Friday, 28 October 2016

sore, sepi..!! dengarkan aku

     Dalam keheningan sore ini. langit diatas simpang jalan, menemaniku bernyanyi. bagai gejolak pohonan runtuh. bersama gitar yang tak ku mengerti bagaimana cara memainkan, bersama sepi, bersama bayangmu yang mselalu menemani.
     sosokmu yang tak henti-hentinya mnenangkan fikirku. tak mampu lagi diriku menahan semua kerinduan ini. rindu bagai setitik embun di pucuk dedaunan yang enggan menetes membasahi apa yang diinginkannya. karena ku tak ingin egoku mengusik hubunganku. kini hanya senja yang tertutup awan hitam pekat disana ku bercerita bagimana rindu ini besar untuknya.
    aku bukanlah pujangga yang pandai merangkai kata-kata yang indah, kata-kata yang keluar dariku juga bukanlah kata-kata puitis yang dapat meluluhkan hati. ku bukanlah penulis cerpen maupun novel yang hebat. bukan juga sastrawan. dipetang yang indah ini. suatu syair yang dapat ku sisipkan disini, melukiskan sebuah arti saat ini.


Kau Puisi
kau sosok yang punyai arti
Kau Puisi ketika datang sepi
Saat nikmati indah sunset pantai sudut kota
Hadirmu jadi pelengkapku di tata surya
Aku butuh dunia dan kau
Sebagai pendamping ketika ku rasakan sepi
Aku butuh cinta dan kau
Adalah tema saatku rasakan penat

Kau ada untuk melengkapi diriku
Kau tercipta untuk menutupi kekuranganku
L. O. V. E. yang membuatku bisa bertahan
Seperti rumput yang tak kan tumbang oleh topan
Emosi, perasaan, jaminan rasa aman
Kau sanggup taklukan hati dengan sebuah senyuman
Aku berdiri karna kau hadir di sisi
Your my everything zi
Kau takkan pernah terganti

Kaulah belahan hatiku
Yang terangi aku
Dengan cintamu
Kau hangatkan jiwaku
Dan slimuti aku
Dengan kasihmu

Ku coba gapai apa yang kau ingin
Saat ku terjatuh sakit kau adalah aspirin
Coba menuntunmu agar ada di dalam track
Kau catatan terindah di dalam teks
Dan aku mengerti apa yang kau mau,
Hargai dirimu, menjadi imammu
Karna kau diciptakan dari tulang rusukku
Selain itu karna kau bagian dariku

Dan dirimu damaikan
Hatiku yeah
Dan artimu
Tak akan berakhir 




Semarang, 28 Oktober 2016
documen 


Thursday, 27 October 2016

bukan hanya aku, namun langkah dan impianku (cerita tanpa arti)


Pagi dengan Negeri Sejuta Mimpi
        Sejuta mimpi terbelenggu dalam benak. Sejuta mimpi alasan untuk terus melangkah. Bukan sebuah halusinasi belaka. Negeri elok nan indah yang penuh dengan warna-warna yang membuat setiap hati riang untuk melangkah melewati hari. Bak mentari pagi ufuk timur yang menyapa mengalir menyentuh kalbu setiap ingsan di negeri ini. Kulihat sesosok siluet seorang gadis di sudut pohon bersama kicauan burung yang merdu. Duduk melihat kearah sinar. Matanya berbinar bercahaya, menyiratkan kehangatan di pagi itu dalam jiwa nya. Indah ketika sosoknya mulai bersenandung.
        “tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh, tidak kan hilang dari kalbu, tanah ku yang kucintai. . .” begitu syair yang keluar dari senandungnya. Bukit bukit perbukitan yang menemaninya. Di bawah rindangnya dedaunan yan masih lembab akan embun pagi kala itu.  Sebuah makna syair klasik yang begitu menyentuh relung kalbu. Sebuah gadis yang baru pertama memijakkan kakinya di kota orang. Mencoba kuat dan bertahan dalam terpaan angin badai, layaknya karang yang di hempaskan ombak. Bukan menjalani hidup dalam buai belaka. Namun, mencoba cerahkan cinta tulus di dalam hati, untuk ilmu myang bermanfaat dalam hidupnya di masa mendatang. Tujuan dan alasannya berani memijakkan kakinya di tanah tinggi kota atlas, kota yang panas akan persaingan. Hanya pagi yang dapat menemaninya bercerita. Bersama pagi ia bercerita kerinduannya kepada tanah air yang masih sangat membekas didalam hati. Tanah kelahirannya yang sampai kapanpun tidak akan terlupakan. Terkenang selama hidupnya sampai dia benar-benar berhenti hidup di dunia ini. Senandung pagi yang membuat dingin pagi ini begitu terasa sekali di seluruh tubuh merasuk kejiwa dan kalbu.  Walaupun ia pergi melangkah jauh demi semua impian-impiannya selama itupun tidak akan terlupakan dari jiwa dan fikirannya. Karena rasa cinta nya akan sebuah wilayah sempit di daerah selatan pulau jawa, tanah air yang akan selalu ia CINTAI.
        “walaupun banyak negeri kujalani, yang masyhur permai dikata orang, tetapi kampong dan rumahku, disanalahku rasa senang, tanahku tak kulupakan. . . engkau kubanggakan”. Embun di pagi buta, membuatnya kembali memjamkan mata. Tetswsan air mata mulai mengalir dari mata indahnya, air matanya berlinang, bak mas intan yang terkenang di hatinya, desa dengan lautan kehijauan sawah begitu membekas di hatinya. Walaupun kini ia berada ditempat metropolitan yang masyhur permai di kata orang, kota atlas kota besar yang menjadi symbol besar bagi wilaayah sekitarnya. Namun mata indahnya mengisyaratkan tak mampu lagi menahan kerinduan terhadap kampong halamannya perlahan pelangi indah muncul di depannya, saat ia mulai lelah letih menjalani semua aktivitas yang sangat melelahkan. Selalu ada sang pelangi yang menemani. Pelangi ditempat yang jauh dari perlindungan seperti yang ia dapatkan dikala di rumah. Pelangi yang mulai nyaman akan hadirnya ia di sini. Sebuah susunan warna-warna yang kadang membuatnya begitu nyaman di tempat ini. Damai sejuk di hati dan pikrannya, pelangi yang akan terus menjaga nya sampai ia benar-benar lelah. Bahkan pelangi ini berani mengeluarkan warna-warna indahnya alasannya sangat sederhana, yakni untuk menjaga gadis manis ini.
        Awan indah dengan langit biru, bersama burung-burung pipih yang terbang dalam pagi yang menjemput senja. Hingga saaat itu bersama melangkah kan kakinya, berlali mencoba menggapai apa yang diinginkan nya. Hingga senja yang membuatnya berhenti, namun inilah secarik alasannya, disini mencoba menggapai angan di negeri yang penuh keajaiban. Negeri sejuta mimpi.
“You create your opportunity”
“to get something we’ve never had, just do something we’ve never do”


kertas asli



Wednesday, 26 October 2016

bukan pusi



Goresan Pensil Sapa Pagi

Petang yang kini mulai berganti
Sejuk. . .
Udara pagi nan segar menyatu ke tubuh
Dedaunan di luar mulai basah oleh embun
Begitu juga dengan fikiran ini
Yang basah akan imajinasi penuh hayalku tentangmu
          Beberapa pensil mulai ku ajak keluar
          Bermain dengan kertas putih
          Ditemani udara pagi dengan alunan melodi
          Perlahan goresan-goresan yang entah apa maknanya
Tidak punya makna akan goresan
Hanya sebuah gunung dan persawahan
Dan satu gadis mungil menghadapnya
Dibawah birunya langit
Yang disirami sang surya dari ufuk timur
Kini  suatu arti ini muncul
Tersirat dari goresan-goresan pensilku
Terucap kata dari rangkaian goresan itu
Selamat pagi gadis manis dan negeri elok nan indah







Semarang, 27 oktober 2016
Autumn Sept 

Sunday, 23 October 2016

kata tak bermakna untuknya



Jiwa Yang Mekar Kembali

Pagi cerah dengan kicauan burung diatap kosku
Teringat mimpi yang baru terlewati
Ku buka mataku
Kuingat lagi apa yang telah terjadi
Seorang gadis yang menemani dalam mimpi-mimpiku
          Gadis yang sudah tidak asing lagi di mimpiku
          Hadir menemani tidurku di malam ini
          Dalam lelah ku di hari yang lalu
          Tidak banyak yang ku ingat dalam mimpi
          Yang masih teringat jelas hanyalah senyumnya kepadaku
Sejenak ku terduduk di atas kasur hangat ini
Ku lihat selembar kertas yang tergeletak bersama bolpoin
Ku ambil kertas tersebut lalu kubaca perlahan
Aku ingat ini adalah coretan halusku di malam hari tadi
Masih hangat rasanya bagaimana tetesan airmata menemani ku menulis malam tadi
          Sebuah penggalan puisi yang coba kubuat
          Mungkin tidak bagus dan indah
          Namun proses membuatnya dengan sepenuh hati
          Mungkin ini yang pertama
          setelah belasan tahun telah berlalu
          Kubermain lagi dengan kertas
          dan kalimat kalimat yang tersusun acak
Bukan Karena apa-apa
Namun gadis di mimpiku kini hadir menemani hariku
Membawa kehangatan yang mengisi lubang dalam hatiku
Dan membuatku kuat
Alasannya sederhana yaitu Dia
          Mungkin dia tidak tahu
          Bagaimana perlahan dia memberiku mimpi-mimpi
          Dan membuatku berani melangkah lari mengejar anganku
          Naluri jiwaku yang kini mulai tumbuh kembali
          Mekar bersama untuk hari-hari yang akan kulewati bersamanya


-Selamat Pagi musim dingin-
Semarang, 24 Oktober 2016
5;27 am
pagi dengan hutan UNNES Semarang