ranting. Suatu saat akan bersemi lagi.  Terdiam kumemandang matahari senja yang terbenam, kesepian yang kurasakan. Pikiran yang bimbang dipersimpangan jalan yang berhenti, pada saat itu ku terpejam dan melewati persimpangan itu. Pada tujuan yang aku tuju, langit biru menunggu diriku. Terkaget ku tiba-tiba dengan tikungan tajam jalan yang baru saja dilewati. Aku tersenyum kembali tersadar aku masih dalam perjallanan dengan sahabat-sahabatku. Didalam dada terasa angin bertiup.
Kulihat jam pada smartphoneku, sudah lumayan lama kita berada didalam perjalanan. Kini jalanan mulai tampak lebih besar disbanding jalan saat kita berangkat. Kami mengambil jalur Yogyakarta kota karena sore telah menjelang. Angin makin terasa hembusannya. Kulihat awan mendung mulai datang kembali, bak lautan hitam menyelimuti bumi.  Jalan utama yang kelihatannya baru saja diperlebar dengan warna aspal yang masih sangat baru. Dengan lebih banyaknya papan petujuk jalan yang sedikit memudahkan perjalanan ini. terlihat tebing-tebing karst yang baru di keruk. Untuk jalan menambahi keidahannya. Putih bagai tembok yang berada di kiri kanan jalan, mirip jalanan menuju Pantai Pandawa di Bali dalam benakku. Agung memacu si putih lebih cepat lagi dengan kondisi jalanan yang jauh lebih besar dan suasana sepi jalanan, hanya beberapa kali ku dapati bersimpangan dengan mobi dari arah yang berlawanan.  Laju semakin kencang lurus dengan tanjakan landai dengan sesekali tikungan dan kelok jalan menambahi serunya perjalanan dan kebersamaan ini.
Detik demi detik, menit demi menit hingga sejam telah berlalu, langit kian gelap. Tebing-tebing terjal kini telah berganti dengan jalan datardengan rumah rumah di sepanjang jalan. Jalanan kian terlihat ramai. Jaringan dalam smartphonku kini kembali muncul. Kubbuka gmaps dan tinggal 8kilo meterlagi kita sampai di pusat kota Yogyakarta. Agung masih dalam senyumnya menikmati perjalanan yang pertama baginya melewati bukit-bukit terjal, terlihat kebahagiaan dalam pancaran wajahnya sedang Fatkh masih dengan smartphonnyamemandu perjalanan sedari tadi dengan sesekali membuka sosmed dalam smartphonnya. Sementara Azizah sudah terlelap dalam tidurnya dalam pangkuanku. Yah sedikit tenang fikirku semuanya baik-baik saja. Hanya lelah dan senyum yang menjadi satu kebahagiaanku hari ini.
Selamat datang Yogyakarta. Negeri mataram yang damai dengan ramah penduduknya dan negeri istimewa dengan sejuta keindahannya. Negeri ngayogyokarto, negeri koyo swargo,tansah edi peni lan merdiko. Tenang bagai ombak, gemuruh bagai merapi, tradisi tetap hidup ditengah modernisasi, nyebarke seni lan budi pekerti. Sepi ing pamrih, rame ing gawe, sejarah sudah membuktikan Yogyakarta Istimewa. Nampak di depan tepat terdapat andong yang menjadi transportasi umum. Dengan berjalannya yang anggun, sungguh mengagumkannya ditengah keramaian kota dan dunia masih terdapat alat transportassi yang tradisional namun tak kalah dengan yang sekarang. Semakin padat jalanan yang kami lewati. Jalanan padat tumpah ruah dengan berbagai jajaan dipinggir jalan menambahi suasana riuh sesak yang terlalu indah untuk ditonton. Perjalanan masih berlanjut kini kami telah melewati andong yang tadi berada di depan. Jalanan makin ramai dan padat namun perjalanan harus tetap berlanjut walaupun harus menembus lautan badai kehidupan dam persimpangan jalan.
Langit kian pekat dengan mendung. Jalanan terlintas kini dengan mobil-mobil angkut yang besar, terlihat aspal basah bekas hujan siang tadi. Jalanan yang tadinya ramai kini berubah menjadi sepi. Tik. . . tik. . . tik. . . suara gerimis mulai terdengar.  Azizah tiba-tiba terbangun dan menutup mulutnya lagi, benar saja ternyata di muntah lagi. Ku pijit-pijit tengkuk lehernya, beberapa saat kemudian dia menaruh plastic tadi dan menghembuskan nafas panas kukasih tisu kepadanya dan ia lansung mengusap bibirnya. Ku arahkan kepalanya tuk kembali tidur di pangkuanku. Kulihat ia mulai tenang. Ku bisikkn ditelinganya “zi, masih kuat kan?” dia hanya tersenyum dan mengangguk.setidaknya itu membuatku lebih tenang,  agung masih focus dengan jalanan serta fatur yang menikmati alunan music yang terputar dengan melihat jalanan. Ku tatap langit dari kaca jendela yang sedikit terdapat titik-tik air. Ku termangu melihat langit, seperti apa hari ini yang telah dilewati, pasti terfikir saat dijalan pulan, meski ada hal sedih ataupun hal yang memberatkan, takapa asal yang bahagia lebih banyak. Karena tidak membuat keluarga dan teman, dan orang disekitar jadi khawatir. Kalian paksakan tersenyum dan membuat kebohongn sedikit, janganlah di penam semuanya di dalam hati. Kurasakan angin disaat cuaca berganti, dan menyadari sahabat-sahabatku ada bersamaku. Ku dapat mensyukuri keberadaan kecil itu dan kudapat rasakan kebahagiaan. Apakah ku melihat langit mentari senja, waktupun berlalu dan sosok sahabatku terlihat begitu indahnya. Yah, begitulah hari ini berakhir malam yang memulai baru semua telah datang. Kulihat sedikit lebih baik. Supaa ku dapat hidup jadi diri sendiri. Sahabatku maaf jika ku keluar ucapan kasar, tak sengaja menginjak kaki seseorang, atau salah faham berbagai hal yang telah terjadi. Ku ingin kalian selalu di sisiku.  Kusadar hari ini ku tak dapat melihat langit mentari senja, kuajak hatiku tuk menerima keadaan saat ini dan terus lanjut. Bila hari ini kutak dapat melihat senja pastilah suatu saat nanti hal itu akan tercapai.
Langit hitam mulai berubah menjadi gelap, dihias oleh titik garis yang terbentuk dari bintang-bintang, sampai hari esok tibalah nanti. Lihatlah mimpi seperti diriku sendiri… hufhhh. . .tersadar dari lamunanku, kulihat langit di sana mulai berganti malam. Jalanan basah terkena rintikan gerimis. Saat ini mobil putih kecil melintas diatas jembatan laying Flyoper menuju Arah Klaten. Bangunan tinggi-tinggi Nampak disini. Mobil ini terus melaju hanya sesekali berhenti karena lampu lalu lintas.kurasa kali ini Agung salah stay posisi dalam hatiku, dia berada pada jalur belok kekanan. Namun tujuat kita adalah luurus. Hehe benar saja agung terlihat sedikit meringis dan terlihat polisi di depan sana. Terpaksa kitapun belok kekanan, namun kulihat dig maps ada jalan di arah sana. Lurus aja gung gapapa nanti belok kiri, kataku kepada Agung. Agung pun hanya menganguk. Dan kami terus melaju kembali. Kulihat sekeliling banyak sekali mobil dan kendaraan umum seperti taksi berada disini. Kulihat di depan sana ternyata masuk di Bandara AdiSutjipto. Namun sebelum gerbang masuk kami hanya belok dan menyisir jalan kecil Bandara menuju jalan utama lagi. Gerimis menghiasi jalanan ini, tampak disebelah sana kulihat pesawat sedang berjalan memutar, bagus sepertinya sebuah bongkahan besi besar namun dapat terbang. Hana sebentar ku memandangi akhirnya beberapa saat kemudian kami berhasil menuju jalan utama dan melanjutkan perjalanan.   Beberapa saat  kemudian kembali mendung menyelimuti langit Yogyakarta. Kali ini lebih pekat dari yang tadi,  Hujan lebat disertai gemuruh dan badai menjatuhi bumi mataram.
Hujan lebat menemani sisa perjalanan kita sampa di rumah Azizah. Tinggal beberapa kilometer lagi. Tampak air menggenang di jalanan sampai jika saat kami melintasinya bagai kapal membelah air. Bunyi hujan pun sesekali terasa keras di atap mobil yang kita naiki, dengan juga jalanan yang semakin tak terlihat. Laju si putih kini kembali agak pelan. Beberapa menit berlalu kita akhirnya sampai di depan candi prambanan yang sekaligus menjadi perbatasan Yogyakarta dan Klaten. Nampak indah walaupun terkena tutupan kabut hasil hujn lebat ini. hujan ini sedikit membuatku kedinginan namun taka pa kita akan segera sampai, kini aku kembali menjadi penunjuk jalan dengan bantuan gMaps dari smartphone mungil dalam genggamanku karena Azizah tengah lelap dalam tidurnya. Hujan kian tak terbendung lagi, gemuruhnya menggetarkan tubuh ini. ingin rasanya aku sampai di rumah Azizah secepatnya untuk melepaskan kelelahan dan berteduh sejenak dari lebatnya hujan ini. namun pada kenyataannya perjalanan ini masih akan memakan waktu untuk menempuh jarak untuk mencapainya.
Menit demi menit meter demi meter waktu dan jarak sudah kita lalui, kurasa kita sudah mendekati kota Klaten dan juga rumah Azizah. Air hujan yang turun kian berkuran intensitasnya, namun masih terasa air hujan yang berjatuhan ke bumi ini, kini sampai kita di terminal Klaten dan sekarang aku sudah tak tau lagi arah, kini hanya feeling dan instingku yang bermain seolah mengerti, namun kupernah sampai ditempat ini di dalam mimpiku, selayaknya seorang Indigo lainnya, sedikit aku merasa ada 2 jalan yang pernah kulalui dalam mimpi namun jalan yang satu terasa pekat hawa panas jadi aku hanya mengikuti jalur yang satunya.  Hingga melewati sebuah rel kereta api saat ini ku merrasa tidak yakin, dan hasilnya beberapa kali kelewatan dan harus putar balik. Dan malam semakin larut , gelap kian menggebu sementara kritik hujan yang meninggalkan gerimis. Kini kurasakan kita semakin masuk kedalam pedesaan yang entah dimana, kelihatannya aku sudah terlalu masuk kedaerah yang tak ku ketahuui, diluar sana masih gerimis dan suasana sepi lengang menakutkan. Agung puter balik aja gung ‘pintaku ke Agung. Agungpun blang iya lalu berputar balik, sementara azizah mulai terlihat udah gak tahan di dalam mobil, akhirnya dia bangun dan takut lalu menangis minta ddianterin pulang, sementara Fatkhur iseng mengejek Azizah bilang bahwa mau di balikin kesemarang Azizah pun semakinkeras tangisannya,  namun berangsur-angsur kepalanya mulai dingin dan mengetaui jalan ini. lalu dia memberikan arahan jalan menuju rumahnya, belok kiri terus kanan lalu kiri, luruusss nanti ada Stikes belok kanan lalu kiri  terus lurusss ada RSUD lurus nanti ada masjid lalu masuk gang lalu luruss saja, dengan suara yang seakan masih ngantuk dan lucu, setelah beberapa saat kita mengikuti petunjuk jalannya akhirnya kita sampai di lokasi Rumhnya. Hembusan nafas lega dari kita semua mengiringi sampainya kita ditempat Azizah.
Rintik gerimis air hujan serta redupnya lampu penerangan jalan turut menyambut kita di rumah azizah, Sobrah Gede Buntalan Klaten. Perjalanan yang cukup menegangkan tadi telah berganti dengan nafas lega, mulai dari saat-saat keluar dari pantai, hujan lebat dengan badai besar menghadang kami hingga angin malam dengan hamparan sawah yang gelap turut mewarnai perjalanan menuju kesini. Azizah mulai gembira tampak dari raut mukanya, ia bergegas membenahi jilbabnya lalu turun dengan ceria. Sementara itu agung bingung menaruh mobilnya, karena untuk masuk gang tak memungkinkan. Aku dan Fatkh turun lebih dahulu. Kudapati tiba-tiba Bapak Azizah sudah disitu. Dan member perintah untuk memarkirkan si putih di tepian jalan. Akhirnnya ku beri aba-aba kepada Agung. Huffh. . . selesei juga. Agung keluar lalu membuka bagasi belakang untuk ,emgambil barang bawaan Azizah.  Bhuuukk. . suara pintu bagasi belakang di tutup. Kitapun langsung menuju rumah azizah dengan basah akan gerimis yang membasuhi diri kami.
Hanya beberapa langkah kita meninggalkan siputih kami sampai di rumah Azizah. Tampak bapak dan Ibu Azizah telah menunggu kita di depan rumah. Segar ketika kita menapaki rumah ini, rumah yang sederhana namun tampak anggun dengan beberapa tanaman tanaman yang tumbuh kembang merekah di depannya, dengan kicauan burung yang terjaga di dalam sangkar yang tegantung di tepiannya. Kita ucapkan salam kompak, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh yang dijawab oleh kedua orang tua Azizah, kitapun langsung salaman kepada bpak dan ibu azizah dan segera kami di persilahkan masuk dengan sedikit basa-basi garing sembari kita duduk. Azizah keluar dari kamarnya lalu menghampiri kita, sejurus dengan itu orang Ibu Azizah kebelakang dan Bapaknya keluar. Ditawari lah kita Unjukan Kopi. Buk Aku dingin ya ,pinta Azizah dilanjutkan pertanyaan ibu azizah kepada kita suka es apa hangat. Namun yang keluar dari mulut kita hanya Mboten usah repot-repot bu sebagai khas orang jawa yang harus santun. Ya walaupun kutahu sebenarnya kita pengen hehe ‘gumamku dalam benakku. Es sedoyo mawon mbotn nopo-nopo buk ‘lanjut Azizah. Sementara ibunya berlalu meninggalkan kita kebelakang membuatkan minuman.  Eh masjid dimana ya? Tanya Fatkh kepada Azizah. Oh mu sholat yuh aku tunjukin ‘jawab azizah sembari itu iya berdiri lalu berjalan menunjukan jalan ke masjid kita pun mengikutinya menuju masjid. Ternyata hanya kurang dari 50 meter kita sampa di Masjid, terimakasih azizah ‘uap kita kepada azizah dibalas dengan senyuman dan ia pun berbalik dan berjalan kembali menuju rumahnya.
Langkah demi langkah kami sampai di masjid. Dengan suasana sedikit gerimis menambahi segarnya udara kala itu. Segera kita mengambil wudlu dan masuk kedalam masjid. Damai sekali di hati ketika memasuki masjid. Masjid desa ini cukup unik. Dengan Arsitektur lama namun tampak tertata rapi dengan deretan sajadah yang menjadi shof turut berbaris. Dengan cahaya terang dan angin dari sebuah kipas membuat tambah segarnya udara. Aku segera menempatkan diri di ikuti Fatkh dan Agung. Allahu Akbar. Kumulai menunaikan ibadah sholat, hingga beberaapa menit berlalu selesai 3 raka’at sholat maghrib dan 2 raka’at sholat Isya yang kita rangkap jama’  serta Qoshor yang telah kita tunaikan sebagai kewajiban umat muslim. Sejenak pula kita sempatkan buat berdzikir dan berdoa. Beberapa saat kemudian aku selesai. Terkaget ada beberapa jama’ah di sudut-sudut shof masjid. Sugera ku keluar dan juga teman-temanku. Segera kita berjalan kembali menuju rumah Azizah berbarengan. Hanya beberapa langkah kita pun sampai di depan rumah Azizah kita ucapkan kembali salam yang di jawab oleh Azizah. Setelah itu kita pun duduk lalu bincang-bincang satu sama lain. Allahu akbar AllahuAkbar, Ditengah canda terdengar suara adzan berkumandang kita terdiam termangu mendengar adzan itu, Allahu akbar Allahu akbar la ila ha illah sesaat kemudian Adzan selesai berkumandang. Sesaat setelah itu Aku Fatkh dan Agung tertawa bersama-sama. Terlihat azizah kebingungan dengan kita, ia pun bertanya  dengan ekspresi bertanya-tanya “kalian kenapa?” kulirik kedua sahabatku pun masih tertawa terbahak-bahak sendiri, kurasa yang kita fikirkan sama dalam hatiku. Lalu kujawab ke Azizah kalau ini baru Adzan sedangkan kita tadi udah sholat isya,  mendengar itu Azizahpun jadi ikutan tertawa dibarengi seenyum tawa kita bersama.
Kulihat ibu azizah membawakan empat gelas kopi kearah kami.  Lalu ditaruhnya dimeja di hadapan kami. Monggo di unjuk ‘ucap ibu Azizah seraya mempersilahkan dan menyuguhkan minuman itu. Matursuwun bu, ngapuntene ngrepotake ‘jawab aku Fatkh dan Agung bersamaan lalu ibu Azizah kembali kebelakang. Woow dingin namun terlihat segar kopi yang berada di gelas itu, puing-puing pecahan es batu terasa melambai-lambai kearah kita.  Tangan kita yang malu-malu mulai perlahan mengambilnya, blum sempat kita pegang gelasnya tiba-tiba ibu Azizah kembali dan kini membawakan sepiring gorengan renyah yang masih hangat. Sekejap tangan kita kembali dan malu-malu. Kembali azizah menerima piring tersebut lalu ditaruhkan lah di meja di sebelah kopi-kopi yang telah berjejeran tadi. Tak lupa juga kita mengucapkan terimakasih kepada ibu Azizah, disusul beliau kembali kebelakang. Dilanjut candaan garing kita bersama tiba-tiba azizah keluar  dan hany bilang tunggu sebentar, kitapun terdiam. Beberapa saat kemudian ia masuk membawa 2 piring nasi goring. eh kok repot-repot sih zi ‘ujarku kepada azizah. Halah gapapa kok ‘jawab azizah bersamaan Dia meletakkan piring dimeja lalu keluar mengambil sisanya, ternyata gerobak nasi goring yang kulihat diluar tadi sewaktu ku kembali dari masjid ternyata buat memesankan. Lamunanku tersadar tiba-tiba bapak azizah duduk disebelah Fatkh dan mulai ikut nimbrung bersama kita. Berbasa-basi tentang perjalanan kita, dan Tanya mengenai kita bertiga. Lama kita ngobrol ngalor ngidul diselangi canda tawa bareng dan juga member tahu nanti jalan untuk balik ke semarang dan juga cerita mengenai hal lucu saat pertama menghantarkan Azizah ke semerang lewat tol yang langsung membuat kita tertawa.  Lama gelak tawa dan obrolan kita Azizah masuk membawa dua piring nasi goreng sisanya, bapak azizah ijin meninggalkan kita untuk makan dengan mempersilahkan bapak azizah berjalan kebelakaang, sejurus dengan itu aazizah duduk dan menaruh dua piring nasi goreng satu di kasihkan Agung dan satunya lagi khusus buat aku sesuai pesananku dan dia pun sepertinya sudah tau  satu piring nasi goreng tanpa sayuran di taruh dihadapanku, terimakasih Azizah ‘ucapku kepadanya seraya tersenyum, iapun hanya tersenyum dan menyuruh kita memakan suguhan yang ada di hadapan kita. Yah awalnya dengan malu-malu kita tak segera mengambil jatah kita, namun semua itu berakhir dikala Agung memulai makan dahuluan. Ah aku udah lapar, aku makan duluan yah, makasih lho ya ‘ucap agung sambil tersenyum dengan mengambil piring di hadapannya. Kita pun jadi lega dan berkata seperti Agung lalu mengambil bagian kita masing-masing. Sebuah piring dengan nasi goreng yang kurasa memiliki cita rasa berbeda dari yang biasa ku makan dirumah dengan timun yang sudah terpotong rapid an juga du potongan tomat ikut menghiasi sajian nasi goreng dalam piring, kuambil satu goengan yang bagiku juga berbeda, tahu bakso dengan bentuk kotak ramping dengan masakan yang masih hangat segera ku lahap, sendok pertama masuk kedalam mulutku, seperti yang kufikirkan rasanya memang beda namun masih cocok dengan lidahku, begitu juga gorengan yang tadi kuambil. Dengan baru di goreng hangat gorenga yang masih kres menambah kerenahan gorengan itu. Sendok demi sendok lahapan nasi goreng masuk kedalam perut hingga akhir sesaat itu kita selesai dengan nasi goreng yang mulai menghangatkan perut serta tubuh kita, selanjutnya ttegukan juga tegukan segelas kopi dingin untuk menegarkan mata ini. hingga tegukan terakhir kuletakkan kembali gelas yang ku pegang ke meja tamu ini. seperti biasa aku selalu cepat jika makan, kulihat Agung dan Fatkh masih berkutat dengan makanannya masing-masing beda dengan Azizah yang terduduk termangu tanpa memakan sesendokpun nasi goreng dihadapannya. Kurasa perutnya masih tidak enak buat makan. Selesai kupandangi sahabat-sahabatku terasa aku ingin pipis, Zi boleh ke kamar mandi gak? Kebelet nih ‘tanyaku kepada azizah. Hmm boleh sih Cuma kamarmandi yang di dalam rumah lampunya mati jadi yuh tak anterin ke kamar mandi belakang rumah.
Akhirnya akupun di hantarkan Azizah ke kamar mandi yang dibelakang rumah, kembali diam membisu diantara aku maupun dia. Di temani gerimis ini rasanya dia mampu meluluhkanku, sampai di belakang dia menunjukkan sebuah kamar mandi kecil dengaan satu lampu yang menyala didalamnya lalu iapun kembali. Ah sial ‘gumamku dalam hati. Sunyi sekali fikirku apalagi gerimis, namun tak kuhiraukan segera kumasuk. Kubuka celana training yang ku pakai,  byurrr byur byur beberapa siraman air dari gayug dan segera kukenakan lagi celana trainingku dan segera keluar. Secepatnya kakiku melangkah dan ku sampai di ruang tamu kembali. Ku duduk dan menghembuskan nafasku “fiuuuhhhhh” dalam hatiku aku terucap sial dan ingin tertawa. Tak sempat berfikir tentang kejadian yang baru saja terjadi kulihat tean-temanku udah menyerbu gorengan yang ada di piring,tak mau kalahh segera aku ikut nyerbu dan membuat kegaduhan dalam rumah Azizah saat itu juga dengat tawa-tawa kecil semuanya membuat hangatnya suasana di kala itu.
Tik. Tik. Tik. . . suara detik jam di dining kian terdengar menandakan malam semakin larut. Kulihat jam menunjuk pukul 8.30p.m berat rasanya untuk pulang namun kita harus balik agar tak terlalu larut nantinya diperjalanan. Canda tawa dari kita berempat kian asyik, baik es kopi maupun gorengan telah habis yang tersisa hanyalah piring dan gelas yang berjejeran. Sesekali suara siulan burung di depan rumah azizah terdengar, mungkin menjadi peringatan untuk kita segera pulang.  Akhirnya setelah lama obrolan kita tentang perjalanan hari ini dan canda tawa kita akan berakhir detik ini. kurasa memang kita harus segera pergi karena gerimis pun kian turun kembali. Akhirnya kita sepakat untuk pulang semarang saat ini. eh ini udah larut nih, yuk balik keburu kemaleman ntar ‘ajak agung. Iya nih udah mau hujan lagi juga ‘tambah Fatkh. Yaudah kalau begitu ayo kita pamitan kepada orang tuanya Azizah lalu balik ke Semarang ‘ucapku menutup perbincangan malam itu namun masih beberapa kali percakapan dari kita. Azizah terlihat sudah sangat kecapaian walaupun terlihat juga wajahnya yang tampak belum puas dan ingin menahan kita karena tak dipungkiri lagi ini adalah sebuah perpisahan sebelum liburan panjang semester satu, kita tak akan bertemu selama 1 bulan lebih. Dan walau sudah seharian bersama tetap saja masih belum cukup rasanya untuk mengganti kerinduan selama liburan semester satu, walau terlihat di wajahnya dia tidak ingin kita balik terlebih dahulu, namun dia tetap memanggil orang tuanya tuanya kebelakang. Buk pak teman-temanku arep balik, mau pada pamitan ‘ujar azizah yang suaranya terdengar sampai depan. Beberapa detik setelahny Azizah kembali kedepan disusul oleh bapak dan ibuknya. Sing nyetir sing ndi iki? ‘tanya Ibu Azizah. Mendengar itu kita semua menunjuk kea rah Agung. Kemudian Ibuk dan bapknya Azizah berpesan pada Agung dan Kita, Mengko nak kesel aso sedelo ojo mekso (nanti kalau lelah istirahat saja jangan memaksakan) dengan menghampiri Kita, Aku Agng dan Fatkh langsung bersalaman kepada Bapak, Ibu dan Azizah lalu keluar. Pak buk, zi balik dulu nggih, pentene mpun ngrepotke, matursuwun. Assalamualaiukum warahmatullahiwabarokatuh ‘ucapku menghadap kepada Bapak ibu dan Azizah dibarengi salam dari Agung dan Fatkh kitapun berbalik badan dan melangkah menuju si putih yang sudah menunggu kita didepan. Mendengar itu Orang tua dan Azizah menjawab salam kita lalu menghantarkan kita sampai depan. Gerimis ini mengiringi langkah kita menuju depan seakan terjadi perpisahan, gerimis ini menjadi perwakilan rindu kita. Kembali sebelum masuk mobil kita menundukkan kepala dan mengucapkan terimakasih kepada Orangtua Azizh dan juga Azizah. Lalu kita pun masuk kemobil. Ku buka pintu mobil ini terlihat tempat duduk belakang yang terlihat luas sekarang, perjalanan terakhir dibelakang sendiri. Berat rasanya naik,  jok  kursi belakang terasa dingin sekarang. Azizah dan bapaknya kembali member petunjuk jalan yang  efektif kembali kepada Agung dan kita. Cukup lama hingga penjelasan sellesei kembali kita ucapkan terimakasih kembali dan juga salam pamit pulang. Beberapa saat selanjutnya Agung mulai menginjak gas dan kulihat dari kaca jendela yang belum kututup kita telah mulai jalan, dan berlalu menjauhi azizah dan orang tuanya di belakang sana. Wajah Azizah mulai lesu dan orang tuanya yang membawa payung memancarkan senyumnya kepada kita.
Entah mengapa rasanya gerimis yang turun saat ini benar-benar mewakili perasaan kita semua yang mulai rindu. Walaupun baru saja kita berpisah dimulai dari Rahma yang tak ikut dalam perjalanan Ini dilanjut Azizah yang sampai di rumahnya dan kini tinggal kita bertiga menyusuri jalanan panjang menuju Semarang kembali. Bahkan rumah tua diseberang persimpangan sana dengan pekatnya gelap tak mampu membuatku gemetar. Uadara dengin ini semakin membuatku merasakan sesak didada. Hanya sunyinya malam, dengan gerimis yang kian deras kita menyusuri jalanan kecil pedesaan, padi disawah mulai tak terlihat krena hembusan badai dengan Air menutupi pandangan kita.  Bahkan rumah sakit yang ada di sebalah kanan pun terlihat sepi sunyi menyeramkan. Lama ita tempuh perjalanan ini yang kita lewati hanyalah sunyi dan dingin tanpa kehangatan, Agung tengah focus dengan jalanan sementara Fatkh memandu dengan gMaps dari smartphonnya.gerimis kini menjadi hujan badai, bahkan terminal yang biasanya ramai akan orang-orangpun sepi sekali. Tak peduli dengan sekitar karena perlahan lelah ini mulai terasa, mungkin juga kedua sahabatku di depan juga sudah merasakan mulai lelah hingga hanya sepatah duapatah kata saja yang terucap. Yang terfikir dikita hanyalah secepatnya kita sampai di semarang melewati hujan badai takk tahu Arah hanya mengandalkan gmaps, namun kita harus terus terus dan trus melaju menerjang badai dan sunyinya malam.
Dingin mala mini serasa menusuk nusuk jiwaku, dingin sekali dan juga tak ada hangatnya candaan karena perjalnan panjang ini. kuambil jaket dibelakangku lalu kupakai tuk sedikit menghangatkanku. Ku baringkan tubuhku di belakang dengan sesekali mencoba mengaja ngobrol dua sahabatkua agar aku tak ketiduran.  Kurasakan laju mobil ini makin cepat menerjang lebatnya hujan diluar sana,  sudah beberapa kali belokan yang telah kita lalui, hingga kulihat di Maps ku arahnya terlewati, namun di Smartphone fatkhur yang memakai navigasi terus melaju. Namun tak terlalu aku hiraukan kareena masih ada jalan lagi di depan. Beberapa saat setelahnya tiba-tiba aagung dan Fatkh terlihat sedikit panic, terbangun aku dari tidurku, seakan tak percaya posisi mobil saat ini melewati kiri kanan saah jalanan sempit tanpa cahaya. Aku merasa mengulangi hal yang pernah terjadi hapir celaka oleh sunyinya malam melewati jalan yang tak kita ketahui. Fatkh semakin Panik begitu juga dengan agung.  Hanya gelap yang bisa kita lihat, celakanya kita gak mungkin bisa putar balik dengan kondisi jalan yang seperti ini. sejenak aku flashback dengan semua kejadian yang pernah terjadi saat aku masih di depok setahun yang lalu. Persis seperti ini kondisinya ditengah sawah sehabis hujan hanya jalanan kecil yang terlihat dan juga genangan air di jalanan. Kala itu yang bisa kulakukan adalah putar balik, namun kondisinya saat ini berbeda diamana ini adalah mobil, jadi tidak mungkinkita bisa putar balik. Sudah kurang lebih 500 meter melewti jalanan sempit nan sunyi ini. kulihat Fatkh kian bingung tpi mau bagaimana lagi aku juga tak tahu harus bagaimana lagi. namun ku ingat bahwa jalanan yang terlewati tak kan pernah salah, kalaupun salah maka bisa berputar lagi, pasti akan ada ujung dari jalan, aku berani bertaruh karena udah terlanjur masuk terlalu jauh jadi tak ada alasan untuk balik. Angin dingin yang dihasilkan Ac dari depan membawa keyakinanku, sebuah goresan angin yang akan menuliskan sebuah kisah. Ku yakin ini adalah salah satu cerita dari perjalanan ini.  fikirku kembali dingin. Kuambil smartphone kecilku dank u buka gMaps kupelajari dengan cepat medan yang kulewati, sampai beberapa saat akhirnya ketemu. Sebentar lagi kita sampai di persimpangan jalan alternative menuju boyolali ‘ucapku kepada Agung dan Fatkh. Yah walaupun keliatan masih tegang terjadi sesuatu namun sedikit mulai hilang ketakutan dari mereka.  Kulihat kembali smartphoneku. Ah tinggal beberapa meter saja kita sampai dijalan yang lebih besar ucapku pada sahabat-sahabatku. Tapi kok belum ada tanda-tanda jalan raya ya ‘jawab agung sedikit tak percaya. Aku tak menjawab agung dan terus memandangi jalanan di depan. Terlihat rintik hujan mulai memudar di kaca depan mobil. Beberapa pohon-pohon terlewati dengan cepatnya, tanjakan sedang kita lewati dengan sedikit kecepatan sedang sampai juga akhirnya di persimpangan jalan raya. Segera saja agung memutarkan setirnya mengikuti rute jalan awal. Hufftt selesai juga kedegangan ini sebentar lagi juga sudh sampai boyolali kemudian solotigo lalu ungaran dan gunung pati. Ya benar sekali perjalanan ini sangat luar biasa.  Kulihat juga Agung dan Fatkh sudah kembali dalam kondisi relaks dan siap melanjutkan perjalanan. Sinar orange terang menerangi jalanan, satau persatu kita melewati sinar tiang-tiang lampu itu, sementara sinarnya terus terlewati dari depan berjalan kebelakan lalu lenyap begitu seterusnya. Jalann terlihat sangat basah namun hujan mulai berhenti dan jalanan sepi ini seolah mengajak kita untuk segera tiba di rumah.
Dari sini Agung sudah hafal jalanan ini, ku sedikit lega Akhirnya kita hampir sampai di rumah, kembali ku rebahkan tubuh ini di belakang. Kutatp langit dari kaca pintu terlihat sedikit perlahan mula cerah, sedetik kutertegun dalam kesendirian,gelap kelam membentang didepan mata. Bintang-bintang sampaikan pada sahabatku bahwaaku akan tetap bersinar dengankalian semua.
 “ ada yang tak hendak kubuang serangkaian kenang-kenangan, yang tergambar di gelap malam dan tersimpan dipucuk daunan. Langit diatas simpang jalan, menemani perasaan ini, bagai gejolak pohonan runtuh, bersama angin, bersama sepi bersama luka dan kecintaanku pada kalian sahabatku.
Hembusan angin Ac seketika membuyarkan lamunanku, tak terasa ternyata ku sempat tertidur dalam perjalanan. Sudah beberapa kilometer terlewati, dari boyolali ke Salatiga Hingga ungaran telah terlewati. Tinggal beberapa saat saja sampai sudah kembali di kampus yang terkenal dengan kampus konservasi. Udara kian mendingin. Pohon-pohon bamboo bergerak terkena tiupan angin kencang. Jalanan kembali terjal mendekati Tempat kita, terlihat agung masih sangat focus, sementara Fatkh sudah sangat kelelahan, terlihat SPBU dimana tempat tadi bpagi kita berangkat, berasa baru saja kita berangkat namun kini harus berpisah lagi.  hanya beberapa detik saja terlewati sudah SPBU tempat kita berangkat tadi pagi. Yang tersisa hanyalah aspal hitam yang basah oleh hujan tadi. Cepat kurasakan mobil ini melaju. Tanjakan turunan belokan terlewati. Kembali bangunan-bangunan yang tampak sepi di musim liburan seperti ini. jalanan juga tampak sepi sekali. Inilah gunungpati tanpa UNNES. Sepi sunyi senyap. Laju mobil mulai perlahan menurun tak ku sangka sudah saatnya aku dan Fatkh turun dan berpisah denganAgung, kuputuskan mallam ini aku nginep di kostnya Fatkhur sehingga ,asih ada teman saat mau tidur nanti. Sepi sunyi daerah sini dalam batinku. CafĂ© soda ocean yang biasanya ramai kini kulihat hanya beberapa motor saja yang berada dihalaman parkir.  Langit sudah mulai cerah lagi, segera ku bereskan tasku lalu turun dari mobil.
Kutatap sekali lagi dibalik kaca mungil ini sejenak perjalan. Sangat terjadi hingga terasa hanya baru sebentar saja aku telah melewati hari ini. Angin yang membawaku hingga kesini. Sunyi tenang kini yang kurasakan ketika sampai disini kembali. Gg setanjung dengan deretan tokoMantu lanang ini sungguh sepi tak tampak seperti biasanya. Huff hembusan nafas panjang ku. Bagaimanapun ini sudah terjadi. Perpisahan panjang dengan sahabat-sahabatku aakan terasa sangat lama. Setengah bulan lamanya tak akan bertemu pasti dibayang akan rindu. Cukup lama ku hanyut dalam diamku sampai yak kurasakan jika sudah sampai tepat di mantulanang. Seakan kaget akupun terbangun dari lamunanku. Fatkh dengan tenangmembuka pintu dan turun, dia tersenyum namun wajahnya Nampak kelelahan, Agung juga terlihat demikian halnya. Sungguh indah perjalanan ini. sebuah kisah klasik untuk masa depan. Aku lega erjalanan hari ini selesai dengan senyuman dari semuanya. Lelah ini mengajarkan arti kebahagiaan bersama mereka.
Agung kembali melaju bersama mobil putih kecil nan imut berlalu. Hanya lambaian tangan dan ucapan terimakasih serta ucapan hati-hati yang terucap. Rasa sedih mulai mendatangiku. Inilah akhir dari perjalanan menyenangkan dan awal dari perpisahan yang panjang.  Segera kulangkahkan kaki ini bersama Fatkh menuju kosnya. Tiap langkahku terasa berat.  Walaupun bintang-bintang diatas sana mengucapkan selamat datang kepadakuu. Langkah demi langkah berat ini terus dengan paksa kujalani hingg langkah terakhirku tepat di kost Fatkh. Kutaruh tasku di sebelah pintu, ku langsung menuju kamar mandi kecil dipojokan tempat ini. ku basuh muka dan ambil wudhu.  Sesaat ku selesai. Tanpa menghiraukan sekitar segera ku balik menuju kamar Fatkh. Kubuka satu per satu sepatu yang kupakai hingga kaos kaki terakhir. Langung kurebahkan tubuh ini diatas kasur dengan sprai orange yang ada didalam kamar petak yang terasa agak sempit kali ini. beberapa saat setelah itu Fatkh mematikan lampu lalu berbaring disebellahku, kulihat ia membuka kacamatanya dan mulai terlelap dalam lelahnya namun tampak tersenyum. Setelah lama ku termenung dalam gelap mata ku terpejam. Selamat malam sahabatku, selamat melam dunia. Aku tak akn melupakan kisah ini. kisah hangat bersama kalian semuanya. Terima kasih banyak sahabatku. Lelah ini terasa nikmat dengan kebahiaan yang sebenarna. Hingga langkah ini terasa ringan menjalani hari. Bintang mala mini terlihat tersenyum melihat kita. Terselimuti oleh dingin malam namun takkan menghapus segalanya. Aku akan menantikan kisah lainnya bersama kalian Sahabatku.





-Tamat-





















Aku sangat mengerti tentang kalian. Kita boleh menangis karena kita saling menjaga, perasaan sejati dari cinta yang tertumpah selama ini. kita mencarinya dan kehilangannya saat menunggu fajar, akan kunamai bintang yang berada di sisi kananku dengan namaku, panggilah nama ku itu disaat kalian membutuhkanku. Karena bintang disebelah kiriku akan sempurna jika memakai nama kalian, dengan begitu kita akan selalu berdampingan.




download versi pdf nya kawan 
- https://drive.google.com/open?id=0B94v4Wc2WlmHczVEQkdCbFdoQkE