Tuesday, 17 November 2015

Kumpulan puisi karya Siswa SMA 1 Gebog Kudus

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Konnichiwa minna. Eh maaf selamat siang semua sahabatku. Masih semangat kan menjalani aktivitas kalian. Semoga kalian tetap di beri kelancaran ya.
        Kali ini saya hadir membawa topik istimewa. Post kali ini saya buat dengan latar Sma 1 gebog Kudus. Tempat saya mengais ilmu. Banyak yang saya dapatkan disini.  Ya semoga postingan saya kali ini membawa manfaat bagi kalian dan bagi saya sendiri. Karena orang yang selalu mengingat kebaikan dalam dirinya akan di muliakan derajatnya.
      Berikut aku rangkum kumpulan puisi dari beberapa siswa :) silahkan menyimak.

Ada Apa Dengan Tanah Beta
  Ky : Syafaatul Insiyah xII a3

Kutatap Langit Jingga itu
Disana ribuan air menetes
Meresapkan aroma lusuh
Peluhmu, Isakmu, tangis jiwamu
Bak liukkan luka mendesah hebat
       Saat ku pejamkan mata
       Ada getaran di tanah beta
       Gemuruh menerjang
       Tanah beta mengamuk
       dan Menutup mata ini
Ada apa dengan tanah beta?
Mengapa dia murka?
Mengapa dia tidak bersahabat lagi?
Apa salah kami?
       Langkahku gontai susuri setapak
       Penuh tanya. . . .
       Apa mungkin karena tandusmya hutan?
       Apa mungkin gersang disepqnjang pematang?
       Apakah kami terlalu larut dalam dunia?
       Jelaskan!!!
Kini tanah beta hancur
Kokohmu dulu kini telah rapuh
Hanya kepingan-kepingan peristiwa yang ada

Sekolahku Memukau di Pinggiran
   Ky : Syafaatul insiyah xI a2

Selamat pagi wahai hari
Betapa merdu kicau burung bersaut
Dari jendela yang terkuak saat mentari menerobos
Lalu sinar itu padamu
       Wahai engkau dipinggiran
       Kuat kokoh berdiri
       Tak tergoyahkan tak tertandingi
       Sekolahku di pinggiran yang memukau
Tiap lekukan yang menuju jalan pada titikmu
Perjuangan kala aku merayap perlahan tersendat
Tuk meraih sejuta cahaya gemilang tenang
Di puncakmu ku gapai makna nafas hidupku
       Dan disaat aku meninggalkanmu
       Tiada lagi kening berkerut
       Tiada gundah dan tergoyah
       Hanya kepercayaan dan keteguhan diri
Bahwa akupun dapat seperti engkau
Duhai sekolahku yang tegak berdiri
Di pinggiranpun kau masih punya arti
Mengobarkan semangat ABITA sampai mati

Aku Baik-Baik Saja
            ky : Ervian Novi vivianalia xI a1

Tapi apa jika langitku kelabu sore ini
Dan sore enggan berganti
Jika gerimisku jatuh saat ini
Dan senja mulai tampak
       Aku baik-baik saja
       Aku hanya ingin sendiri
       Disini lukiskan bayangmu dalam sepi
       Tapi merindukanmu amat sakit dan perih
Harapkanmu kini dan nanti
Aku baik-baik saja
Diam membisu dan melihatmu
Untyk sebuah rotasi kau yang kusayang
       Untuk satu cinta kita, kau dan dia
       Untuk sebuah alasan yang tak dapat kucerna
       Ku rindu sosokmu yang dulu
       Hanya itu.. Ini aku dan perasaanku
       SAHABATKU. . .

DINDINGMU
         Ky : Indri brodonoyo

Menyimak apa yang disabdakan waktu
Dedaun menguning
Meranggas lalu berguguran
Saat tangis kemarau
       Menerpa hatimu
       Kusaksikan betapa deras
       Badai menggilasmu
       Terhanyut dalam geliat cuaca
Belir belir maupun membelit
Liukkan desah tanpa suara
Tak tertapi
Air mata itu luruh bagai hujan
      Pada apa kau wartakan kesedihanmu?
       Ingatkah?
       Saat ku hikayatkan empat sosok
       Perempuan tangguh
Betapa mereka telah menengguk kehidupan ini
Merasai getirnya menit yang berlalu
Bukankah semangatnya mengangkatmu
Dari pertempuran hati
       Ahh senyummupun berkembang
       Lebih jauh terbaca
       Akulah dindingmu
       dan merekalah atapmu

Aku Tak Mengerti Puisi Ini
   Ky : Monika LW

Harus kuawali dengan kata apa?
Rasa ini buatku dilema
Paling juga tentang cinta
Dan apa yang kau ceritakan tentang cinta?
       Suka..?
       Duka.....??
       Lara .............???
       Sudah biasa ...........!!!!
Aku tak mengerti puisiku ini
Rasa ingin gembira
Tapi aku sedang merana
Aku ingin bicara luka
Tapi aku baik baik saja
       Ahh... Bagaimana ini?
       Semakin aku tak mengerti puisiiku ini
       akankah puisi ini jadi?
       Puisi yang ku buat dari lubuk hati
       Yang tak pernah kutemukan arti puisi ini
Ohh.......  Tuhan
Mungkinkah hanya sebuah goresan tak bermakna
Tapi aku yakin goresan goresan ini mampu
Mengubah dunia

PENANTIANKU
          Ky : Fera f azhar xI a2

Sebuah hat yang tersimpan rasa
Betapa sering kau mengacuhkannya
Kini kuhanya merasa
Sebuah asa yang ada
       Menggigil menusuk diri
       Ku tau kau tak disini
       Mendung ini menghantui
       Akulah yang sedang sendiri
Satu kali ini saja
Biarkan aku merasa
Sebuah perasaan cinta
Yang tulus kau bawa

Selanjutnya tema puisi adalah bencana karena semua siswa sma1gebog yang mengapresiasikan dan sikap peduli sesama atas bencana yang menyerang Desa menawan beberapa waktu lalu.

BENCANA  ALAM
       Ky : Handha zenita xI a4

Hanya dalam beberapa detik saja
Gempa bumi telah meratakan negeri ini
Sungai muntah...
Laut marah...
Gunung gelisah...
Indonesia resah...
Mungkin ini suatu cobaan
Suatu peringatan
Atau mungkin azab dari Tuhan
Sadarlah...!!
Berfikirlah....!!!
Renungkanlah......!!!!
Dan bertaubatlah selagi mentari pagi masih memancarkan sinarnya
Apakah ini terjadi karenaku?
Apakah ini terjadi karenamu?
Apakah karena dia?
Karena mereka? Atau karena siapa?
Ya ini semua memang karena kita
Karena perbuatan dan ulah manusia

Aku Tak Bertanya
          Ky : Syafaatul insiyah xII a3

Tapi jika bayangan itu semu
Dan tak tampak lagi olehku
Akankah bertahan olehmu
Aku tak bertanya
Dalam jeritan yang begitu sendu
Tersayat silat nan tajam
Bak irukkan desah menjerit hebat
Tak tertepi
Aku tak bertanya
Ini mimpi ataukah ilusi
Atau realita kosong yang tiada
Hanya saja terlagi aku mengingatmu
Air mata ini terjatuh membatin
Aku tak bertanya
Lelah hati ini menantimu
Dalam kesendirian tak terperikan
Dalam pedih hati yang terpendam

ISAK DALAM BENCANAMU
      ky : no name

Ku mulai perjalanan dalam suatu dunia
Yang terbiasa indah dan merona
Mengawali senyum yang kuasa
Namun tangan berdosa merusaknya
     kini cakrawala menjerit ketakutan
     Hujanpun curahkan semua tangis
     Bencanamu memakan jiwa
     Hingga balita mati tanpa alpa
Ranting melambai ucap sampai jumpa
Tanah terjatuh tanpa penampang
Samudra muak simpan rahasia
Hingga bersih satu dunia
Biarkan dunia menjelaskan tiap tetes air mata
     Dunia berduka tertelan banjir bandang
     Angin jalang membawa masuk dalam tangis kehidupan
     Silih mengalir berlumur luka
     Namun semua sia sia
     karena sang kuasa tak lagi cinta

Dan yang terakhir dengan tema nasionalism.
Bentuk apresiasi siswa siswi sma1gebog atas diraihnya juara 1 (satu) tingkat jawa tengah SEKOLAH BERKARAKTER KEBANGSAAN 2012/2013

PELAJARAN DARI GURUKU
Ky Murwat Rudionosantoso

Anak anak negara kita sedang sakit
Sakit kronis yang sulit disembuhkan
Praktik korupsi spt wabah yang ber jangkit
Melanda segala lapisan
     kamu generasi muda
     Jangan sampai tertular penyakit itu
     Hindari virus virus
     yang menularkn tindak korupsi
Belajarlah dengan tekun
Mengurangi waktu belajar
Ituu korupsi
Menyontek saat ulangan juga korupsi
     dengan penuh semangat
     Guruku memberi pelajaran anti korupsi
     jam dinding menunjuk jam 11.30
    guruku mengahiri pelajaran
     sambil berpesan
"JAUHI TINDAK KORUPSI AGAR NEGARA KITA BERPRESTASI"

ADA KORUPSI DI KANTIN SEKOLAHKU
            Ky no name

Penuh pembeli di kantin sekolahku
Aku ikut berdesakan minum es dan bakso tahu
Kulihat kakak kelaskumelahap beberapa gorengan dengan bernafsu
Sungguh nikmat rasanya
Apalagi di bumbui dengan sendagurau dan tawa
Tapi itu tak lama
Pelajaran berikutnya menanti di kelas sana
  segera kubayar apa yang kumakan
  kakak kelasku juga demikian.
  "esteh, gorengan dua" katanya sambil mengulurkan uang lima ribuan
  Aku terkejut. Kulihat dia makan enam gorengan
  ingin aku mengingatkannya
  Kulihat wajahnya seram
  Lidahku kelu,mulutku bungkam
  Hanya hatiku yang berteriak
  "ada korupsi divkantin sekolahku"
  Tak seorangpun mendengar angin berlalu
Aku menyesal mulutku kaku
Suara tak keluar
Disumbat pelototan mata kakak kelasku
"ada korupsi di kantin sekolahku"
Suara pemantul memukul hatiku
Aku terkapar sakit selama seminggu

Kumpulan Lukisan sketsa yang berpadu dengan catAir

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat Pagi sahabat LangitSenjaNegriku. Pagi yang cerah sekali ya. Setelah hujan yang mengguyur Jepara kemaren hari. Nah mungkin di berbagai daerah juga sama seprti Jepara yg mulai turun hujan tiap harinya.

Karena hujan kita lebih bisa menikmati Anugerah dari sang pencipta Alam semesta . Bahlan setelah hujan muncul warna-warna indah yang tersusun rapi di atas langit sana.
Ya mungkin itulah yang membuat pelukis muda masa depan Indonesia ini terinspirasi.
Lukisan sketsa yang ia buat dipadu dengan warna-warna indah.

Sebelumnya, perkenalkan dulu pelukis muda ini. Dia ini adalah sahabat saya. Tapi mungkon lebih tepatnya dia ini adalah kembaran saya :D hehe aku ngaku-ngaku ya. Langsung saja perkenalkan
Nama         :  Bagus Aryo Suyoso
Alamatnya   :   Dawe Kudus Jawa tengah indonesia
Hobi           :  Melukis
Oo iya ini nih silahkan di follow Instagramnya :  Alv.sio
         Karya temanku ini lebih banyak  dengan lukisan sketsa tentang korea.Karna dia adalah penyuka semua hal yang ber kaitan dengan korea.
langsung saja ini dia Karya Sahabatku

Monday, 16 November 2015

Misteri Dibalik Letusan Gunung Krakatau


hai ketemu lagi nih kawan
kali ini membahas tentang misteri di balik letusan Krakatau

“Seluruh dunia terguncang hebat, dan guntur menggelegar, diikuti hujan lebat dan badai, tetapi air hujan itu bukannya mematikan ledakan api ‘Gunung Kapi’ melainkan semakin mengobarkannya, suaranya mengerikan, akhirnya ‘Gunung Kapi’ dengan suara dahsyat meledak berkeping-keping dan tenggelam ke bagian terdalam dari bumi”
*
Demikian sepenggal isi Kitab Raja Purwa yang dibuat pujangga Jawa dari Kesultanan Surakarta, Ronggowarsito. Salinan kitab itu masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.
Kitab itu diterbitkan tahun 1869 atau 14 tahun sebelum letusan Krakatau (Inggris: Krakatoa volcanoes) pada 27 Agustus 1883.
Penyebutan “Gunung Kapi” tak banyak dikenal pada periode itu sehingga tulisan Ronggowarsito membingungkan banyak kalangan. Namun, deskripsi berikutnya dalam buku itu semakin mirip dengan peristiwa tsunami saat Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883:
“Air laut naik dan membanjiri daratan, negeri di timur Gunung Batuwara sampai Gunung Raja Basa dibanjiri oleh air laut; penduduk bagian utara negeri Sunda sampai Gunung Raja Basa tenggelam dan hanyut beserta semua harta milik mereka.”
Penggambaran Ronggowarsito ini mengusik kesadaran Gegar Prasetya, ahli tsunami dan kelautan. “Apakah tulisan Ronggowarsito ini semacam ramalan atas peristiwa akan datang (letusan Krakatau 1883) atau dia menggambarkan peristiwa letusan Krakatau di masa silam?” kata Gegar.
Mantan peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini menemukan naskah Ronggowarsito saat melakukan penelitian di perpustakaan Universitas Leiden (Belanda) untuk menyelesaikan program doktoral.
Old painting of Krakatoa (Krakatau)
“Saya membaca buku Ronggowarsito yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Padahal, aslinya beraksara dan berbahasa Jawa. Sebagai keturunan Jawa, hal ini sebenarnya memalukan,” kata dia.
Dari catatan Ronggowarsito yang penuh misteri ini, akhirnya Gegar berkeyakinan bahwa Krakatau pernah meletus sebelum tahun 1883.
Apalagi di buku edisi kedua yang diterbitkan pada 1885 atau dua tahun setelah letusan Krakatau, Ronggowarsito menulis penanda tahun dan deskripsi lokasi Gunung Kapi yang bisa dipastikan adalah Krakatau,
” …di tahun Saka 338 (416 Masehi) sebuah bunyi menggelegar terdengar dari Gunung Batuwara yang dijawab dengan suara serupa yang datang dari Gunung Kapi yang terletak di sebelah barat Banten baru…”
Peta Terakhir Jelang Letusan Dahsyat Krakatau
Setelah 200 tahun tertidur, pada 19 Mei 1883, Batavia (Jakarta) dikejutkan dengan dentuman keras, melebihi bunyi meriam terkeras. Kaca-kaca jendela bergetar hebat bahkan jam dinding berhenti berdetak karena sapuan gelombang kejut. Abu dan batu apung berjatuhan di Selat Sunda, menggiring orang untuk melongok ke puncak Perbuatan, salah satu puncak di pulau gunung api Krakatau, yang tiba-tiba meletus.
Namun, setelah kegaduhan itu, Krakatau kembali tenang. Pulau dengan tiga kawah itu tidur tenang, dikitari laut biru yang dalam. Setelah hari keempat berlalu dengan damai, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Frederik s’Jacob menyimpulkan saat yang bagus untuk melihat Krakatau dari dekat, melihat apa yang terjadi, dan yang lebih penting lagi: untuk menyimpulkan apakah kejadian serupa bisa terulang kembali. Dia mengutus insinyur pertambangan, AL Schuurman, pergi ke sana.
Berbeda dengan kekhawatiran s’Jacob, perusahaan pelayaran The Netherlands Indies Steamship Company melihat Krakatau sebagai potensi besar untuk mendatangkan turis sehingga dengan sigap menyodorkan kapal wisata, Gouverneur-Generaal Loudon.
“Pada Sabtu, 26 Mei, perwakilan perusahaan menempelkan pengumuman di klub Harmonie dan Concordia, mengiklankan ‘wisata menyenangkan’ dan mengumumkan harga yang kompetitif sebesar hanya 25 guilder,” tulis Winchester.
Pada Minggu sore, kapal uap berbobot mati 1.239 ton itu terisi penuh dengan 86 penumpang dan Schuurman berada di antara mereka sebagai wakil dari pemerintah. Setelah berlayar semalaman, kapten Loudon, TH Lindeman, membuang sauh jauh dari pulau itu. Dia meminjamkan perahu kepada Schuurman. Ditemani beberapa orang yang berani dan penuh rasa ingin tahu, Schuurman mendekati pulau dengan susah payah.
“Dengan mengikuti jejak orang yang paling berani atau mungkin yang paling tolol, kami mendaki lebih jauh tanpa halangan apa pun selain abu yang ambles di bawah kaki kami. Jalannya berada di atas bukit dari mana kami bisa melihat beberapa pokok pohon yang patah mencuat dari lapisan abu, beberapa tonggak menunjukkan bahwa cabang-cabangnya direnggut dengan paksa,” tulis Schuurman.
Kelompok kecil ini terus merangsek naik dengan nekad hingga mendekati dasar kawah, yang menurut Schuurman tertutup oleh “kerak buram berkilat-kilat,” yang kadang-kadang membara merah dan mengeluarkan ”gulungan asap dalam gelembung-gelembung raksasa yang banyak tetapi rapat”. Schuurman akhirnya kembali ke Loudon setelah Lindeman berkali-kali membunyikan klakson.
Pulau “gunung” Krakatau sebelum meletus
Dua bulan kemudian Krakatau berangsur dilupakan. Hingga pada 11 Agustus, kapten angkatan darat Belanda, HJG Ferzenaar, diperintahkan menyurvei Krakatau untuk kepentingan topografi militer. Dia melewatkan dua hari di sana dan mencatat ada 14 lubang semburan di atas pulau itu. Ia membuat peta pulau itu secara detial, termasuk titik-titik berwarna merah yang menjadi pusat semburan.
Dia memberi catatan bahwa survei yang lebih rinci “harus menunggu sampai nanti, sebab pengukuran di sana masih sangat berbahaya; setidaknya, saya tidak akan suka menerima tanggung jawab mengirimkan seorang surveyor.”
Namun, Krakatau tidak pernah bisa dipetakan lagi. Pada 27 Agustus 1883, pulau ini meledak dan hancur berkeping-keping. Peta Pulau Krakatau yang dibuat Ferzenaar adalah yang terakhir yang pernah dibuat.
Ledakan berkekuatan 21.574 kali bom atom (De Neve, 1984) itu tak hanya menghancurkan tubuh Pulau Krakatau. Kehancuran juga melanda pesisir Banten dan Lampung. Gelombang awan panas dan tsunami melanda, menghancurkan desa-desa di pesisir Banten dan Lampung, serta menewaskan lebih dari 36.000 jiwa.
Kengerian itu digambarkan oleh Muhammad Saleh dalam Syair Lampung Karam, satu-satunya laporan pandangan mata yang dibuat pribumi tentang letusan Krakatau. Muhammad Saleh lewat bait syairnya menggambarkan di atas langit terlihat seperti bunga api beterbangan seperti bahala yang diturunkan Tuhan dan membuat hati takut bukan kepalang. Kegelapan menyelimuti, guncangan gempa tiada henti, dan datang gelombang menghanyutkan. “Besar gelombang tidak terperi, lalulah masuk ke dalam negeri, berlarian orang ke sana kemari…,” tulis Muhammad Saleh.
Petaka Krakatau itu menambah derita rakyat yang beratus tahun disengsarakan ekonomi kolonial dan priyayi pribumi yang mengisap. “Tak disangsikan lagi bahwa wabah penyakit ternak dan wabah demam, serta kelaparan yang diakibatkannya, dan letusan Gunung Krakatau yang menyusul, telah menjadi pukulan hebat bagi penduduk,” tulis Sartono Kartodirdjo, dalam buku Pemberontakan Petani di Banten 1888.
Menurut sejarawan terkemuka ini, “… letusan Gunung Krakatau menyebabkan luas tanah yang tidak dapat digarap menjadi lebih besar lagi, terutama di bagian barat afdeling Caringin dan Anyer.” Kondisi kesengsaraan yang kemudian bertemu dengan gerakan sosial-keagamaan ini menjadi pemantik kesadaran rakyat untuk melawan Belanda, yang dianggap sebagai pendosa dan biang dari segala kesengsaraan itu.
Dua bulan setelah letusan Krakatau, kerusuhan pecah di Serang. Seorang serdadu Belanda ditikam, pelakunya kabur di tengah keramaian. Kejadian berulang sebulan kemudian. Serentetan perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan hingga pada Juli 1888 muncullah pemberontakan petani Banten.
Penemuan Telegram Kabarkan Dahsyatnya Letusan Krakatau
Tsunami yang menyebar luas ke berbagai penjuru dunia pada 27 Agustus 1883 juga terdeteksi dengan cepat bahwa sumbernya Krakatau. Sepanjang tanggal 27 Agustus dan sehari setelahnya, telegram dari Batavia (Jakarta), 160 km dari Krakatau yang berkali-kali dikirim ke Singapura. Dari sana kabar kemudian menyebar jauh hingga ke Inggris.
Bunyi telegram menyebutkan kepanikan suasana di Jakarta waktu itu. “Batavia saat ini hampir gelap gulita lampu gas menyala sepanjang malam tak dapat berkomunikasi dengan Anjer (Anyer), beberapa jembatan hancur, sungai-sungai meluap karena gelombang laut yang menuju daratan,” demikian isi telegram yang dikirim pada sore hari, 27 Agustus.
Kemudian, pukul 11.00 pada 28 Agustus, sebuah telegram kembali diterima di Singapura, “Anjer, Tjeringin, dan Telok Beting hancur lebur.” Setengah jam kemudian kabar buruk kembali dikirim, “Mercusuar di Selat Sunda menghilang.”
Berikutnya, telegram itu mengirim informasi lebih detail tentang gelombang laut setinggi 40 meter yang menghanyutkan terumbu karang seberat 600 ton ke daratan Anyer. Disebutkan, sedikitnya 36.417 orang tewas, sebagian besar karena gelombang tsunami, dan 165 desa hancur.
Berita yang cepat menyebar itu tak membuat warga Australia bagian selatan, Perth, Colombo, dan Rodriguez (sejauh 4.800 km), harus lama bertanya-tanya tentang suara gelegar letusan yang terdengar dari rumah mereka pada 27 Agustus. Demikian halnya warga dunia menjadi cepat tahu bahwa tsunami yang melanda pantai Sri Lanka dan perubahan tinggi permukaan air laut di Selandia Baru, Alaska dan Saluran Inggris pada hari itu adalah dampak Krakatau.
Naskah Kitab Raja Purwa disimpan di bagian naskah kuno, Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta
Para meteorolog dunia juga dengan cepat menghubungkan bahwa cuaca dingin yang terjadi sepanjang tahun 1883 hingga paruh pertama 1884 adalah berkat letusan Krakatau.
Awan dari abu vulkanik naik ke atas mencapai ketinggian 50-80 km dan mengitari bumi dengan kecepatan jet beberapa kali.
Suhu udara menjadi lebih dingin akibat sinar matahari terhalang abu vulkanik lebih dari satu tahun lamanya di beberapa wilayah bumi.
Volume material yang dikeluarkan diperkirakan sekitar 18-21 kilometer kubik yang terdiri dari 9-10 kilometer kubik batu-batu berat.
Letusan Krakatau merupakan bencana besar pertama di dunia yang terjadi setelah jaringan kabel telegraf menyambung di seluruh dunia. Dua belas tahun sejak Samuel Morse pada 24 Mei 1844 mengirimkan pesan pertama dari gedung Mahkamah Agung di Washington kepada koleganya Alfred Vail, di Baltimore, telegram sudah disambung ke istana besar di Buitenzorg ke kantor-kantor di Batavia. Jawa kemudian terhubung ke dunia internasional sejak 1859, melalui Singapura, sehingga berita letusan Krakatau bisa dengan cepat menyebar luas.
Letusan Krakatau dalam Catatan
Saat letusan Gunung Krakatau tahun 1883, teknik pendokumentasian canggih seperti sekarang belum ada. Sekalipun seismograf mulai dikembangkan, belum ada jaringan yang mendunia, apalagi seismograf yang beroperasi dalam radius 5.000 kilometer dari Krakatau ataupun teknologi satelit.
Rekaman suara, seperti telepon dan radio, telah ditemukan, tetapi belum digunakan di belahan timur dunia. Teknologi film sudah lahir, tetapi belum fleksibel dan mudah dibawa seperti saat ini. Keterbatasan ini membuat dokumentasi melalui tulisan lebih banyak tersedia. Korespondensi, jurnal, dan berita koran merupakan rekaman utama peristiwa letusan Krakatau.
Catatan-catatan dikumpulkan oleh Tom Simkin dan Richard S Fiske dalam bukunya, Krakatau 1883: The Volcanic Eruption and Its Effects. Sementara satu-satunya tulisan pribumi tentang letusan itu termuat dalam “Syair Lampung Karam” yang dialihaksarakan Suryadi Sunuri. Berikut beberapa ringkasan catatan tersebut.
Catatan Kapten Johan Lindeman yang membawa Kapal Governor General Loudon melalui Selat Sunda. Kapal berangkat dari Batavia membawa rombongan sebanyak 86 penumpang menuju  Krakatau.
Minggu, 26 Agustus 1883, kapal mulai dihujani abu dan batu apung. Angin mulai bertiup kencang dan kapal berjuang melewati Krakatau, lalu melepas jangkar di dekat Teluk Betung, Lampung. Senin, 27 Agustus, sekitar pukul 7 terlihat gelombang besar yang kemudian tumpah dan menyapu daratan. Dengan tenaga uap, kapal menuju Anyer, sementara hujan lumpur dan abu membuat lapisan tebal dan orang sulit bernapas.
Google Earth Map of Krakatoa, Pulau Krakatau, Sunda Strait
Suasana semakin gelap, dan pukul 10.30 pagi kegelapan total segelap malam menyelimuti. Disusul angin topan dan gelombang tinggi setinggi surga (langit) dan membuat orang-orang khawatir bakal terkubur gelombang, namun kapal terus melaju dengan kepala kapal menghadap ke gelombang. Sore hari, angin mereda. Kegelapan menyelimuti hingga subuh pukul 4 keesokan harinya, 28 Agustus. Hari itu, sekitar pukul 6.50 sore, sampai dengan selamat di Teluk Bantam. Dalam perjalanan pulang itu, terlihat bagian tengah Krakatau telah menghilang.
Laporan koran Java Bode. Senin 27 Agustus 1883, tiba-tiba, sekitar pukul 9, langit menjadi gelap. Orang-orang tidak bisa melihat dalam jarak dekat dan lilin-lilin pun dinyalakan. Abu mulai berjatuhan, sementara langit di bagian barat tampak cahaya kekuningan. Telegram pertama diterima dari Serang yang mengabarkan letusan Krakatau. Letusannya terdengar dan pijaran apinya terlihat pada malam hari di Serang. 28 Agustus 1883, dari Serang datang kabar kondisi hujan abu dan korban jiwa di Anyer.
GF Tydemann adalah seorang letnan kapal perang Koningin Emma der Nederlander. Tydemann menceritakan kedatangan tsunami. Pukul 9.30 pagi, kegelapan mulai menyelimuti. Tekanan udara di dalam kapal berubah drastis, menimbulkan tekanan aneh di telinga. Sementara itu, hujan abu semakin tebal. Bukan tekanan angin ternyata, melainkan tekanan air yang mengganggu kapal hingga pukul 12.00 siang. Air mulai naik dengan cepat sebelum sore hari. Begitu cepat dan tingginya sehingga segera menyapu bagian atas dermaga. Dan tiba-tiba air bergulung menuju permukiman, dari sana terdengar teriakan dan tangis ketakutan. Orang-orang dalam paniknya berusaha memanjat apa pun yang mengambang, ke kapal-kapal di dermaga, kapal uap pemerintah Siak, dan akhirya juga ke kapal Tydemann.
Satu-satunya kesaksian pribumi ditulis Muhammad Saleh dalam bentuk “Syair Lampung Karam”. Ahli filologi dan dosen/peneliti di Universitas Leiden, Suryadi Sunuri, mengalihaksarakan naskah yang aslinya ditulis dalam bahasa Arab-Melayu (Jawi). Setelah meneliti syair itu, Suryadi berpendapat, pengarang menulis syair itu di Kampung Bengkulu yang kemudian dikenal sebagai Bencoolen Street di Singapura. Muhammad Saleh menyatakan datang dari Tanjung Karang, Lampung, dan mengaku menyaksikan langsung malapetaka akibat letusan Krakatau.
Boleh jadi Saleh mengungsi ke Singapura lantaran bencana itu. Berikut penggalan syairnya yang menceritakan kedahsyatan letusan Krakatau:
….Di dalam hal demikian peri,
Berbunyi meriam tiga kali,
Kerasnya itu tidak terperi,
Bertambah gentar seisi negeri.
Isi negeri sangat ketakutan,
Kerasnya bunyinya tiada tertahan,
Turunlah angin sertanya hujan,
Mengadang mata umat sekalian
Banyaklah lari membawa hartanya ,
Di dalam perahu, sampan, koleknya,
Dipukul gelombang hilang dianya
Harta, perahu, habis semuanya…..
Kebangkitan Kembali Roh Krakatau dari Dasar Laut
Kebangkitan roh Krakatau itu awalnya dilihat oleh sekelompok nelayan pada suatu sore, 29 Juni 1927. “Dengan suara bergemuruh, gelembung-gelembung gas yang sangat besar mendadak menyembul ke permukaan laut,” tulis Simon Winchester (2003), menggambarkan kemunculan gunung baru dari bekas kaldera Krakatau, “Gelembung-gelembung itu meledak menjadi awan-awan yang menyemburkan abu dan gas belerang yang berbau busuk.”
Mendengar kabar samar dari warga, pada Januari 1928, geolog Belanda, JMW Nash, datang ke bekas kaldera Krakatau. Dia pun menyaksikan munculnya pulau baru atau lebih persisnya lapisan pasir berbentuk separuh lingkaran sepanjang sekitar 10 meter. Di pusat lengkungan, dia melihat gundukan batuan setinggi 8,93 meter di atas permukaan laut yang masih berasap. Lapisan pasir ini merupakan embrio kelahiran pulau gunung api yang diberi nama: Anak Krakatau. Gundukan yang menjadi pusat semburan itu kemudian terus menyembul ke atas dan menjadi kawahnya.
Kemunculan Anak Krakatau persis dengan ramalan Verbeek. Pada 1885, setelah beberapa kali kunjungan ke Krakatau, dia memperingatkan tentang kemungkinan kebangkitan roh Krakatau, “…jika gunung api ini melakukan aktivitas baru, diperkirakan pulau-pulau akan muncul di tengah cekungan laut yang dikitari oleh puncak Rakata, Sertung, dan Panjang, sebagaimana Pulau Kaimeni muncul dalam Kelompok Santorini, dan persis sebagaimana kawah Danan dan Perbuatan itu sendiri dulu dibentuk di laut di dalam dinding-dinding kawah purba.”
Ledakan dahsyat dari bawah laut yang mengawali lahirnya Anak Krakatau terekam pada tahun 1928-1929.
Kelahiran kembali Anak Krakatau pasca-kehancuran 1883 menguatkan kisah tentang Proto Krakatau. Spekulasi ini awalnya disampaikan oleh George Adriaan De Neve yang menduga kaldera kuno Krakatau meledak pada abad ketiga masehi. Dia mendasarkan dugaannya pada dokumen sejarah dan deposit vulkanik yang terdapat di bawah laut Selat Jawa.
“Ada bukti bahwa jauh sebelum letusan 1883—barangkali 60.000 tahun yang lalu atau sebelum itu—ada sebuah gunung yang jauh lebih besar yang oleh beberapa orang geolog disebut Krakatau Purba yang mereka yakini setinggi 6.000 kaki dan terpusat di sebuah pulau yang nyaris bundar sempurna, dengan diameter 9 mil,” sebut Winchester.
Namun, sebuah letusan dahsyat meluluhlantakkan pulau itu sehingga terbentuk gugusan pulau yang terdiri dari empat buah pulau kecil. Di ujung utara gugusan itu ada dua pulau karang yang rendah dan berbentuk bulan sabit, yang di timur disebut Panjang dan di sebelah barat disebut Sertung.
Di dalam lingkaran yang dibentuk kedua pulau tadi, terdapat Polish Hat, yaitu potongan kecil batuan vulkanik, dan sebuah pulau yang terdiri dari tiga puncak, yaitu Rakata di puncak selatan, Danan di bagian tengah, dan Perbuatan di utara.
Keberadaan pulau-pulau ini sebelum letusan 1883 memang tak terbantahkan. Dari laporan-laporan perjalanan penjelajah Barat, pulau-pulau itu dulunya telah dihuni. Kapal Resolution dan Discovery yang dipimpin penjelajah Inggris terkenal, Kapten James Cook, pernah berhenti di Pulau Krakatau dua kali.
Kedua kapal itu sedang dalam perjalanan mencari dunia selatan. Seperti yang dicatat oleh kolega Cook, botanikus Joseph Banks, pada Januari 1771,
“Di malam hari membuang sauh di bawah pulau tinggi yang di kalangan para pelaut disebut Cracatoa dan oleh orang-orang India Pulo Racatta.”
Banks melanjutkan laporannya, “… pagi ini ketika bangun kami melihat ada banyak rumah dan pohon-pohon perkebunan di Cracatoa, jadi barangkali kapal bisa menambah bekal di sini.” Enam tahun kemudian Cook kembali singgah di sana dan masih menemukan desa-desa dengan ladang lada dan aneka tanaman lainnya.
Jauh sebelum para geolog berspekulasi soal keberadaan Proto Krakatau, orang-orang Jawa kuno sebenarnya telah memiliki keyakinan tentang keberadaan gunung ini.
Bahkan, dalam mitologi Jawa, konon, Pulau Sumatera dan Jawa awalnya masih menyatu. Letusan Krakatau dianggap telah memisahkan daratan ini hingga menjadi dua pulau, seperti dituturkan dalam Kitab Raja Purwa yang ditulis pujangga Surakarta, Ronggowarsito, pada tahun 1869.
Present time, this volcano rise again above sea level and local people named it “Anak Krakatau” or “Child of Krakatoa”.  Anak Krakatau (Krakatao), Sunda Straits between Java and Sumatera, Indonesia
Alkisah, daratan Jawa dan Sumatera waktu itu masih menyatu. Suatu ketika, Sri Maharaja Kanwa, yang memimpin tanah Jawa, terbawa angkara dan menikam seorang pertapa yang bernama Resi Prakampa hingga tewas. Seketika itu juga Gunung Batuwara terdengar bergemuruh. Gunung Kapi—nama lama Krakatau—mengimbanginya dengan letusan dahsyat, keluar apinya merah mengangkasa, guruh guntur, air pasang menggelora, lalu datang bencana berupa air bah dan hujan lebat. Nyala api yang merah membara tidak terpadamkan oleh air, malah semakin besar. Gunung Kapi runtuh bercerai-berai masuk ke dalam bumi.
Air laut menggenangi daratan, mencapai Gunung Batuwara atau Gunung Pulosari ke timur hingga Gunung Kamula, Gunung Pangrango atau Gunung Gede, dan ke barat hingga Gunung Rajabasa di Lampung. Ketika laut telah surut kembali, Krakatau dan tanah-tanah di sekitarnya telah menjadi lautan. Di bagian barat laut dinamakan Pulau Sumatera dan di bagian timur dinamakan Jawa.
Narasi dalam Kitab Raja Purwa ini, bagi sebagian ilmuwan Barat hanyalah dongeng yang awalnya dipandang sebelah mata. Kitab ini nyaris tak pernah menjadi rujukan penelitian tentang Krakatau. Namun, belakangan, temuan lapisan endapan yang jauh lebih tua dibandingkan letusan 1883 menguatkan bahwa Krakatau pernah meletus sebelum tahun itu.
“Sebelum pembentukan kaldera 1883, Krakatau minimal dua kali meletus. Kami menemukan dua kelompok hasil letusan kaldera di bawah lapisan endapan yang terbentuk pada tahun 1883, lokasi persisnya di singkapan timur-tenggara Pulau Rakata dan Panjang,” kata Sutikno.
Pendataan karbon yang dilakukan oleh Haraldur Sigurdsson tahun 1999 menemukan, di bawah endapan akibat letusan 1883 terdapat endapan yang terbentuk pada tahun 1215 masehi dan 6600 sebelum masehi.
Gunung Anak Krakatau saat meletus pada Agustus 2012 justru menarik sejumlah wisatawan local dan manca negara.
Ahli tsunami, Gegar Prasetya, juga meyakini keberadaan Krakatau Purba yang pernah meletus jauh lebih hebat dibandingkan letusan tahun 1883. Bahkan, tidak menutup kemungkinan “dongeng” tentang pemisahan Jawa dan Sumatera akibat letusan Krakatau itu adalah kenyataan geologi.
Ken Wohletz dari Los Alamos National Laboratory telah membuat simulasi tentang kemungkinan pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera itu akibat letusan leluhur Anak Krakatau. Kesimpulannya, letusan super (supereruption) berskala 8 dalam indeks letusan gunung api (volcanic explosivity index /VEI) sebagaimana letusan gunung api super (supervolcano) Toba di Sumatera Utara bisa sangat mungkin pernah terjadi di Krakatau.
Tak gampang membayangkan bagaimana kedahsyatan letusan Proto Krakatau itu, mengingat letusan Krakatau pada 1883 saja sudah sedemikian mengerikan dan menimbulkan petaka tak terperi.
Di Tahun Yang Sama Saat Krakatau Meletus, Sebuah Komet Melintas Dekat Sekali Dengan Bumi
Ilmuwan dan para astronomer sangat yakin bahwa sebuah komet sedang mendekat dengan Bumi pada tahun yang sama disaat gunung Krakatau meletus. Perlu diingat bahwa ini komet dan jauh lebih besar, bukan asteroid.
Menurut Bronilla, salah satu astronomer dari Meksiko menyatakan, berat komet adalah jutaan ton, dan berjarak hanya 600 – 8000 kilometer saja dari permukaan Bumi.
asteroids comets
Dan berukuran lebar sekitar 50 kilometer dengan panjang hingga 800 kilometer!
Para ilmuwan percaya bahwa komet sebesar tersebut sama dengan ukuran komet yang memusnahkan dinosaurus puluhan juta tahun yang lalu, yaitu seberat delapan kali dari komet Halley.
Sebagai bukti adalah ketika foto komet diambil pada 1883, sempat digembar-gemborkan sebagai bukti fotografi pertama UFO.
Namun para ilmuwan dari Universitas Nasional Meksiko kini meyakini bahwa kemungkinan benda ini adalah komet raksasa yang nyaris menabrak bumi dengan kekuatan yang sama besar dengan obyek pemusnah dinosaurus.
Astronom Meksiko, Jose Banilla yang telah mengambil gambar ini telah memaparkan adanya sesuatu yang melintas di depan matahari pada 12 Agustus 1883.
Ketika dirilis ke publik pada 1886 di Majalah L’Astronomie, benda yang terlihat dalam foto tersebut disebut sebagai foto pertama UFO.
Ketika foto ini diambil pada 1883, sempat digembar-gemborkan sebagai bukti fotografi pertama UFO.
Sebuah studi yang telah dilakukan oleh Universitas Nasional Meksiko menunjukkan bahwa benda itu adalah sebuah komet yang sedang dalam proses penghancuran.
“Menurut hipotesa kerja kami, apa yang telah diamati Bonilla pada 1883 adalah sebuah komet yang telah terfragmentasi saat sedang mendekati permukaan bumi,” tulis Hector Javier Durand Manterola, penulis laporan tersebut.
“Dengan menggunakan hasil yang dilaporkan Bonilla, kita dapat memperkirakan jarak obyek yang mendekati permukaan bumi tersebut.” “Menurut perhitungan kami, jarak obyek yang melintas itu antara 532 km dan 8.062 km sedangkan lebarnya antara 46m dan 795m.”
Massa utuh komet tersebut kemungkinan mencapai delapan kali massa komet Halley. Tempo yang dibutuhkan obyek itu untuk melintasi matahari kalau dikombinasikan dengan lokasi observatorium Bonilla, menurut perhitungan jarak obyek itu paling jauh sekitar 8.000 km.
Para ilmuwan meyakini bahwa komet itu memiliki massa yang sama dengan obyek yang telah memusnahkan dinosaurus atau delapan kali komet Halley.
Lukisan Rp 1,1 Trilyun Ini Diyakini Terilhami dampak Letusan Gunung Krakatau
Lukisan ‘The Scream’ menggambarkan seorang pria berwajah murung dengan kedua tangan memegang dagu dengan latar belakang langit merah. Bagi pengamat seni, karya Munch ini disebut-sebut hanya kalah dari lukisan Leonardo Da Vinci ‘Monalisa’.
The Scream painting
Lukisan ‘The Scream’ menggambarkan seorang pria berwajah murung dengan kedua tangan memegang dagu dengan latar belakang langit merah. Bagi pengamat seni, karya Munch ini disebut-sebut hanya kalah dari lukisan Leonardo Da Vinci ‘Monalisa’.
Dalam catatan hariannya, Edward Munch menulis ilham tentang lukisan yang dibuatnya pada 1883:
“Saya sedang berjalan di sebuah jalan kecil dengan dua orang teman, matahari sedang tenggelam, mendadak langit berubah menjadi merah darah. Saya berhenti, merasa lelah, dan bersandar di pagar, di atas fjord dan kota yang biru kehitaman tampak darah dan lidah-lidah api…
..teman-teman berjalan terus, dan saya berdiri di sana gemetar dan diliputi rasa cemas, dan saya merasakan jeritan yang tidak henti-hentinya melintas di alam.”
Banyak pihak meyakini, lukisan itu dibuat atas pengaruh cuaca alam Eropa yang saat itu dipengaruhi oleh letusan Gunung Krakatau, 27 Agustus, 130 tahun silam. Latar lukisan tersebut adalah langit berwarna merah yang memang menjadi wajah Eropa sehari-hari setelah letusan terbesar gunung Krakatau.
Balai Lelang Sotheby di New York pada 2012 lalu berhasil menjual lukisan ini seharga USD 120 juta atau sekitar Rp 1,1 triliun. Lukisan bertajuk ‘The Scream’ atau ‘Jeritan’ itu menjadi salah satu yang paling mahal di dunia. Pada lelang Mei 2012 tahun lalu itu, harga awal yang dipatok sebesar USD 80 juta.
https://i0.wp.com/media-cache-ec0.pinimg.com/736x/d9/1e/89/d91e893a06e933f20a1d2f8d457ddb51.jpg
Lukisan “Sunset over the Ice on Chaumont Bay” di danau Ontario, karya Frederic Edwin Church yang diyakini juga terinspirasi oleh dampak letusan dari gunung Krakatau (Sunset over the Ice on Chaumont Bay, Lake Ontario, by Frederic Edwin Church, December 28, 1883 – showing a sunset tinted with the vivid crepuscular colors known to have been caused by Krakatoan dust in the upper atmosphere.)
Setelah persaingan harga selama kurang lebih 15 menit, akhirnya penjual melepas lukisan itu pada harga USD 120 juta. Harga lukisan itu memecahkan rekor sebelumnya yaitu lukisan bernama ‘Nude, green leaves and bust’ karya Pablo Picasso yang dihargai USD 106 juta.
Pada saat penjualan lukisan ini, ruang di Sotheby langsung meledak dengan tepukan ketika palu diketukkan sebagai penanda lelang berakhir. Edward Munch membuat empat versi lukisan ‘The Scream’, tiga di antaranya disimpan di museum Norwegia, dua di antaranya pernah dicuri. Versi keempat bisa bernilai mahal karena bisa dimiliki perorangan.
Efek letusan Krakatau memang terasa sampai Eropa dan Amerika Utara. Jutaan ton debu dari letusan sekitar 10.000 kali bom atom itu dilontarkan ke langit. Debu itu menyebar ke seluruh dunia hingga menampakkan pemandangan yang dramatis pada langit Eropa. Munch melukis The Scream, 10 tahun setelah letusan Krakatau terjadi.
Banyak yang meyakini benar, namun ada juga yang meragukan efek di lukisan The Scream itu karena Krakatau. Ada yang menggarisbawahi bahwa Munch adalah pelukis ekpsresif yang melukis tidak hanya berbasis pada apa yang dia saksikan.
Tapi di luar The Scream, nyatanya banyak pula lukisan yang dilatarbelakangi oleh pemandangan atmosferik akibat letusan Krakatau.
Salah satunya adalah ‘Sunset over the Ice on Chaunmont Bay, Lake Ontario karya Frederic Edwin Church. Lukisan yang dibuat pada Desember 1883 itu sampai sekarang menjadi karya seni saksi letusan mahadahsyat.

(KOMPAS.COM, Tim Penulis: Ahmad Arif, Indira Permanasari, Yulvianus Harjono, C Anto Saptowalyono. Litbang: Rustiono / merdeka.com 

Misteri Letusan Gunung Toba Supervolcano Letusan Terdahsyat Sepanjang Masa




Selamat Malam Semuanya Kali ini saya mengulas tentang letusan Gunung Terdahsyat yang Tercatat dalam Kehidupan Manusia. Letusan Gunung Toba Super Volcano (Toba Purba)
Gunung Toba adalah gunung api raksasa (super volcano) yaitu gunung aktif dalam kategori sangat besar, diperkirakan meletus terakhir sekitar 74.000 tahun lalu.
Letusan Gunung Tambora jika dibandingkan dengan letusan maha dahsyat Gunung Toba ini, maka Gunung Tambora tidaklah ada apa-apanya. Apalagi jika dibandingkan dengan letusan Gunung Kratakau yang kalah jauh dengan Gunung Tambora.
Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano
Jadi, misalkan letusan gunung St. Helen di Washington USA yang meletus tahun 1980 mempunyai angka letusan pada skala 1, maka gunung Krakatau yang meletus tahun 1883 berskala 18, atau 18 kali lebih besar (1:18).
Letusan gunung St. Helen , 8 Mei 1980
Sedangkan jika dibandingkan dengan skala gunung Tambora, letusan gunung St. Helen sangat jauh karena gunung Tambora yang meletus tahun 1815 berskala 80, atau 80 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen (1:80).
Apalagi jika letusan gunung St. Helen dibandingkan dengan letusan gunung Toba yang terakhir, sekitar 74-75 ribu tahun lalu tersebut sangatlah drastis besaran skalanya yaitu 2800, atau 2800 kali lebih besar dari letusan gunung St. Helen! Alias satu banding 2800 (1:2800)
Letusan Gunung Tambora adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah diketahui oleh peradaban manusia (baca artikel: Misteri dan Kronologi Meletusnya Tambora, Tiga Kerajaan Lenyap Seketika).
Dan letusan Gunung Krakatau adalah letusan gunung terdahsyat yang pernah tercatat di era zaman modern.
Sedangkan letusan Gunung Toba sama sekali tak tercatat di dalam buku, namun terlihat bukti-bukti ilmiahnya dimasa kini.

Bukti ilmiah

Pada tahun 1939, geolog Belanda Van Bemmelen melaporkan, Danau Toba, yang panjangnya 100 kilometer dan lebarnya 30 kilometer, dikelilingi oleh batu apung peninggalan dari letusan gunung.
Karena itu, Van Bemmelen menyimpulkan, Toba adalah sebuah gunung berapi. Belakangan, beberapa peneliti lain menemukan debu riolit (rhyolite) yang seusia dengan batuan Toba di Malaysia, bahkan juga sejauh 3.000 kilometer ke utara hingga India Tengah.
Letusan supervolcano Yellowstone yang terkenal dahsyat masih kalah dengan letusan supervolcano Toba
Beberapa ahli kelautan pun melaporkan telah menemukan jejak-jejak batuan Toba di Samudra Hindia dan Teluk Benggala.
Para peneliti awal, Van Bemmelen juga Aldiss dan Ghazali (1984) telah menduga Toba tercipta lewat sebuah letusan mahadahsyat.
Namun peneliti lain, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), serta Nishimura (1984), menduga kaldera itu tercipta lewat beberapa kali letusan.
Peneliti lebih baru, Knight dan sejawatnya (1986) serta Chesner dan Rose (1991), memberikan perkiraan lebih detail: kaldera Toba tercipta lewat tiga letusan raksasa.
Penelitian seputar Toba belum berakhir hingga kini. Jadi, masih banyak misteri di balik raksasa yang sedang tidur itu. Salah satu peneliti Toba angkatan terbaru itu adalah Fauzi dari Indonesia, seismolog pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Sarjana fisika dari Universitas Indonesia lulusan 1985 ini berhasil meraih gelar doktor dari Renssealer Polytechnic Institute, New York, pada 1998, untuk penelitiannya mengenai Toba.
Perbandingan jarak lontaran batu vulkanik antara letusan gunung Krakatau, Tambora dan Toba

Berada di tiga lempeng tektonik

Letak Gunung Toba (kini: Danau Toba), di Indonesia memang rawan bencana. Hal ini terkait dengan posisi Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik, yakni Eurasia, Indo-Australia dan Lempeng Pasifik. Sebanyak 80% dari wilayah Indonesia, terletak di lempeng Eurasia, yang meliputi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Banda.
Lempeng benua ini hidup, setiap tahunnya mereka bergeser atau menumbuk lempeng lainnya dengan jarak tertentu. Lempeng Eurasia yang merupakan lempeng benua selalu jadi sasaran.
Lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun
Lempeng Indo-Australia misalnya menumbuk lempeng Eurasia sejauh 5-7 cm per tahun. Atau Lempeng Pasifik yang bergeser secara relatif terhadap lempeng Eurasia sejauh 11 cm per tahun. Dari pergeseran itu, muncullah rangkaian gunung, termasuk gunung berapi Toba.
Jika ada tumbukan, lempeng lautan yang mengandung lapisan sedimen menyusup di bawahnya lempeng benua. Proses ini lantas dinamakan subduksi atau penyusupan.
Gunung hasil subduksi, salah satunya Gunung Toba. Meski sekarang tak lagi berbentuk gunung, sisa-sisa kedasahyatan letusannya masih tampak hingga saat ini.
Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk akibat meletusnya Gunung Toba sekitar tiga kali yang pertama 840 ribu tahun lalu dan yang terakhir 74.000 tahun lalu.
Bagian yang terlempar akibat letusan itu mencapai luas 100 km x 30 km persegi. Daerah yang tersisa kemudian membentuk kaldera. Di tengahnya kemudian muncul Pulau Samosir.

Letusan

Sebelumnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali.
  • Letusan pertama terjadi sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.
  • Letusan kedua yang memiliki kekuatan lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu. Letusan ini membentuk kaldera di utara Danau Toba. Tepatnya di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol. Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dashyat.
  • Letusan ketiga 74.000 tahun lalu menghasilkan kaldera, dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di tengahnya.
Gunung Toba ini tergolong Supervolcano. Hal ini dikarenakan Gunung Toba memiliki kantong magma yang besar yang jika meletus kalderanya besar sekali. Volcano kalderanya ratusan meter, sedangkan Supervolacano itu puluhan kilometer.
Terlihat pemandangan kaldera gunung Toba yang kini bernama Danau Toba dan ditengahnya terdapat pulau Samosir yang terbentuk karena adanya gaya up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Yang menarik adalah terjadinya anomali gravitasi di Toba. Menurut hukum gravitasi, antara satu tempat dengan lainnya akan memiliki gaya tarik bumi sama bila mempunyai massa, ketinggian dan kerelatifan yang sama.
Jika ada materi yang lain berada di situ dengan massa berbeda, maka gaya tariknya berbeda. Bayangkan gunung meletus.
Banyak materi yang keluar, artinya kehilangan massa dan gaya tariknya berkurang. Lalu yang terjadi up-lifting (pengangkatan). Inilah yang menyebabkan munculnya Pulau Samosir.
Magma yang di bawah itu terus mendesak ke atas, pelan-pelan. Dia sudah tidak punya daya untuk meletus. Gerakan ini berusaha untuk menyesuaikan ke normal gravitasi.
Ini terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Hanya Samosir yang terangkat karena daerah itu yang terlemah. Sementara daerah lainnya merupakan dinding kaldera.
Toba “Supervolcano” Lake and Samosir Island
Sedangkan nenek moyang manusia modern, Homo sapiens, mulai muncul dan tinggal di kawasan Afrika 150.000-200.000 tahun lalu. Mereka mulai bermigrasi ke luar Afrika 70.000 tahun lalu dan menyebar ke seluruh dunia. Pada periode yang lebih kurang sama, 74.000 tahun lalu, terjadi letusan dahsyat Gunung Toba ini.
Apabila dikaitkan dengan letusan Toba, temuan itu juga menunjukkan bahwa nenek moyang kita ternyata mampu bertahan dari bencana dahsyat yang berpotensi memusnahkan kehidupan.
Skenario survival tersebut didukung bukti dari rekam jejak DNA pada populasi di kawasan Wallacea yang menunjukkan campuran gen dengan populasi dari kawasan Sunda Besar (yang sekarang dikenal sebagai kawasan Asia Tenggara).
Selain itu, ada temuan fosil dan peninggalan manusia purba di Gua Niah, Sarawak. Dari umurnya, temuan Niah mengindikasikan bahwa manusia tidak musnah karena letusan Toba.
Para ilmuwan sangat meyakini bahwa semua supervolcano yang ada di dunia termasuk Gunung Toba pasti akan meletus kembali. Namun tidak ada yang dapat memastikan dengan akurat kapan meletus kembali. Yang ada hanyalah perkiraan.
Letusannya bisa saja terjadi esok hari atau ribuan tahun lagi. Yang jelas suatu saat danau Toba yang tercipta akibat hasil dari letusan gunung Toba pasti akan meletus kembali.

 (sumber: wikipedia, yang juga ditulis oleh penulis sendiri pada 30 Juli 2006 indocropcircles)


letusan Gunung Tambora Letusan Terdahsyat yang tercatat di masa modern






Kembali saya menyapa sahabat negeriku sekalian
malam yang sunyi ini terasa indah sekali saat kita mengingat sejarah yang ada di negeri ini
kali ini akan aku ceritakan kronologi letusan terdahsyat yang tercatat manusia modern ini
ya letusan gunung tambora di mana tiga Kerajaan lenyap seketika
langsung saja kita simak

Gunung Tambora, Pulau Sumbawa Indonesia
Letusan Terakhir                       : Start, 10 April 1815 – Erupt, 17 April 1815.
Muntahkan Magma                   : 100 km³.
Lepasan abu (kubik)                 : 400 km³ debu ke angkasa.
Tinggi abu                                    : 44 km dari permukaan tanah.
Lontaran abu                              : 1300km.
Radius suara letusan                : 2600 km
Endapan aliran piroklastik  : 7-20m
Tsunami sepanjang pantai  : sejauh 1200km, tinggi 1-4m, di Maluku Tsunami hingga 2 meter
Korban letusan langsung      : 117.000 korban jiwa.
Kerajaan yang lenyap akibat letusan: Kerajaan Tambora, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Sanggar.

A Year Without Summer…

10 April pada tahun 1815. Gunung Tambora meletus dengan begitu dahsyat, bahkan jauh lebih dahsyat dari Gunung Krakatau. Suara guruh ini terdengar sampai ke pulau Sumatera pada tanggal 10-11 April 1815 (lebih dari 2.600 km dari gunung Tambora) yang awalnya dianggap sebagai suara tembakan senapan. Pada pukul 7:00 malam tanggal 10 April, letusan gunung ini semakin kuat.
Tiga lajur api terpancar dan bergabung. Seluruh pegunungan berubah menjadi aliran besar api. Batuan apung dengan diameter 20 cm mulai menghujani pada pukul 8:00 malam, diikuti dengan abu pada pukul 9:00-10:00 malam.
Aliran piroklastik panas mengalir turun menuju laut di seluruh sisi semenanjung, memusnahkan desa Tambora. Ledakan besar terdengar sampai sore tanggal 11 April. Abu menyebar sampai Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bau “nitrat” tercium di Batavia dan hujan besar yang disertai dengan abu tefrit jatuh, akhirnya letusan Tambora kembali mulai mereda antara tangal 11 dan 17 April 1815 dan sekaligus melenyapkan tiga kerajaan pada masa itu….
Debu vulkanik menyebar setinggi puluhan kilometer mempengaruhi iklim seantero Bumi, menutup sinar matahari selama berbulan-bulan lamanya… Bumi bagian utara dan selatan tetap menjadi dingin… Di Eropa dan Amerika Utara pun matahari tetap tertutup debu vulkanik dan membuat daerah tersebut tetap dingin walau dimusim panas. Jutaan orang kelaparan, mayat terkapar bergelimpangan, semua akibat tumbuhan layu dan mati tanpa adanya matahari sepanjang tahun. Salju tak kunjung cair, mengerikan…. masa itu dikenal dunia sebagai “Tahun yang tak melalui musim panas” atau“A year without summer”….
gunung api volcano
Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Sejarah Letusan
Dengan menggunakan teknik penanggalan radiokarbon, dinyatakan bahwa gunung Tambora telah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815, tetapi besarnya letusan tidak diketahui.
Perkiraan ketiga letusan Tambora terjadi pada tahun:
– Letusan pertama: 39.910 sebelum masehi, selama ± 200 tahun
– Letusan kedua: 3.050 sebelum masehi
– Letusan ketiga: 740 sebelum masehi, selama ± 150 tahun.
Ketiga letusan tersebut memiliki karakteristik letusan yang sama. Masing-masing letusan memiliki letusan di lubang utama, tetapi terdapat pengecualian untuk letusan ketiga.
https://i2.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c6/Greenland_sulfate.png
Jumlah konsentrasi sulfat di inti es dari Tanah Hijau tengah, tarikh tahun dihitung dengan variasi isotop oksigen musiman. Terdapat letusan yang tidak diketahui pada tahun 1810-an. Sumber: Dai (1991 / wikimedia.org)
Namun pada letusan ketiga, tidak terdapat aliran piroklastik.
Pada tahun 1812, gunung Tambora menjadi lebih aktif, dengan puncak letusannya terjadi pada bulan April tahun 1815.
Besar letusan ini masuk ke dalam skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI), dengan jumlah semburan tefrit sebesar 1.6 × 1011 meter kubik.
Karakteristik letusannya termasuk letusan di lubang utama, aliran piroklastik, korban jiwa, kerusakan tanah dan lahan, tsunami dan runtuhnya kaldera.
Letusan ketiga ini mempengaruhi iklim global dalam waktu yang lama. Aktivitas Tambora setelah letusan tersebut baru berhenti pada tanggal 15 Juli 1815.
Pada saat letusan terjadi, beberapa orang Belanda yang berada di Surabaya mencatat dalam buku hariannya mengaku mendengar letusan tersebut, juga beberapa orang di benua Australia bagian Barat Laut.
Mereka mengira itu hanyalah suara gemuruh guntur karena tiba-tiba muncul awan mendung yang membuat redupnya sinar matahari.
Tambora caldera (indonesiaarchipelago.com)
Namun mereka tidak yakin karena yang mereka yakini awan, ternyata adalah asap dan debu vulkanis.
Dan yang turun ke bumi bukanlah air melainkan debu dan kerikil kecil!
Letusan Gunung Tambora merupakan letusan gunung terdahsyat sepanjang masa yang pernah tercatat pada era modern.
Pada saat gunung Tambora meletus, daerah radius kurang lebih 600 km dari gunung Tambora gelap gulita sepanjang hari hampir seminggu lamanya.
Letusan yang terdengar, melebihi jarak 2000 km dan suhu Bumi menurun hingga beberapa derajat yg mengakibatkan bumi menjadi dingin akibat sinar matahari terhalang debu vulkanis selama beberapa bulan.
Letusan Tambora (ilustrasi lukisan kuno)
Sehingga berdampak juga ke daerah Eropa & Amerika Utara mengalami musim dingin yg panjang.
Sedangkan Australia dan daerah Afrika Selatan turun salju di saat musim panas.
Peristiwa ini dikenal dengan “The year without summer” atau tahun tanpa musim panas.
Aktivitas selanjutnya kemudian terjadi pada bulan Agustus tahun 1819 dengan adanya letusan-letusan kecil dengan api dan bunyi gemuruh disertai gempa susulan yang dianggap sebagai bagian dari letusan tahun 1815.
Letusan ini masuk dalam skala kedua pada skala VEI.
Sekitar tahun 1880 (± 30 tahun), Tambora kembali meletus, tetapi hanya di dalam kaldera. Letusan ini membuat aliran lava kecil dan ekstrusi kubah lava, yang kemudian membentuk kawah baru bernama Doro Api Toi di dalam kaldera.
letusan Tambora dalam lukisan (meteoweb.eu)
Gunung Tambora masih berstatus aktif. Kubah lava kecil dan aliran lava masih terjadi pada lantai kaldera pada abad ke-19 dan abad ke-20.
Letusan terakhir terjadi pada tahun 1967, yang disertai dengan gempa dan terukur pada skala 0 VEI, yang berarti letusan terjadi tanpa disertai dengan ledakan.
Total volume yang dikeluarkan Gunung Tambora saat meletus hebat hampir 200 tahun silam mencapai 150 kilometer kubik atau 150 miliar meter kubik. Deposit jatuhan abu yang terekam hingga sejauh 1.300 kilometer dari sumbernya.
Peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Igan Supriatman Sutawidjaja, dalam tulisannya, ”Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano”, menyebutkan, distribusi awan panas diperkirakan mencapai area 820 kilometer persegi.
Kaldera gunung Tambora (indonesiaarchipelago.com)
Jumlah total gabungan awan panas (piroklastik) dan batuan totalnya 874 kilometer persegi. Ketebalan awan panas rata-rata 7 meter, tetapi ada yang mencapai 20 meter.
Ahli botani Belanda, Junghuhn, dalam ”The Eruption of G Tambora in 1815”, menulis, empat tahun setelah letusan, sejauh mata memandang adalah batu apung.
Pelayaran terhambat oleh batuan apung berukuran besar yang memenuhi lautan. Segala yang hidup telah punah. Bumi begitu mengerikan dan kosong.
Junghuhn membuat deskripsi itu berdasarkan laporan Disterdijk yang datang ke Tambora pada 16 agustus 1819 bersama The Dutch Residence of Bima. Letusan Tambora memang dahsyat, bahkan terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah manusia modern.
Magnitudo letusan Tambora, berdasarkan Volcanic Explosivity Index (VEI), berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari letusan Gunung Toba (Sumatera Utara), sekitar 74.000 tahun lalu, yang berada pada skala 8.
Artifak peninggalan penduduk asli kerajaan Tambora yang ikut terkubur abu vulkanik (newswise.com)
Letusan gunung Tambora juga tercatat sebagai letusan gunung yang paling mematikan.
Jumlah korban tewas akibat gunung ini sedikitnya mencapai 71.000 jiwa tapi sebagian ahli menyebut angka 91.000 jiwa.
Sebanyak 10.000 orang tewas secara langsung akibat letusan dan sisanya karena bencana kelaparan dan penyakit yang mendera.
Jumlah ini belum termasuk kematian yang terjadi di negara-negara lain, termasuk Eropa dan Amerika Serikat, yang didera bencana kelaparan akibat abu vulkanis Tambora yang menyebabkan tahun tanpa musim panas di dua benua itu.
Bahkan di Eropa, Napoleon Bonaparte kalah perang karena efek dari gunung Tambora ini.
Berikut ringkasan laporan kesaksian saat letusan Gunung Tambora terjadi, yang disarikan dari ”Transactions of the Batavian Society” Vol VIII, 1816, dan dan ”The Asiatic Journal” Vol II, Desember 1816.
Selama enam minggu arkeolog menggali telah menemukan sisa dua mangkok untuk orang dewasa berbahan perunggu, pot keramik, peralatan dari besi dan artifak lainnya. Desain dan dekorasi dari artefak menunjukkan bahwa budaya Tamboran (orang Tambora) terkait dengan budaya orang Vietnam dan orang Kamboja. (Image: URI News Bureau)
Sumanap (Sumenep), 10 April 1815
Sore hari tanggal 10, ledakan menjadi sangat keras, salah satu ledakan bahkan mengguncang kota, laksana tembakan meriam.
Menjelang sore keesokan harinya, atmosfer begitu tebal sehingga harus menggunakan lilin pada pukul 16.00.
Pada pukul 19.00 tanggal 11, arus air surut, disusul air deras dari teluk, menyebabkan air sungai naik hingga 4 kaki dan kemudian surut kembali dalam waktu empat menit.
Baniowangie (Banyuwangi), 10 April 1815
Pada tanggal 10 April malam, ledakan semakin sering mengguncang bumi dan laut dengan kejamnya. Menjelang pagi, ledakan itu berkurang dan terus berkurang secara perlahan hingga akhirnya benar-benar berhenti pada tanggal 14.
Fort Marlboro (Bengkulu), 11 April 1815
Suaranya terdengar oleh beberapa orang di permukiman ini pada pagi hari tanggal 11 April 1815.
Beberapa pemimpin melaporkan adanya serangan senjata api yang terus-menerus sejak fajar merekah. Orang-orang dikirim untuk penyelidikan, tetapi tidak menemukan apa pun.
Suara yang sama juga terdengar di wilayah-wilayah Saloomah, Manna, Paddang, Moco-moco, dan wilayah lain. Seorang asing yang tinggal di Teluk Semanco menulis, sebelum tanggal 11 April 1815 terdengar tembakan meriam sepanjang hari.
Tambora explosion 1815
Besookie (Besuki, Jawa Timur), 11 April 1815
Kami terbungkus kegelapan pada 11 April sejak pukul 16.00 sampai pukul 14.00 pada 12 April. Tanah tertutup debu setebal 2 inci.
Kejadian yang sama juga terjadi di Probolinggo dan Panarukan, terus sampai di Bangeewangee (Banyuwangi) tertutup debu setebal 10-12 inci. Lautan bahkan lebih parah akibat dari letusan tersebut. Suara letusan terdengar sampai sejauh 600-700 mil.
Grissie (Gresik, Jawa Timur), 12 April 1815
Pukul 09.00, tidak ada cahaya pagi. Lapisan abu tebal di teras menutupi pintu rumah di Kradenan. Pukul 11.00 terpaksa sarapan dengan cahaya lilin, burung-burung mulai berkicau mendekati siang hari.
Dua ilmuwan sedang menyelidiki bekas-bekas peradaban yang telah lenyap di dekat gunung Tambora.
Jam 11.30 mulai terlihat cahaya matahari menerobos awan abu tebal. Pukul 05.00 sudah semakin terang, tetapi masih tidak bisa membaca atau menulis tanpa cahaya lilin.
Tidak ada seorang yang ingat ataupun tercatat dalam tradisi erupsi yang sedemikian besar.
Ada yang melihat kejadian itu sebagai transisi kembalinya pemerintahan yang lama.
Lainnya melihat kejadian itu dari sisi takhayul dan legenda bahwa sedang ada perayaan pernikahan Nyai Loro Kidul (Ratu Kidul) yang tengah mengawini salah satu anaknya.
Maka dia tengah menembakkan artileri supernaturalnya sebagai penghormatan. Warga menyebut abu yang jatuh berasal dari amunisi Nyai Loro Kidul.
Situs peradaban Tambora
Makasar, 12-15 April 1815
Tanggal 12-15 April udara masih tipis dan berdebu, sinar matahari pun masih terhalang.
Dengan sedikit dan terkadang tidak ada angin sama sekali. Pagi hari tanggal 15 April, kami berlayar dari Makassar dengan sedikit angin.
Di atas laut terapung batu-batu apung, dan air pun tertutup debu. Di sepanjang pantai, pasir terlihat bercampur dengan batu-batu berwarna hitam, pohon-pohon tumbang. Perahu sangat sulit menembus Teluk Bima karena laut benar-benar tertutup.
Heinrich Zollinger, Peneliti Pertama Penyingkap Gunung Tambora 1847
Heinrich Zollinger merupakan peneliti yang berjejak pertama kalinya di Tambora usai gunung itu menunjukkan amarahnya. Zollinger menyambanginya pada 1847 atau 32 tahun setelah letusan mahadahsyat yang berdampak pada perubahan iklim dunia.
Dia mendaki dan memanjat reruntuhan tebing ketika Tambora masih hangat berselimut kepulan asap yang menyeruak ke angkasa.
Heinrich Zollinger-peneliti-pertama-penyingkap-gunung-tambora-1847
Patung dada Heinrich Zollinger yang dikenang di Botanischer Garten Zürich (Roland zh/Wikimedia Commons)
Zollinger merupakan ahli botani asal Swiss yang ditunjuk Kerajaan Belanda sebagai kolektor tanaman resmi di negeri kepulauan Hindia Belanda pada 1842.
Tugasnya melakukan ekspedisi ilmu pengetahuan yang dibiayai oleh pemerintah. Kediamannya di sebuah vila pedesaan Tjikoja—kini Cikuya—Karesidenan Banten.
Awalnya dia mengumpulkan data tetumbuhan di lingkungan wilayah Banten dan Buitenzorg—kini Bogor.
Dia merambahi dari kawasan Pantai Anyer, Kota Tangerang, sampai lembah dan gunung, termasuk Gede-Pangrango, Salak, dan Tangkubanperahu.
Tahun berikutnya dia merambahi kediaman dewa gunung di Penanggungan, Semeru, Arjuna dan gunung-gunung di Jawa Timur lainnya.
Pada 1844 Zollinger mencatat keberhasilan berada di puncak Gunung Welirang, salah satu menara kembar di Jawa.
Koleksi prospektus tumbuhan yang dikumpulkan Zollinger, salah satunya, dikirim ke Profesor Alexander Moritzi, naturalis asal Swis yang bekerja di Solothurn, Swis. Moritzi kelak membantunya dalam hal penamaan, penomoran, dan distribusi.
Pada 1847, petualangannya sampai ke Sumbawa. Tujuan Zollinger adalah mempelajari letusan masa silam Tambora yang berdampak pada keseimbangan alam setempat dan pemulihannya.
gunung api volcano 2
Zollinger merayapi lereng Tambora hingga mencapai bibir kalderanya di ketinggian sekitar 2.851 meter. Menurutnya, sebelum letusan mahadahsyat pada 1815, tinggi Tambora mencapai hampir 4.000 meter!
Zollinger pulang ke Swiss pada 1847, kemudian dia menjabat direktur sekolah seminari di Kussnacht, Swis. Baru pada 1855 dia kembali ke Jawa sebagai seorang ahli botani independen dan kolektor tanaman. Ekspedisi kedua di Hindia Belanda pun dimulai.
Biaya perjalanan ke pelosok Hindia diperolehnya lewat kiriman prospektus herbarium kepada para ilmuwan di Eropa. Selain mendapatkan uang jasa atas kirimannya, Zollinger juga mendapat perlindungan selama perjalanannya berupa asuransi jiwa.
Kawah Tambora saat ini, diameter 6,5 – 7 km, dalam 1-1,2 km
Zollinger dikenal sebagai penulis berbagai jurnal dan publikasi ilmiah. Dia banyak menemukan spesies tanaman langka, yang sebagian merupakan spesies baru. Banyak pemikirannya telah mengalir dari ujung tinta, antara lain bidang geologi, meteorologi, moluska di Pulau Rakata, taksonomi tumbuhan, dan beberapa hal yang terkait tentang vegetasi di Hindia Belanda.
Koleksi herbariumnya telah tersebar di berbagai herbarium di Swiss dan Prancis. Namun, koleksi utamanya kini disimpan di Nationaal Herbarium Nederland di Universiteit Leiden dan Utrecht.
Zollinger demam hebat saat melakukan ekspedisi di Kandangan, sebuah desa di lereng tenggara Gunung Tengger, Jawa Timur. Dia tarjangkit malaria —salah satu ancaman terbesar penjelajah abad ke-19—kemudian tewas di desa tersebut pada 19 Mei 1859. Ketika itu usianya 41 tahun.
A year without summer - Giezendanner_Hunger_1817
Lukisan Giezendanner Hunger (1817)
Kini, namanya dikenang dalam sebuah plakat di Botanischer Garten Zürich (Kebun Botani Zurich), Swis. Beberapa nama tumbuhan di Indonesia mengabadikan namanya.
Sebagai contoh, dua dari seratusan tanaman obat yang digunakan penduduk sekitar kawasan Halimun-Salak adalah Flacourtia rukam Zollinger & Moritzi dan Schismatoglottis rupstris Zollinger & Moritzi.
Dalam penjelajahannya sekitar sepuluh tahun di Hindia Belanda,  Zollinger telah memberikan lebih dari 270 spesimen.
Lebih dari 20 spesies tanaman, rumput laut dan jamur menggunakan nama “zollingerii” sebagai bagian penamaan Latin. Sebuah sumbangan besar dan bermanfaat kepada ilmu pengetahuan. (Mahandis Y. Thamrin/NatGeoIndo)
a year without summer 1816 newspaper
year-without-a-summer 002
A year without summer.
Perbandingan letusan gunung Tambora dengan gunung Toba supervolcano