Goresan Angin dalam Jejak Cerita Perjalanan Menuju Selatan
Dingin. . . dingin udara di kamar
menelimutiku.
Sejenak aku
melihat langit-langit diatas kasurku. Tiba-tiba berdering sebuah nada yang tidak
asing bagiku bersumber dari sebelah bantalku, ku ingat sejenak itu adalah nada
dari smartphone jadul ku yang aku set sebelum aku tidur di malam itu. Sejenak
ku terngiang bersama gelap kamar tidurku saat itu, kuingat aku punya janji
dengan sahabat-sahabatku di Semarang. Sahabat yang mungkin saja adalah bermula
dari sebuah mimpiku kubertemu dengan mereka saat ini. Dingin fajar yang menusuk
kalbuku membawaku bangkit menuju kamar mandi untuk wudlu, kemudian ku menunaikan sholat tahjjud. Dalam sujudku mengalir
tetes demi tetes air mataku, teringat oleh mereka sahabatsahabatku yang bisa
membuatku kuat berdiri. Mereka yang meyakinkan aku untuk kuat dan berfikir
untuk bisa melanjutkan setiap asa ku. Perlahan kubangkit dan menyelesaikan
sholatku.
Beberapa saat
setelah itu aku bergegas untuk mandi. Guyuran air diatas kepalaku beberapa kali
membuatku segar, namun beberapa kali hembusan angin dari celah-celah ventilasi
kamar mandi membuat ku merasakan hawa dingin. Setelah beberapa lama ku berada
di dalam kamar mandi akhirnya kusudahi mandiku lalu bergegas ku memakai
pakaianku. Beberapa saat ku terduduk disuduk kamar diatas kasur, sambil terus
mencoba menghubungi teman-teman dengan smartphone mungilku. Sejurus dengan itu
angin fajar terus berhembus dan menerpa tubuhku, membuatku merasakan dingin.
Namun dingin inilah yang membuatku merasa bahwa ada sosok yang bersamaku di
pagi ini. Namun dalam hatiku berdoa bahwa cuaca hari ini tidak hujan. Sekali
lagi ku pandangi smartphone miliku. Terbaca sebuah grup dalam whatsapp. Sempat
vacuum selama beberapa hari namun akhirnya kembali menjadi salah satu yang
membantu dalam komunikasi kami sebuah jalinan persahabatan yang aku sendiri
berjanji akan menjaga jalinan persahabatan ini hingga nanti. Bahkan waktu pun
tidak akan sanggup mengikis persahabatan kami.
Tik . . . tik. .
. tik. . . . terdengar dari luar kamarsebuah tetesan kecil air dari genting.
Mungkin saja hujan deras tadi malam masih membekas hingga fajar menjelang.
Tetes ini menyejukkanku, mengingatkanku pada embun di pagi hari desaku desa
kelahiranku yang masih selalu menjadi tujuanku untuk kembali. Tiba-tiba sebuah
bunyi notifikasi dari smartphone yang ku genggam membuyarkan khayalanku.
Sahabatku Agung berkata “aku sudah bangun”. Aku segera membalas “bagaimana
dengan yang lain?” sesaat itu balasan dari seberang sana “aku habis mandi,
asrama banyak orang jadi berani mandi =D “ haha aku tertawa membaca balasan
dari sahabatku wanita yang menempati asrama atau biasanya di sebut Rusunawa
Putri candanya kadang gajelas tapi membuatku nyaman dalam batinku nih Azizah
pagi-pagi sudah membuatku tertaw. . . belum sempat menyelesaikan gumamku dalam
hati sebuah balasan kembali lagi dalam grup kali ini Rahma ikut nimbrung
“teman-teman udah pada mau berangkat ya? Hati-hati dijalan ya jangan lupa baca
doa and have fun” dengan emot sedihnya
kembali membuatku sedih karena hari ini kita melakukan perjalanan hanya
berempat karena sahabatku rahma besok pagi akan melakukan perjalanan menuju
kampong halamannya yang sangat jauh dan paling jauh diantara kami berlima.
Setelah nimbrung dalam gruoup aku teringat bahwa dari tadi kita yang berada di
grup hanya berempat berarti kurang satu. Nah baru teringat bahwa sahabatku yang
satu ini kena virus dariku yaitu susah bangun hehe dalam hatiku tertawa. Aku
Tanya pada teman-teman dan kata mereka whatsapp nya off, jadi tak ada pilihan
lain lagi segera kuambil kunci di atas rak buku samping kasur tidurku. Dalam
dinginnya udara di luar sana aku tetap harus pergi ke kost temanku untuk
membangunkannya. Perjalahan kubuka pintu luar seketika angin dngan kencang dari
luar menerpa keras ke wajahku, dinginnya sungguh membuatku merasa igin balik
berbaring di kasur apalagi dengan langit yang masih terlihat gelap dengan hanya
bersinarkan cahaya bulan dan barisan bintang-bintang yang memang cahayanya
tidak lebih terang dari cahaya matahari di pagi hari.namun, tekadku untuk
persahabatan ini jauh lebih terang membuatku jalanan yang gelap terlihat terang
dengan penglihatanku, sinar dari persahabatan ini. Kemudian ku melangkah menuju
garasi motor-motor yang tersisa di sini karena sudah banyak yang balik kampong
menikmati liburan semester. Bergegas ku keluarkan motorku lalu ku starter untuk
memanasi mesin, beberapa saat setelah itu aku tarik gas motorku perlahan untuk
melaju menuju kost temanku, dinginnya pagi dengan gelap cahaya di jalanan
belakang Fakultas Bahasa dan Seni membuat bulu kudukku sedikit merinding.
Sesaat sejenak telah terlewati dan kini aku melaju lagi menuju kost temanku
yang masih belum bangun. Beberapa saat kemudian aku sampai di depan kost
temanku danku langsung meakirkan motorku lalu bergegas menuju kamar temanku.
“tok. . . tok. . . tokkk!! Tur. . . fathur. . .” ketokan kepintu kamar dan
panggilan agak keras ke pada temanku. Seketika itu pintu terbuka dan perlahan
terlihat muka yang tidak asing lagi bagiku namun kali ini dengan muka sedikit
kucel dan kusut. Sambil menggosok matanya “apa lutt?” dengan raut muka yang
masih mengantuk itu cukup membuatku ingin tertawa, namun aku hanya menjawab
singkat “ayo bangun cepet kita akan melakukan trip” dengan muka sedikit kaget ia menghampiri
kasur nya kembali dan melemparkan tubuhnya ke kasur dan kembali berbaring “haa,
lutfi ini baru jam berapa.. masih ngantuk.” Sejurus itu aku langsung ikut
melomat ke kasur dan mengganggu usahanya untuk merem kembali. Dan alhasil
diapun bangun lalu mandi. Ketika itu juga aku keluar dan teriak kepada Fatkhur
“Tur aku balik kos dulu ya, sampai ketemu nanti ya” dan hanya suara guyuran
airyang bercampur dengan suara tidak terlalu jelas dari kamr mandi dan lalu ku
tancap gas menuju kostku.
Itu tadi ke Empat
sahabatku di Semarang ini. Sahabat-sahabat yang selalu membuatku terbangkit
dikala aku terjatuh. Panca Anucara Arsawati merupakan nama yang kupilih untuk persahabatan
ini. Mempunyai makna 5 sahabat yang selalu berpikir dan bahagia. Begitu
terkesan jikalau langkah ini berada bersama-sama mereka. Dari berbagai
background yang berbeda di kehidupan awal bukan menyebabkan perpecahan namun
membuat kita semakin kuat. “Azizah Nur
Aini Muslichah” gadis dengan perawakan kecil ini berasal dari selatan
tepatnya klaten dengan tutur kata halus cerminan oraang selatan kadang membuat
aku gemes dengannya, nyaman ketika bersamanya. Terkadang sifat dewasaku menjadi
kekanak-kanakan dan manja kepadanya. “Agung
Putra Pratama” yang satu ini adlah
pribumi asli, hanya agunglah satu-satunya dari kita ber-lima yang asli kota
Atlas. Dahulunya dia sangat pendiam namun akhir-akhir ini ketika kita berkumpul
ternyata orangnya juga asyik dan agak gila juga becandanya. Nah pada hari ini
dialah yang menjadi driver kita menuju selatan jawa. Sisi lainnya dia adalah
sosok yang humoris juga hanya beberapa orang yang dapat becanda dengannya “Rahmawati Pratiwi” gadis mungil ini
adalah pejuang dari luar Jawa berasal dari daratan Sumatra muara tebo Jambi,
suka main gitar dan seni music, mungkin dari ke-lima sahabatku ini hanya aku
yang tidak punya jiwa seni music. Semuanya hebat dalam seni dan music. Suara-sara indah para sahabatku ini mugkin berpotensi
jadi band ya hehe. “Fatkhurofiq” bocah
yang dahulunya bermimpi di PGSD yang harus menata kembali mimpinya dan sekarang
dia bersama kami, putra Brebes, kadang suka ngeluh terhadap sesuatu yang tidak
penting namun juga suka becanda gajelas dan tiba-tiba nyanyi gajelas juga namun
itulah yang kadang membuat kita tertawa mengurangi beban dalam menjalani
tugas-tugas mata kuliah yang terkadang membuat kami lelah. Namun kebersamaan
inilah yang mampu membuat kami bisa
sampai akhir semester satu dan meraih IP yang cukup sesuai dengan apa yang telah
kita lakukan. Yang terakhir adalah aku “Muhammad
Lutfi” orang yang kadang sok cool namun juga bisa membersamai siapapun.
Tetap pada kata-kata awal Ing ngarso sung
tulodho, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. mungkin kami adalah
sekumpulan orang aneh yang kadang tidak dilihat oleh siapapun. Namun suatu saat
aku dan sahabat-sahabatku mampu meraih mimpi bersama-sama dan sampai saat itu
semua prang akan bertepuk tangan atas karya keringat kami semua dan mereka akan
berkata “dahulunya mereka bukan siapa-siapa”.
Hembusan angin
pagi yang semilir berpadu bersama embun sejuk di pagi hari membangunkanku dari
khayalanku diatas motor biru putih yang sedikit tua namun masih tetap kokoh
tergilas oleh perkembangan zaman. Tanpa kusadari aku sudah sampai di depan
rumah kecil persinggahanku di kota Atlas untuk mencari ilmu, segera ku masukkan
dan kurapikan barisan motorku di garasi motor, kemudaian ku segara masuk menuju
kamar. Udaranya sedikit hangat di dalam sini pikirku. Sejenak ku baringkan
tubuh ini diatas kasur mungil di dalam kamar petak yang luasnya juga tidak
seberapa. Tak ada beberapa menit ku termenung tiba-tiba aku dikagetkan dengan
nada notifikasi dari smartphone ku. Tanpa membukanya aku mengambil gillete lalu
ku menuju kamar mandi lalu kubersihkan mukaku. Lalu beberapa kali kubasuhkan
air dari bak mandi ke arah wajahku hingga bersih. Lalu kubergegas menuju kamar
untuk ganti baju dan beres-beres dengan barang yang akan aku bawa nantinya,
kupilah-pilah lalu kumasukkan kedalam tas. Hufffhhtttt. Selesai juga akhirnya.
Sebuah kata yang muncul lirih dari mulutku. Searah dengan itu aku pun kembali
terduduk diatas kasurku. Kemudian aku mengambil smartphone mungilku yang berada
di atas bantal dan mulai ku buka-buka chat grup bersama sahabat-sahabatku.
Tidak ada pembahasan yang lain selain pemahasan persiapan pagi ini. Ulai aku
scroll ke atas lalu kebawah dan kubaca chat mulai tadi aku tinggal ke kos
fatkhur sampai saat ku baca sekarang ini. Aku pun ikut nimbrung ngalor-ngidul dan beberapa saat
kemudian Agung member aba-aba “OTW. . . OTW” saat kulihat jam menunjukan pukul
05.08 WIB tanpa membalasnya aku langsung mengambil tas dan ku gendong. Masih
berfikir apa yang kurang kemudian aku ambil jaket dari tempt gantungan baju
kemudian aku keluar kamar dan bergegeas menuju Gerbatama UNNES.
Langit gelap nan
indah diatas langit kota Semarang, kota atlas arah masyarakat Jawa tengah
berada. Gelap namun tampak indah dengan hiasan bintang-bintang kecil yang
banyak terlihat sangat dekat diatas sana, tepat diatas kepala ini. Bulan
tersenyum kepadaku. Semoga hari ini menjadi hari yang indah untuk persahabatan
ini dalam pikirku. Sambil memakai sepatu putihku aku berdendang tanpa arah dan
wujud. Hanya nada nada tak beraturan yang keluaar dari mulutku. Di temani hawa
dingin yang menyelimuti badanku pun mulai terasa dingin. Ku bergegas bangkit
dan segera ku melangkah. Langkah demi langkah terus membawaku berlalu menjauhi
kontrakan ku. Ditemani daun-daun bamboo dan jati yang saling bergesekan seakan
melambai dan mengucapkan kata selamat berlibur dan sampai ketemu lagi. Ku hanya
tersenyum dan mempercepat langkahku. Melewati garis putih di jalanan belakang
kampus yang hijau nan rindang dengan pohon-pohon di sekelilingnya. Sampai ku di
depan gerbatama ku duduk-duduk sembari menikmati udara dingin yang mulai
menjadi sejuk, kupandangi sekelilingku alam menjadi saksi keberadaanku pagi ini
menanti hari indah bersama sahabat-sahabatku.
Masih dalam dudukku ku melihat kembali grup chat ku Tanya “Agung sampai
mana?” jawaban singkat terlontar dari sudut sana “iya nih Agung dimana? Ko
belum sampai rusun. Sudah nunggu nih” fatkhur ikut membalas dengan sederhana
“aku udah di Mantulanang(sebuah gang kecil di belakang fakultas ilmu sosial
arah ke kost fatkhur)” “santai semuanya aku juga sudah nunggu di gerbatama nih,
mungkin Agung lupa jalan ke Unnes. Haha” gurau ku mencairkan suasana menunggu
yang memang semua orang pun merasa bosan jika di suruh menunggu. Beberapa menit
Agung pun tiba-tiba muncul di chat “hmm.. sampai dimana ya? Haha” dengan ia membalas
pun sudah bisa aku tebak bahwa Agung sudah sampai rusun. Sesuai kesepakatan di
hari lalu Rute Awal perjalanan adalah Rusun(Azizah)-Gerbatama(Aku)-Gg.
Setanjung(Fatkhur).
Kulihat diatasku
dedaunan bergerak terkena hembusan angin pagi. Langit mulai berganti gelap
memulai terang kebiruan menandakan sang surya akan mulai muncul. Teringat bahwa
di grup chat sudah sepi tanpa notifikasi. Baru ingin membuka lockscreen dari
smartphoneku dari arah depanku melintas mobil putih mungil imut nggak terlalu
besar juga tidak kecil dengan suara klakson dari mobil itu melintas dan
menurunkuan kecepatannya hingga berhenti di seberang jalan sana. Terlihat Wajah
Agung dengan senyumnya lalu melambaikan tangan ke arahku di tambahi dengan
senyum Azizah ke aku disebelahnya. Hah. . . ini dia mereka baru nyampe ‘gumam
dalam batinku. Tanpa berpikir apa-apa langsung kuberjalan kearah mobil putih
yang telah menungguku di seberang jalan. Lansung ku buka pintu belakang karena
depan udah penuh hehe. Belum sampai duduk Azizah menyapaku dengan suara
lirihnya, Haiii Luvii. . . maaf ya lama tadi ngankutin barang-barangku dulu,
mau sekalian pulang kampung hehe. Haha dasar cari tumpangan sekalian ya hihi
ongkosnya tambah ya zi hahaha candaku dibarengi dengan ketawa agung. Ya udah
yuh gung langsung saja berangkat ‘pintaku sambil menutup pintu mobil belakang.
Eh tapi nanti mampir ke GSG dulu ya ke atm Mandiri mau ambil uang saku hehe
‘tambahku. Wkwk siap lut jawab singkat agung bersamaan dengan pijakan gas dan
mobil mulai melaju meninggalkan Gerbang Utama universitas Negeri Semarang. Hana
beberapa menit dari gerbatama kami sampai di GSG langsung ku turun menuju atm
mandiri sementara Agung mulai pijak gas mobil untu merapikannya di Parkiran.
Bergegas ku masuk atm dan mengeluarkan kartu debit mandiriku dari tas dan
mengambil eberapa lembar uang dari mesin atm. Kukantongi lembaran uang tadi
lalu keluar dari atm. Ku tengok parkiran ku cari mobil putih imut milik Agung
kulihat dr sudut sebelah kiri parkiran dan sampai di tengah akhirnya kudapati
mobil yang kucari kemudian kubergegas ke arah mobil itu dan langsung masuk
kedalamnya. Tanpa aba-aba agung pun pancal gas. Sepertinya Agung bersemangat
sekali ‘pikirku. Mobil melaju pelan ke arah selatan menuju Mantulanang untu
menghampiri Fatkhur pasukan terakhir dalam perjalanan ini, sangat disayangkan
Rahma tidak bisa ikut. Tapi ya sudahlah suatu saat nanti akan ada waktu dimana
kita bisa pergi bersama-sama berlima. 3 menit berjalan kami sampai di depan
mantulanang. Terlihat fatkhur berjalan menghampiri kami. “zi kamu belakang aja
nanti aku yang depan nemenin Agung” kataku kepada Azizah. Azizahpun membuka
pintu lalu keluar berbarengan dengan Fatkhur yang sampai disamping mobil. “tur
kamu mau depan apa belakang?” tanyaku. “depan aja deh” jawab singkat dari Fatkhur.
Ohhh Kamu yang di depan Fatkh ‘tambah Azizah beralih membuka pintu belakang dan
langsung masuk duduk dan menutupnya. Sembari beres-beres barang bawaan kami pun
ngobrol-ngobrol ringan mencairkan suasana. Beres pak siap gas hehe ‘canda ku
yang terakhir sebelum berangkat.
Negeri indah ini
sungguh luar biasa alam indah hijau pepohonan biru langit dan lelautan benar
saja jika orang bilang tanah ini tanah surge. Kaki gunung Ungaran tempat saat
ini ku mengais ilmu menambah takjubnya diriku. Bukan kota namun keramaiannya
menyamai kota namun dikala musim liburan terasa sepi dan sunyi. Hanya
bangunan-bangunan rumah-rumah yang kulihat di sepanjang jalan melewati daerah
Sekaran. Mobil putih yang dikendarai Agung melaju sedikit lebih cepat dengan
kondisi dan suasana jalanan yang sepi di temani music play dari dashboard depan
menambahi rasa dingin yang menyelimuti seisi mobil hanya dengan AC control yang
menunjuk angka satu. Kulihat Agung membelokan mobilnnya masuk kearah SPBU
Bensin untuk memberi minum mobil imut ini. Dengan cirri khas anak perantauan
kita pun sedikit gaduh di dalam mobil menumpuk lembaran uang untuk membelikan
minum untuk kendaraan yang akan menghantarkan kami berjalan-jalan nantinya.
Agung membuka kaca nya dan dikasihkan beberapa lembar uang kepada petugas di
SPBU tersebut dengan menyebutkan nominal untuk mengisi tangki bahan bakar si
Putih ini. Diselingi dengan candaan dari petugas SPBU tersebut membuat kami
yang didalam mobil pun tertawa, tanpa terasa perut si Putih pun penuh sebelum
sampai di nominal yang diminta Agung dan di kembalikan kembali kelebihan uang
yang di berikan. Kami pun langsung tancap gas kembali berlalu meninggalkan
petugas SPBU yang konyol tadi. Kembali ku pandagi dari kaca mobil bagaimana
rindangnya pohon nan indah yang selalu membuatku takjub akan Negeri ini.
Awan-awan yang bergerak di atas sana seolah menemani perjalanan ini. Meter demi
meter jarak telah kami tempuh hingga kiloan meter pun telah kita lalui tak
terasa walaupun Agung hanya memacu mobilnya berjalan dengan kecepatan 60KMpH
itu tak membuat perjalanan ini terasa lama namun menambahi indahnya ku
menikmati segala apa yang ada diluar sana dari tempat dudukku ku dibuat tepukau
akn apa yang tellah kami lalu. Sejenak ku dibuat nostalgia disaat ku menengok
ke arah kanan. Kampoeng kopi banaran ungaran mengingatkan aku tentang masa LDK
OSIS saat masa SMA hanya sejenak kumampu mengingat masa itu si putih tetap
melaju meninggalkan setitik kenanganku di tempat itu.
Selamat jalan kota Salatiga Kab Semarang
tulisan tersebut ang dapat aku baca dari kaca di sampingku. Di dalam mobil
suasana sudah mulai sunyi. Dinginpun semakin menyelimuti bukan hanya kami yang
terasa dingin. Kulihat di depan Agung focus dengan jalanan dan fatkhur yang
disebelahnya sedang asyik dengan gadgednya dan juga mengabadikan momen
perjalanan dengan membuat sebuah rekaman video dengan smartphone miliknya.
Hanya music yang terdengar didalam mobil ini. Ah sudahlah pikirku mungkin belum
saatnya mengganggu mereka dalam fikirku. Kembali kupalingkan wajahkku ke arah kanan
ke kaca pintu mobil untuk melihat jalanan ini. Jalanan yang mungkin pertama
kalinya aku lewati. Diatas jalan aspal hitam sebuah kisah baruku melewatinya
menuju arah selatan negeri istimewa Yogyakarta.
Kulupa tadi menengok sebelahku ada gadis lucu sahabatku juga. Sekejap
itu aku pandangi Azizah di terlihat mulai pucat. Sahabatku yang satu ini
mempunya kondisi psikis yang buruk ketika naik alat transportasi yang tertutup
namun yang kulihat kali ini adalah dia kedinginan. Segera kutanya apakah dia
baik-baik saja dia hanya mengangguk namun masih tersenyum. Dari depan fatkhur
menoleh kebelakang terkaget dan Agung hanya melihat dari kaca kecil di dalam
mobil. Azizah pun hanya tersenyum dan mengelak dia berkata tidak apa-apa.
“Yaqin??” dengan nada khasnya dia pun berbalik badan dan melihat ke depan lagi.
ini merupakan pertanyaan khas fatkhur yang sering membuat orang marah ini pun
seketika membuat suasana di dalam mobil menjadi cair dan tertawa dari sudut
kanan depan maupun dari fatkhur sendiri aku hanya tersenyum simpul lalu
mengambil jaketku di bagasi belakang tanpa membalikkan badanku tangaku berhasil
mendapati jaketku, kutarik dan kubawa kedepan lalu ku buat untuk menutupi tubuh
Azizah. Dia hanya tersenyum manis kepadaku. Mungkin ya memang wanita itu sungguh
sulit di mengerti. Bicaranya sih bilang tidak kenapa-kenapa dibalik itu semua
aku mengerti. Dengan kondisinya yang sekarang pun kurasa ketakutan dalam
dirinya tidak akan semudah itu hilang.
Kelihat didepan focus pada jalanan dan music yang mengiringi perjalanan
kita. Dengan kondisi di depan yang seperti itu aku mendekati sahabatku Azizah
lalu kudekap erat tubuhnya sembari
berdoa dia kuat melakukan perjalanan selama mungkin setengah hari berada
di dalam kendaraan yang dari dahulu ia takuti. Dia berbisik pelan di telingaku.
Aku mual bolehkah aku bersandar? Tanyanya kepadaku. Aku pun mengangguk dan
mendekatkan diriki. Dan iapun bersandar kepadaku. Sampai detik inipun ia masih
berpolah seakan kuat dan masih menjadi petunjuk jalan bagi peralanan kami. Berada dakam sandarannya membuatku sedikit
merasa nyaman dalam perjalananku kali ini. Sungguh ini adalah perjalanan yang
sangat berkesan. Untuk kali pertamanya aku hangout bersama sahabat-sahabatku.
Aku dari kecil memang sangat suka dengan perjalanan. Namun ini adalah
perjalanan yang baru kurasakan. Kupandangi diluar sana terlihat satu puncak
gunung dengan bentuk lanciptunggal yang pertama kali kulihat. Biasanya yang
kulihat adalah 3 puncak tinggi di pegunungan muria. Namun kali ini puncak
gunung itu menatapku dan aku pun berbalik melihatnya dan mengucapkan
perkataan-perkataan dalam hati. “persahabatan kami akan membawa kebahagiaan
yang besar dan kami akan menggapai mimpi-mimpi kami bersama, mimpi yang lebih
tinggi dari puncak mu” kubahagia bersama sahabat-sahabatku. Seperti pepatah
kuno china yang sampai saat ini masih teringat bagaiman jika kita ingin menarik
nasib yang baik,menghabiskan satu sen dengan teman lama, berbagi kesenangan
lama dengan teman baru dan mengangkat hati seorang sahabat sejati dengan menulis
namanya di sayap naga.
Laju mobil yang
ku naiki terasa sudah menempuh jarak yang sangat jauh.aku tidak tahu sudah
berapa kilometer jarak yang telah di tempuh. Daerah yang baru saj aku lihat
disisi kanan dan kiri sudut sorot mataku. Dingin AC mulai membuat kakiku
kedinginan. Ku lihat Azizah tertidur dan di depan Agung dan fatkhur focus pada
jalanan dengan hanya sesekali suara obrolan yang ku dengarkan dari mereka
berdua. Kini aku yang menjadi petunjuk jalan dengan bantuan gps dan google maps
dari smartphone kecil di genggamanku. Kulihat diatas sana terdapat beberapa
Awan mendung yang menutupi birunya langit dan putihnya awan. Hanya Belok kanan
kiri yang ku ucapkan kepada Agung. Dengan suasana yang makin lama mendung
sangat terasa walaupun belum semuanya rata mendung masih terdapat sinar
matahari yang masih dapat menembus ke Bumi di sela-sela awan pekat. Kini
suasana di dalam mobil mulai tegang tanpa tau arah yang pasti hanya
mengandalkan papan plang penunjuk jalan di persimpangan jalan dan juga gMaps
kamipun mulai was-was dan menegangkan.
Azizah satu-satunya yang pernah ketempat yang kita tuju tidak kuat
dengan perjalanan sementara diluar sana mendung mulai menyurutkan semangat
kami. Hitam pekat mulai mengurangi pandangan kami ke jalanan. Beberapa kaali hanya
memberikan aba-aba dari belakang lurus belok kiri maupun kanan. Terlihat
disebelah ku azizah mulai terbangun dan muntah-muntah, sepertinya dia sudah
sampai batasnya dalam fikirku. Terlihat di sebelah kiri SMA 3 Klaten. Dia hanya
berucap ooo sudah sampai disini ya. Sepertinya dia punya cerita dengan sesorang
di sekolah ini. Tak lama ku hiraukan ku kembali focus kedepan ‘lurus gung
kataku. Tiba-tiba azizah kembali muntah-muntah lagi. Beberapa lama kemudian ia
selesei dengan muntahnya dan bersandar ke aku. panas tubuhny. Dia berkata Aku
tidak kuat dengan suara terisak kurasa dia menangis. Aku sudah nggak kuat vi.
Anterin aku balik kerumah saja. Beberapa kali suara tersebut keluar dari mutnya
dengan perkataan yang sama namun dengan suara yang makin keras. Hal ini semakin
membuatku bingung. Mau tetap melanjutkan perjalanan atau berhenti berbalik arah
dan menghantarkan gadis yang dalam kondisi lemah ini balik. Gejolak tersebut muncul dari dalam diriku.
Aku tak tahu lagi mana yang harus kupilih. Perkataan darinya makin keras
membuat Agung dan Fatkhur mendengarnya. Mereka ikut bingung. Seisi mobil dalam
suasana kebingungan. Kita bertiga sebagai pria tidak mungkin membiarkan seorang
gadis yang tengah lemah larut dalam tangisnya dan kecapaiannya. Fatkur hanya berkata
Azizah apa kabar? Masih kuat kan? Azizah hanya menjawabnya dengan tangisnannya
dan kalimat yang sama. Sementara raut muka Agung di depan juga terlihat
bingung. Aku hanya terus melanjutkan intruksiku untuk melanjutkan jalan yang
sudah kutandai di google maps. Sementara Agung mulai perlahan tenang terhadap
jalan. Suasana di belakang masih sama. Ku masih terpaku dalam kepanikanku.
Bersama dengan kucoba menenangkan Azizah. Namun sulit menenangkannyadalam
kondisinya yang mungkin jika aku di posisinya aku memilih untuk berhenti dan
turun. Namun itu bukan jalan yang terbaik dengan hanya memikirkannya. Kembali
dia muntah-muntah untuk yang kedua kalinya. Sudah habis 2 plastik yang ia bawa.
Kini jika ia muntah maka tidak akan ada lagi plastic untuk menampung muntahannya.
Kulihat dia terkulai lemas bersandar di pintu. Mukanya mulai lesu. Tanpa tenaga
dan semangat seperti saat berangkat.
Berat rasanya melanjutkan perjalanan. Kembali dia menangis dan memelukku
bilang dia ingin pulang saja. Waktu terasa berhenti menyerangku. Pupus
sepertinya harapanku untuk kesekian kalinya untuk pergi bersama sahabatku dari
dahulu hingga detik saat itu moment yang sudah aku impikan sejak lama. Aku juga tidak ingin membiarkan egoku
menyakiti salah satu sahabatku.
Hijau hamparan
sawah diluar sana sedikit mengurangi pikiranku. Kubuka sedikit kaca mobil di
sebelahku. Dinginnya AC sdikit berkurang dan berganti dengan hembusan-hembusan
angin yang semilir membuat fikiranku sedikit Adem. Azizah masih sedikit terisak
karena merasa tidak dituruti keinginannya untuk pulang saja. Kucaba menepuk
pundaknya. Dan mencoba berbicara kepadanya. Kamu sudah tidak kuat zi? Dia pun
hanya mengangguk di sertai isak tangisnya. Gini deh. Ini kita berhenti dulu ya,
beli maem pas semuana juga belum sarapan, gimana? Kamu ingin makan apa tanyaku
kepadanya. Dia terlihat sedikit tenang dengan perlahan dia pun menjawab lirih,
iya deh aku mau maem yang anget-anget dan es. Kutawari berbagai macam makanan
namun dia tidak mau, setelah beberapa lama negosiasi dengannya Akhornya dia
menjawab pengen soto lalu ku intruksikan kepada Agung ‘gung nanti kalau ada
warung Soto Belok ya kita sarapan dulu. Agungpun menjawab Iya. Fatkhur
disebelahnya juga ikut menjawab, iya nih aku juga belum sarapan nih, ya udah
yuh cuss. Kemudian kita melanjutkan perjalanan sembari melihat kanan kiri
mencari warung Soto. Kurasakan Angin disini membuatku sedikit nyaman. “Klaten”
dalam hatiku ku sedikit mengagumimu. Ini kali pertama ku memijakkan diriku
disini. Ku terbuai Akan hamparan laut Hijau sawah yang menjadi lahan suburmu.
Ku hembuskan nafasku bersamaan dengan Angin yang menerpa wajahku. Kembali ku
pandangi alam di sebelah kanan ku. Mungkin Angin ini yang akan menjadi satu
cerita berkesanku. Menjadi goresan kisahku menuju jalan keselatan. Angin semilirmu
tak akan kulupa. Terimakasih telah menemani perjalananku.lamunanku berhenti
dikala kulihat di depan sana terlihat tulisan SOTO. Ku bilang ke Agung untuk
menepi. Perlahan agung menurunkan kecepatan laju mobil imut ini. Mobilpun
berhenti tepat di depan warung makan yang telah kutunjuk tadi. Azizah langsung
terbangun dan merapikan jilbab merah muda yang di kenakannya. Sementara Fatkhur
turun Agung menunggu Azizah dan Aku keluar, beberapa saat kami bertigapun
menyusul Fatkhur turun. Azizah yang ttadinya lesu kini mulai terlihat ceria
lagi. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dilanjutkan
senyumannya melihat kakinya ngapak ditanah. Aku Fatkur dan Agung menyambung
senyumnya sesaat setelah nya. Dan tanpa sesuatu yang jelas kami tertawa tanpa alasan.
Mungkin ininlah rasanya persahabatan.
Perasaanku lebih tenang dan damai setelah melihat senyum mereka.
sebuah susunan
bata tanpa acian semen yang Nampak rapi dihadapakanku. Nuansa tradisional namun
bangunannya tertata rapi. Pengunjungnya ramai. Suara sedikit gauh dari para
pengunjung warung makan ini membuatku lapar. Ku lihat menu makanannya ada
berbagai varian soto dan minuman yang ditawarkan. Langsung kami berempat masuk
berbarengan dan mengambil posisi tempat duduk yang kita inginkan. Kemudian
kutanya kepada ketiga sahabatku ingin pesan apa. Mereka pun menjawab saling
bersahutan seperti burung berkicau. Lucu dan nyaman ketika bersama mereka.
Setelah sudah menentukan pesanannya akhirnya aku dan Fatkhur memesannya. “Bu,
soto Ayamnya 4 nggih” ucap fakhur dilanjutkan jawaban dari ibu nya “minume nopo
nggih mas?” Esteh 2 the anget setunggal es jeruknya setunggal ‘sahutku. Nggih ditunggu sekedap nggih mas, monggo
‘tutur ibu mempersilahkan kepada kami Suwun
Bu ‘ucap terimakasih kami dan kembali
menuju tempat di kejauhan sana yang terlihat Azizah dan Agung yang sudah
terduduk manis di kursi dampar kayu. Aku dan Fatkhur sgera menyusul Agung dan
Azizah duduk di tempat duduk itu. Kamipun ngobrol-ngobrol bareng untuk
mencairkan suasana tegang di dalam mobil dari tadi. Azizah terlihat sangat ceria sekarang. Agung
juga ikut berbincang-bincak gajelas dengan kami. Canda tawaini sedikit
mengurangi rasa lelah di perjalanan yang sudah kami lalui hampir tiga jam
setengah. Tak terrasa dengan candaan kita makanan dan minuman yang kita pesan
pun sampai, dibagikan satu persatu oleh pelayan warung makan tersebut.
Kupandangi semangkuk soto di hadapanku. Hehe ternyata soto di Klaten beda
dengan soto di daerahku, dari semua sajian makanan yang dimeja makan tersebut
berbeda karakteristiknya dari semangkuk soto sampai gorengan-gorengannya pun
berbeda. Dari tekstur dan bentuknya ‘gumamku dalam hati. Kini ketiga sahabatku
tadi sudah meluakan ketegangan yang terjadi sebelumnya. Kulihat mereka sudah
menyantap sajian makanan dari warung makan ini dengan lahap dan berirama sambil
sesekalli melirik satu sama lain. Kembali kulihat mangkuk di hadapanku rasanya
ingin kusantap namun aku lupa bilang tidak memakai kol dan toge terpaksa aku
harus membuangnya terlebih dahulu.
Seusai bersih hanya meninggalkan satu dua toge akupun segera menyantap
soto segar dihadapanku. Setelah kucoba ternyata rasanya tidak jauh beda dengan
soto di daerahku. hanya kuahnya yang membedakannya santan yang biasanya dipakai
untuk memperkental kuah kalu didaerahku disini tidak memakai santan. Namun tak
terlalu ku hiraukan dan sekarang aku lanjutkan menghabiskan sajian makanan
tersebut. Sendok demi sendok kulahap habis soto tersebut. Segera kuambil tisu
didepan Agung. Ku usapkan ke bibirku yang masih terasa ada bekas kuah soto.
Kulihat Fathur Agung dan Azizah juga sudah selesai menghabiskan semangkuk soto
dihadapannya yang tersisa kini hanyalah mangkuk dengan sisa kuah sedikit dan
minuman pesanannya masing-masing. Sambil berbincang-bincang kamipun tak lupan
member kabar kepada sahabat kami Rahma yang tidak bisa ikut. Kini kami pun
bercanda kembali, kali ini si Fatkhur yang merupakan raja kritikan mulai
ngebanyol tentang makanan sajian yang di hadapannya. Makanan disini kok beda
ya. Namun masih sesuai dengan lidahku lhoohh ‘dengan nada bicaranya yang khaas
kamipun mulai saling membahas perbedaan mengenai makan-makanan dari daerah
masing-masing. Lama kami bercanda dengan makanan dihadapanku kulihat satu
persatu lagi sajian makanan di hadapan kami tiba-tiba mataku terhenti di salah
satu makanan yaitu tahu. Mungkin jika bilang tahu itu sudah tak asing lagi
bukan. Namun kali ini tahunya teksturnya itu beda dengan daerahku. mempunyai
tekstur dengan pori-pori besar dan banyak, seperti menggembung dan tak beerisi,
tak seperti tahu ditempatku yang padat berisi. Terus kupandangi lagi dan lagi
ku Tanya-tanya mengenai tahu ini, namun agung dan fatkhur sama sama shock
dengan tahu ini. Ah emang aneh ya makanan disini hehe ‘dengan sedikit melirik
AZizah berharap dia menjelaskan. Dengan nada santai dia pun menjelaskan. Ah
lama ia menjelaskan kami bertiga hanya mlongo dengan sesekali menyrutup minuman
kita. Shruuuppp. . . sampai di serutupan terakhirku tiba-tiba aku kebelet
pipis. Segera ku ke kamar kecil yang ada di warung makan ini. Ku Tanya kepada
pelayan yang ada ditunjukkan sebuah jalan ke kamar kecil. Akupun segera masuk
tempat yang di tunjukan pelayan tersebut. AH lega dalam fikirku hehe. Langsung
saja ku balik ketempat makan tadi. Terlihat terjadi perbincangan antara ketiga
temanku. Setelah ku mendekat ternyata tadi selama aku kebelakang Azizah
membayari makan kami. Kebiasaan nih anak ‘gumamku. Yaudah yuk keluar ‘ajakku
keteman-temanku dengan tak lupa mengucap terimakasih kepada Sahabatku
Azizah. Sambil berjalan kedepan warung
makan ini menuju si putih imut ku lihat cahaya dari pintu depan rasanya lega
ketegangan tadi berakhir.
Cahaya diluar
kian terliahat. Langkah kami beriringan berjalan. Hembusan semilir angin tipis
kearah kami. Pintu indah ini adalah satu jejak saksi pijakan kami pernah
mengapakkan kaki kami disini. Sampai pijakan kami ditanah ini. Kulihat keatas
mendung mulai bergeser menuju utara dan cerahnya langit kembali terlihat.
Dibawah pohon karsem udara di pagi menjelang siang ini masih sejuk. Semerbak
angin bersih udara Jalanan desa begitu segar tanpa polusi berlebihan dari
kendaraan bermotor. Kami duduk-duduk sejenak dibawah pohon teras rumah makan.
Masih ingin menghirup udara segar sebelum melanjutkan perjalanan. Angin ini
menggoreskan sebuah cerita jejak-jejak pijakan kaki kebersamaan kita. Panca
Anucara ARsawati. Ingin rasanya ku berteriak dengan nama tersebut. Belum sempat
berteriak ada pak penjaga parkir mendekati kami dan ikut nimbrung. Lucu
candaannya membuat kita semua tertawa dan cukup terhibur. Dengan Azizah yang
terduduk melamun pun masih di ejek dan di goda dengan caandaannya untuk
tertawa. Bahkan setelah aku ingin mencarikan plastic tuk Sahabatku aku di bantu
pak Jukir dan di mintakannya plastic kedalam lalu dikasihkan ke aku. kuucapkan
terimakasih kepada bapak nya dan pamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Kembali ku buka
gMaps dari smartphone mungilku. Lalu ku intruksikan kepada Agung. Dengan nafas
sedikit lega Akhirnya kami tetap pada tujuan Awal kita yakni ke Gunuung Kidul.
Namun ku belum sepenuhnya lega. Karena mulai dari sinilah perjalanan akan
semakin berat walaupun terlihat Semuanya kembali semangat, Agung menyetir
dengan senyumnya, Fatkhur dengan nada-nada bulat senandungnya dan Azizah dengan
wajah berseri semangatnya yang kembali dengan hilangnya ketakutan yang ada
dalam raut wajahnya. Semua ini hanyalah awal orang dahulu berkata dalam
perjalanan 1000km di 999km itu hanyalah perjalanan ringan dan 1km itulah ang
sesungguhnya antara maju dengan resiko besar atau mundur dengan keputusasaan, kulihat pohon demi pohon terlewati dengan
tanda di gpsku sebentar lagi kita akan melewati perbatasan antara klaten dan
Yogyakarta dan langsung berada dikawasan Gunung kidul. Dengan bergantinya
mendung yang berganti panas terik matahari tanda siang menjelang pukul 10.22a.m
yang kulihat dalam smartphoneku. Ini akan menjadi akhir perjalanan ini akan
semakin sulit. Terlihat dikanan kiri
sudah mulai banyak pepohonan rimbun alam asri nan alami bukit-bukit tinggi
dengan tumpukan pohon menjadi hiasan alam indah, jalanan yang kian menyempit
untuk kita lewati. Hanya rumah-rumah kecil dusun kecil yang kami lewati, padi
yang terhampar luas menambahi keindahan yang terlewati. Jalan berkelok dengan
tanjakan-tanjakan indahnya pertanda perjalanan kami sudah sampai di Deretan
Gunung kidul. Pegunungan ini kira-kira
ada tujuh lapis nantinya akan kita lewati ‘penjelasan Azizah membuyarkan
lamunanku. Terlihat dari tatapan matanya ia pun sedikit dalam lamunannya
melihat jalanan yang sudah lama tak di lewatinya. Mungkin lebih dari dua tahun lanya
ia sudah tak melewatinya, mungkin juga melepas rindu dirinya akan kampong
halaman dengan sudah lama ia sudah tak pulang ke kampong halamannya. Ku
tersenyum melihat tatapan indahnya.
Jalanan ini berliku seperti kehidupan sesekali terdapat persimpangan
yang membuat bingung dan bimbang untuk memilihnya. Di depan terlihat jalan
bercabang, ambil kiri gung ‘kataku. Dan mobil terus melaju kedepan dengan
kecepatan sedang tanjakan demi tanjakan kita lewati, kini tanjakan yang agak
tinggi dan terjal kami lewati menakutkan, dengan jalan sempit ini kami terus
melewati jalanan ini, dibalik terjarnya tanjakan tersebut, dari sebelah kiri
melihatkan bagaimana pemandangan Alam yang sangat indah, Kemudian Azizah
sedikit berbicar dengan cletuknnya mengenai bukit bintang, dia sudah seperti
pemandu wisata dalam benakku. Perjalanan terus berlanjut dengan terus melajunya
si putih imut yang kami kendarai.
Lama sudah kami
berada didalam mobil namun tan kunjung mendapati tanda akan segera sampai di
lokasi. Naik terun kelok jalan sudah kami lalui. Kulihat smartphoneku sudah
lost jaringan internet. Kini tinggal gps dan jalan yang sudah ku tandai.
Semakin lama yang kurasakan hanyalah bahwa yang terlewati adalah perjalanan ini
semakin masuk jauh kedalam hutan. Dengan
kelokan jalan yang sangat terjal membuat semua orang merasakan pusing Azizah
sudah mengisyaratkan bahwa dia mulai tidak seperti tadi, mukanya kembali pucat
pasi menandakan bahwa kondisinya sudah tidak fit lagi. Kulihat Agung juga sudah
sedikit lesu menyetir moil hampir setengah hari tanpa ada yang menggantikan,
Fatkhur juga kelihatan lemas apalagi ditambah cuaca panas yang menyelimuti
daerah pegunungan disiang hari ini membuatnya begitu letih. Huekk ‘kulihat
Azizahmenutup mulutnya dengan kedua tangannya, ku ambilkan satu kantong plastic
hitam pemberian bapak tukang parkir yang tdi.
Dia mulai muntah-muntah hebat. Sampai beberapa menitan ia baru selesai,
ku sodorkan tisu untuk mengusap bibirnya, kini iapun tertidur di pangkuanku dan
sedikit merintih kesakitan namun nadanya lirih, ku coba mengusap ubun-ubun
kepalanya untuk sedikit membuatnya tenang. Jalan yang kami lewati kini benarlah
seperti hutan tak berpenghuni, dengan jalan yang hanya setapak semobil kecil
ini dengan jalan yang berkolok idahnya disapu dengan gerakan belokan-belokan
indah dari Agungpun kini menambah pusing Sahabat-sahabatku, didepan Fatkhur
sudah tertidur sengan pulasnya, Azizahpun juga sudah memejamkan mata dengan
sesekali gerakan tubuhnya. Smartphone yang kugenggam juga sudah kehabisan daya
baterai maupun Asupan Jaringan, perjalanan kita kini hanya mengenakan feeling
dalam beberapa pilihan jalanan di persimpangan, hawa panas terkadan juga
membuatku pusing, letih dan mengantuk. Namun inilah sulitnya perjalanan Akhir
yang sudah aku fikirkan sejak tadi. Aba-aba kiri kananku hanya menggunakan
feeling ku tanpa tahu mana arah yang sejatinya benar, tak ada minuman kini kita
harus melawan medan terjal kelokan tajam khas pegunungan, udara panas siang
hari dan juga rasa kantuk yang mulai menyerang. Azizah kembali bangun dan
muntah-muntah lagi kini plastic terakhir yang kami punya, mau tidak mau harus
cepat sampai, kini wajah Azizah Nampak semakin lesu bersandar dalam kaca, namun
tidak mengeluh dan ingin pulang. Kutarik kembali kepalanya kepangkuanku, kutahu
jalanan yang seperti pasti tambah membuatnya berputar kepalanya ditambah hawa
panas ini kuhanya termenung bisakah kita mencapai arah yang sebenarnya. Sudah
satu jam setengahan kita berada dalam perjalanan dari warung makan soto tadi,
sudah lama ku tak melihat belokan. Yang ada hanyalah beberapa bekas galian
Karst dipegunungan ini. Mobil terus melaju, kubuka sedidkit kaca mobil. Angin
sepoi sepoi mulai menjalari tubuhku. Angin lah yang semenjak tadi sealu
menenangkanku. Kini udara pengap panas mulai terobati dengan Angin segar.
Pegunungan indah dengan susunan batuan Alami yang rapi nan indah yang baru juga
bagiku. Ku terkagum dengan perjalanan ini walaupun banyak sekali yang terlalui
canda suka maupun letih susah namun inilah perjalanan indah dengan jejak-jejak kami
akan abadi tak tergerus oleh zaman. Kenangan perjalanan ini dalam sebuah
goresan angin yang juga akan abadi menjadi cerita di masa yang akan datang.
Angin oh Angin kau membuatku nyaman disini dengan sosok gadis kuat dengan
senyumnya yang berada dalam pangkuanku dengan pria pendiam namun kuat dan pria
berkacamata dengan nada shimponinya juga dengan gadis jauh yang masih support
walaupun dia tak mampu membersamai perjalanan ini. Kutarik nafas dalam-dalam
lalu kuhembuskan bersamaan dengan semilir angin ‘Huffffhhhff. . . kupejamkan
mataku sejenak kurasa jalanan setapak ini adalah jalan Aspal terakhr kami,
kubuka pejaman mataku perlahan dan kulihat beberapa meter di depan ada pal
gapura masuk destinasi wisata gunung kidul,ku lega Akhirnya ‘suara dalam hatiku
dengan senyum sedikit kearah depan. Sebuah kesabaran ini akhirnya menemui titik
yang mulai menyejukkan jiwa.
Dengan laju yang
mulai pelan. Agungpun berhenti tepat di samping petugas yang menghentikannya
tadi. Bersamaan dengan itu ku lihat Fatkhur sudah terbangun dari tidurny dan
juga Azizah yang sudah membuka matanya.terdengar bincang-bincang Agung dan
Fatkhur dengan petugas penjaga yang ku dengar tiket masuknya 10.000 per anak,
cukup murah meurutku karena dengan biaya operasional segitu kita dapat menikmati
beberapa pantai yang ada di gunung kidul yang jumlahnya lebih dari 12 pantai.
Disodorkan selembar uang biru dari Agung lalu di kasihkannya empat tiket dan
juga kembalian. Kamipun segera tancap gas kembali. Dengan jalanan yang tidak
terlalu terjal kamipun melaju sedikit kecang ditambah jalanan Aspal yang
terlihat masih hitam yang sepertinya masih baru.
Musik play
menemani perjalanan terakhir kami. Bebeerapa menit kami telah berjalan menjauhi
pal gapura tadi. Yang ada di fikiran kami kini hanyalah cepat sampai dan
memijakkan kaki kembali di bumi indah, negeri penuh nuansa. Eksotisnya pantai
dan juga alam negeri mataram yang masih terjaga hingga kini. Hanya beberapaa
tanjakan yang kami lewati. Ditemani tebing-tebing indah di sebelah kanan kiri
kami. Kulihat di depan ada sebuah tanjakan yang tinggi kubecanda dengan
teman-temanku, “ya ini setelah kita melewati tanjakan ini, kita akan melihat
pantai indah ini diiaa” semuanya terpaku melihat kedepan da n mereka semuanya
kecewa karena yang terlihat masihlah gundukan tanah dengan pepohonan, hehe
mereka menghembuskan nafas berbarengan. Hehe namun ini belumm berakhir tinggal
sedikit lagi kita menggapai tujuan kita. Senandung music dari sound menbuat
keheningan sesaat di dalam mobil dengan play radio Dakocan. Lucu karena paduan
Dangdut koplo enak tenan ini baru kutemui juga. Banyak sesuatu yang baru yang
kutemukan di dalam perjalanan ini. lagu kemesraan turut menemmani perjalanan
akhir ini dari penyiar radio tersebut. Mobil yang ku naiki ini berasa mlaju
berirama beriringan dengan music play yang kudengarkan. Tak terasa perjalanan
kami menuai titik hasil. Pantai indah dengan tebing-tebing indah menyatu.
Persimpangan
jalan dengan tugu kokoh berdiri menjulang tegak. Bus-bus pariwisata sudah
banyak berjejeran. Riuh-riu suara pengunjung dipadu dengan suara larian diatas
deburan pasir putih pantai sadranan, tua muda remaja dan anak-anak tumpah ruah
dalam kegembiraan tebing-tebing indah di sisi mereka dan biru air laut berada
disisi yang berbeda dengan pijakan pasir menambah eksotisnya pantai ini. sampai
aspal terakhir pasir pun menyambut hangat kedatangan kami disini, sepanjang
jalan tak ada spot kosong, semuanya ramai oleh pengunjung yang mendekati
petakan ruko penjual jajaan. Dengan laju pelan kita mencarikan tempat parkir untuk
si putih imut ini. Sadranan lewat kini sampai di Slili beach laju pelan kita
kini berubah dengan belokan ke kanan mengikuti tanda Area Parkir Mobil. Tak
lama dari itu spot luas parkir mobir sudah di depan mata. Dengan sigap Agungpun
memarkirkan mobil putihnya dibawah pohon yang sangat teduh walaupun berbalut
dengan cuaca cerah panas di Gunung Kidul dikala itu. Azizah terbangun dengan
nafas lega. Segera ia merapikan baju dan jilbab merah jambu yang dikenakannya
dan kitapun segera turun dari siputih bersamaan. Udara panas dengan segarnya
angin yang berhembus menyambut kita. Matahari nan terik dengan sinarnya seakan
menyorot kearah kita memberikan salam kenal kepada kita.
Oh ya hampir lupa
snack ringan cemilan yang dibawa azizah masih tertinggal. Eh bentar gung ada
yang ketinggalan di dalam mobil ucapku keagung sambil membuka pintu mobil
belakang ku raba-raba bagasi belakang untuk menemukan sekantong plastic putih
yang berisi berbagai snack ringan didalamnya. Shreekkkk. . . ini dia
plastiknya. Langsung ku bawa keluar tak lupa ku tutup pintu mobilnya. “beres
gung” kataku sambil mengacungkan jempolku kepadanya, Cuit. . . cuit. . . bunyi
lock mobil berbarengan dengan ucapannya “siap lut”. “Pantaiiiii. .” teriakan
Azizah dalam posisinya tengah jongkok dengan kecapean yang dirasakannya. “yuh
langsung kesana yuk” ujar Fatkh dengan menunjuk arah pantai. Kitapun segera
berjalan menuju pantai tersebut. Hanya beberapa langkah kamipun sampai di Slili
Beach. Udara atmosphere ini sungguh berbeda dengan pantai utara jawa pikirku.
Ahhh capeknya ‘kata Azizah yng langsung duduk di sebuah gazebo yang berada
diantara banyaknya gazebo di pantai ini, kedua sahabatku lainnya Fatkh dengan
Agung pun mengikutinya dengan duduk. Aku berjalan menuju gazebo tepi duduk
bersama. Nih dimakan ‘kusodorkan snack ringan yang kubawa ketengah gazebo. Iya
tuh dimakan saja semuanya ‘lanjut azizah dengan dibalas tawa lucu Agung, Hatur
nuhun ‘ucap Fatkh dengan nada yang meniru cirri khas sunda, makasih makasih
‘sambung agung dank u buka satu snack ringan tersebut lalu menyerbunya bersama
ditengah-tengah panas dan terik terasa tak goyahkan semangat kita bersama kita
wujudkan Asa tuk meraih CITA.
Diriku duduk
ditepian gazebo, menghitung banyak ombak datang mendekat. Sahabatku ada di
sampingku. Kubahagia ku tidak sendiri di pinggiran susuna kayu yang saat ini
kududki. Laut yang sangatlah biru menyerupai kasih sayang, yang mengajari suatu
arti dari keabadian. Sinar matahari menyilaukan, saat tatap wajahmu dari
samping. Dalam hatiku ingin berteriak kencang keisenganku saja. meskipun persahabatan terasa sedih, hanya
Angin laut yang sejak dari dulu bertiup menujuku. Burung laying-layang putih
mengelilingi langit sepert memanasiku “ayo cepat teriakan!” akupun diselingi bercanda
dengan sahabatku namun tatapanku tetap menuju pasir disana, inginku melepas
sepatuku dan seketika lari sekuat tenaga
bagai mengejar mimpi. Bersama debaran denyut jantung yang meningkat,
kusadar, walau ku hitung deburan ombak
tak akan ada habisnya. Akupun bangkit dari duduku dank u pandangi jauh di
lautan lepas sana, ku langkahkan kaki perlahan dan berhenti. Sinarmu tak akan
mengalahkan anginku. Namun aku tak akan kabur menjauhimu. Tetaplah melangkah
kita semua akan terus disinari cahaya matahari, anganku ini akan terus
berlanjut apapu yang terjadi, lebih jauh menuju cakrawala diujung sana. Sesaat
kusadar akupun sendirian menatap langkah kaki tak mampu melepaskan teriakan.
Pantai putih bersih ini seperti perasaan jujur yang memaksaku tuk kembali duduk
dan bersama sahabatku, impian tanpa dorongan dari sahabat tak akan berarti.
Kini aku bersama kalian sahbat-sahabatku.
Bunyi desiran
ombak pantai adalah suara alami yang begitu indah, damai saat mendengarkannya,
ombak ini adalah ombak yang indah desiran ombak yang menggulung dari jauh sana
hingga ke tepian berbeda dengan ombak yang selama ini kunikmati di jepara ombak
disini besar tapi suaranya kian indah. Sesekali ku ambil snack yang kita makan
bersamasama dengan diselingi canda tawa ini tak terasa waktu terus berjalan dan
ku lihat matahari sudah mulai bergeser dar sebelumnya semenjak kami duduk di
gazebo ini. kulihat jam ditangan Agung ternyata sudah menunjukan pukul 1.12
waktu sholat dzuhur sudah hampir terlewakan, terlihat diseberang sana seorang
ibu penjaga warung berjalan menghampiri kami dengan menghantarkan dua mangkuk dengan nampan. Sepertinya pesanan
kita segera sampai ‘celetuk azizah. Iyya
tuh kyaknya pesenannya udah mau nyampai hehe kata si Fatkh dengan ketawanya
yang kadan mengerikan, yah setelah menunggu pesenan kita yang tadi telah
sepakat membeli mie rebus dua untuk berempat kita pun memutuskan menunggu
pesenan kita dahulu karena sudah terlanjur pesan lalu sholat. Tak sampai satu
menit pesanan mie rebus kita sampai. Di sodorkan 2 mangkuk mie rebus tersebut
kepada kita oleh ibu pemilik took diseberang sana, terlihat tanpa aba-aba
azizah langsung berdoa dan melahapnya. Mungkin karena muntahannya jadi perutnya
kosong dan perlu isi ulang, disisi sebelah fatkh dan Agung juga mulai memakan
mie rebus tersebut. Hanya butuh lima menitan kita menghabiskan mie rebus
tersebut. Nampak semuanya sudah mulai terisi lagi. Kita pun kembali mengobrol
gajelas kesana kemari hingga hampir kelupaan untuk sholat. Eh kita belum sholat
lhoh, yuh sholat ‘ajakku ke teman-temanku. Yuh ayok jawab aFatkh dan Agung
bersamaan. Yahh aku gak sholat nih, terus aku disini sama siapa? Nanti kalau
aku diculik bagaimana? hehe ‘jawab Azizah dengan sedikit candaanya. Ya udah aku
sama Agung sholat dulu nanti gentian sama lutfi, usul fatkh. Ya udah gitu juga
gapapa, jawabku. Eh tapi musholla nya dimana ya? Tanya agung terlihat bingung
dan menegok-nengok sekeliling. Itu tuh disana tadi aku lihat ad tulisan
musholla, jawab azizah dengan menunjuk ke sebuah tempat di seberang sana. Oh
oke deh, jawab Agung dan Fatkh dengan berdiri dan berjalan berlalu dari gazebo,
tinggal aku dan Azizah yang terduduk terdiam tanpa sepatah duapatah kata yang
keluar dari kami berdua, dari dulu aku selalu gugup dengan wanita. Namun muka
dinginku menutupi semuanya, gugup gemetar dan yang lain tertutup hanya dengan
wajah dinginku. Tak ada 5 menit lammanya Fakh dan Agung kembali kehadapanku. Eh
sana mushollanya tutup semua. Ada tempat lagi nggak ya? Tanya Fatkhur
mengagetkanku ang tengah berkonsentrasi dihadapan seorang gadis. Ha? Hanya kata
itu yang keluar dari mulutku yang terkaget kulanjutkan dengan mengajak mencari
musholla kearah barat dan mereka pun mengiyakan.sementara Azizahpun mengangguk.
Ya udah deh yuh jalan kesana, aku ikut aja nggapapa, ntar bisa nunggu diluar,
jawab azizah mempertegas anggukannya. Kalau begitu yuk langsung jalan, keburu
habis waktu dzuhurnya, ajakkuu kepada ketiga sahabatku , merekapun mengangguk
dan berkata ayuk kompak. Kitapun segera berjalan kebarat berlalu meninggalkan
slili beach dengan gazebo tempat yang sedari tadi telah member salam
sambutannya kepada kami.
Jalanan pasir ini
lembut, tiap langkah kita terbekas dalam pasir itu, jalanan menyusuri pesisir
pantai dari pantai sadranan sampai pantai slili hingga kini langkah kita menuju
pantai krakal. Mencari Ridlo Allah SWT sebagai hambanya dan menunaikan
kewajiban kita sebagai umat Islam. Langkah kita semakin ringan, dikala jalan
menuju impian kami dengan ridlonya, kita tidak main-main dengan impian kita,
yakin suatu saat kita akan menggapainya, semua harapan dan impian. Perjalanan
ini hanyalah miniature bagaimana keinginan kita menggapainya. Jalanan penuh batuan, rintangan, tanjakan
yang berkelok tajam dan juga dapat membersamai semuanya dalam situasi apapun. Tapak-tapak bekas sepatu dan kaki kami dalam
pasir putih ini member arti bahwa kita mampu bersama berjalan beriringan tak
terpisahkan. Kulihat batuan-batuan karst yang tertata dijalanan untuk
memadatkan jalanan untuk kendaraan mulai kita tapaki juga menuju pantai krakal,
beberrapa meter saja kami melewati jalan berbatuan ini. tampak indah jalanan
dengan batuan yang bersatu dengan pasir ditambah rindangnya pepuhonan menutupi
jalanan ini membuat kita sedikit terpesona.
Langkah demi langkah berjalan melewati jalanan berbatu ini. hna beberapa
langkah kita melewatinya dan mulai berjalan diatas pasir pantai yang terbentang
luas, to krakal beach. Sebuah tulisan besar menempel di bukit pantai menambahi
indahnya pantai disini. Panas terik terasa kembali, kulihat di kejauhan
terdapat musholla, eh disana ada musholla, yuk kesana aja ‘ajakku ke
sahabat-sahabatku. Merekapun mengikutiku menuju tempat itu.
Langkah kami
terhenti di sebuh rumah kecil, lusuh dengan atap yang terbuat dari asbes dengan
tembok papan triplek lantai tanah, sebuah musholla umum yang disewakan oleh
seorang warga, kami tak punya pilihan lain lagi. Kami disambut ramah oleh sang
pemilik, aku Agung dan Fatkh memasukinya sementara Azizah kusuruh menunggu di
sebuah gazebo di tepi pantai. Ku lihat tempat sholat yang disediakan hanyalah
sebuah tikar yang langsung bersentuhan dengan tanah dengan satu sajadah di
atasnya. Bergantian ku memasuki kamar mandi untu sekedar buang air kecil dan
Ambil wudhu. Beberapa saat kemudian kita
berkumpul ditempat sholat tersebut dan langsung menunaikan sholat bersama-sama.
Dengan keterbatasan waktu nanti diperjalanan pulang kitapun menunaikan dua
sholat dengan di jama’ dan qoshor. Dengan khusuk kita menunaikan solat. Hingga
tahiyyat terakhir sholat kami sejuk dan damai kembali merasukiku. Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh,
asslamualaikum warahmatullahiwabarakatuh kuhanya berdoa singkat setelahnya
semoga perjalanan kita nantinya lebih baik dan semoga kebersamaan ini tidak
hanya sesaat. Berbeda dengan kedua sahabatku yang memang anggota rohis jadi
wajar berdoanya cukup lama, ku terssenyum melihatnya. Segera ku ambil jaket
yang kuletakkan disebelahku lalu keluar menemui pemilik musholla umum ini “Pinten bu?” tanyaku kepada ibu pemilik
tempt ini. 2000rp per anak mas, jawab ibu tersebut. Kuambil uang di sakuku dan
kuberikan kepada ibu tersebut. Kemudian
ku mendekati gazebo di seberang sana tuk sekedar menemani sahabat wanitaku
disana. Belum sempat duduk ku disambut Azizah dengan mengatakan lama banget vi
dengan muka agak bĂŞte karena ditinggal lama.
Ku duduk dan hanya terdiam dengan senyumku kepadanya, tak lama kemudian
Agung dan Fatkh juga telah selesai dan duduk bersama-sama dengan canda tawa
kita.
Sejenak saja kami
bersandar di tempat ini dibawah teriknya panas matahari yang sangat menyengat.
Fatkh di sebelahku sesekali mengeluuh seperti biasanya dengan menunjukkan foto
dan video teman-temannya yang di share di grup, yang harusnya hari ini adalah
jadwal bimbingan dengan dosen pembimbingnya, kita dengan sesekali membuatnya
tabah dengan sedikit ledekan dan tawa kami. Disisi baiknya Fatkh merupakan
orang yang sangat baik, namun sisi lainnya terkadang muncul sebuah sifat
kekanak-kanakannya yang lucu dan sering membuat kita semua ikut merasakan yang
dialaminya walaupun itu anya hal kecil. Fatkh tetap menghadap layar smartphone
yang baru ia beli beberapa waktu yang lalu denganku. Sementara agung terus
melihat-lihat sekelilingnya dengan wajah senyum dinginnya. Sementara azizah
tengah main smartphone miliknya disebelahku. Vi aku haus, beliin air minum yang
dingin donng, pinta azizah kepadaku. Iya zi, jawabku pelan dengan berdiri dan
mencarikan minuman buat azizah. Satu warung kuampiri namun zonk tidak ada yang
dingin akhirnya diwarung kedua ku mendapatkan minum air putih. Segera kuambil
lalu kubayar. Dengan langkahku berbalik badan dan kembali kearah gazebo tadi. Sampai ku di gazebo langsung ku
berikan sebotol air itu kepada Azizah. Ah bukain dong vi, pinta Azizah kembali
kepadaku. Kutarik lagi uluran tanganku lalu ku bukakan tutup botol tersebut.
Ssshrekkk. . . kusodorkan kembali tanganku memberikan air minum tersebut.
Azizahpun menerimanya dan langsung meneguknya. Glek. . . glek. . glek. Tegukan
air minum azizah. Terlihat lagi segarnya azizah. Kemudian ditawarkannya kepada
agung dan Fatkh. Dengan tegukan air yang bergilir kamipun larut dalam canda
tawa kami lagi.
Suntuk rasanya
duduk lama-lama. Kuajak Azizah agung dan Fatkh untuk berjlan-jalan karena sudah
jauh-jauh jalan masa hanya duduk dan bermalas-malasan. Eh yuk keliling
lihat-lihat yang disebelah sana yuk, ajakan Azizah yang sudah segar sehabis
minum mendahuuiku. Ayoo, agung Nampak semangat dilanjutkan dengan suara fatkhur
sama. Aku ngikut kalian saja hehe, jawbku dengan menyeringai. Langsung kita pun
beranjak dari duduk dan langsung bangkit.
Berjalan lah kita semua kearah barat bongkahan batu besar disebelah
cukup membuatku takjub. Inilah yang kucari, sebuah keindahan alami. Ntah ini
batu atau bukit aku tidak tahu namun
cukup membuatku berdegup kagum. Ingin ku naik keatas sana namun ntah karena apa
dilarang menaiki bukit tersebut. Kulanjutkan langkah ini mengikuti
sahabat-sahabatku. Dalam hitungan langkahku tiba-tiiba tercium bau busuk,
sepertinya kerang busuk namun tak kami hiraukan dan terus berjalan. Baru
beberapa detik kami berjalan melewati bau busuk tadi langkah kami terhentikan oleh
putusnya jalanan kami oleh muara sungai.
Air ini bercampur, tawar dan asin terlihat sedikit dibalik beningnya air
banyak ikan hidup didalam situ, berlari-larian lepas satu dengan yang lainnya.
Penglihatanku dibuyarkan dengan tepukan di punggungku oleh azizah, kita pun
akhirnya berbalik dan kembali melewati bau busuk tadi dan berniat melewati
jalur yang lebih baik. Satu dua mobil melewati jalan itu. Berniat menuju puncak
sana yang terlihat sebuah tugu berbentuk ikan dengan cat warna kuning, namun
dengan langkah kaki ini sepertinya terlalu berlebihan dan membuang waktu yang
sangat banyak. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kita memutuskan untuk
menuju pantai sadranan saja di sebelah timur untuk bermain pasir. Kembali
langkah ini berlalu beriringan melewati jalanan ini. langkah-langkah ini
terukir indah dalam pasir putih.
Bhuuussss. . .
bhiuuusss. . . bhuuusssh . . . desiran ombak pantai krakal membuatku terdiam
bersama sahabat-sahabatku. Hijau rerumputan dengan pasir putih disebelahnya,
dihiasi gelombang ombak air laut yang menabraki karam dan melambai ke pasir
yang kini kami pijaki, terhenti sejenak untuk sekedar mengabadikan
moment-moment ini di pantai krakal nan indah ini. lautan dan perbukitan menjadi
hiasan alam yang indah membuatku semakin terpesona dengan indahnya ciptaan sang
maha kuasa. Beberapa menit brlalu satu dua foto dan video sebagai kenangan
berhasil kita ambil, waktu semakin sore kitapun melangkah lagi berjalan menuju
pantai Sadranan agar nantinya balik tidak terlalu kesorean.
Batuan karst yang
terususn rapid an daun pohon-pohon yang menari dengan rindangnya terkena tiupan
angin seakan menyapa kami tuk mengucapkan salam perpisahan kami. Sampai jumpa
kembali dalam hatiku berucap. Hanya beeberapa jangkahan kami melangkah kami
telah melewati susnan batuan tersebut dan berganti dengan pasir putih pantai
slili, gazebo yang sebelumnya telah kami singgahi pun Nampak sedih melihat
langkah kita melewatinya. Langkah kita terus, terus dan terus melangkah
berjalan ke timur hingga kudapati petunjuk masuk kepantai Sadranan, bahkan
langkah inipun terus melangkah kembali pasir berganti aspal lalu aspal berganti
dengan pasir yang baru kupijaki, kali ini Pasir pantai sadrana manambut hangat
kami dengan ramainya pengunjung berlalu lalang berlarian di pasir. Dalam hati
ku berteriak “KAMI DATANG PANTAI
SADRANANNN. . . .!!!”
Panas terik sang
surya terpantul indah menyilaukan dalam deru ombak yang kian menepi. Garis panta
yang lebih panjang dibandingkan pantai slili dan pantai krakal menjadi favorit
para pengunjung, terlihat bergerombol para pengunjung bermain pasir dan bermain
air, ada juga yang sekedar hunting foto. Pantai selalu mempunyai cerita.
Menyisakan butiran kenangan yang bercampur dengan pasir putih. Batu batu karang menambahi indahnya relief
pantai ini. dengan riuhnya para pengunjung membuatku juga ingin berlarian di
tepi pantai. “yuk main aair dong, masa
sampai sini kita nggak basah sih” ajakku kepada sahabat-sahabatku. “Ayukkk. ..
aku juga ingin main air” jawab Azizah setuju. Namun berbeda dengan dua
sahabatku yang lain, sepertinya mereka bimbang. Karena tidak membawa baju
ganti. Kubujuk berulang-ulang dengan Azizah hingga Akhirnyapun masih tetap sama
mereka tidak mau. Akhirnya aku dan Azizah yang main Air sendiri sementara Agung
dan Fatkh menunggu di tepian yang adem disebuah petakan tempat jualan orang
yang kosong. Gung tur nitip ya. . .
ucapku minta tolong pada kedua sahabatku untuk menitipkan HP uang jacket dan
sepatuku. “ohh siap siap sana main aja ya kita nunggu disini aja ya gung, ujar
Fatkh sementara agung hanya berkata Iya Iya sambil tersenyum khas Agung. Sekarang kakiku lebih siap untuk berlari.
Azizah juga telah siap. Sementara Agung dan Fatkhur hanya menikmati melodi
indah ombak Air laut yang menerpa karang dan riuhnya pengunjung yang berada
disini. Berjalan ku berlalu bersama seorang gadis di sebelahku. Langakh langkah
kebersamaan yang belum pernah kurasakan.
Berhenti sejenak
ku gulung celanaku selutut. Ku usap pasir pantai ini. ku pun berlari mengejar
Azizah yang sudah berlari terlebih dahulu. Terkesima ku seakan terpaku kulihat
siluet seorang gadis tengah berdiri bermain Air. Rok hitamnya mulai basah
terkena ombak baju panjang serta jilbab merah jambunya terkibas terhempas oleh
derunya Angin. Ku tak berani berlari kuhampiri ia perlahan dengan langkahku.
Jujur saja selama ini aku mengaguminya lebih dari yang ia ketahui. Auranya luar
biasa semenjak pertama kali ku bertemu dengannya.
Dia Adalah BUNGAku, dimana tumbuh dan mekarnya
tergantung bagaimana aku menjaganya. Janjiku kepada diriku sendiri kan kujaga
ia. Rangkaian kata tertulis dibenakku untuknya yang mungkin jika aku ucapkan
sulit dimengerti. Kimi no koto ga suki dakara. Jika kamu merasa bahagia, semoga
saat ini kan berlanjut, selalu selalu selalu ku akan terus berharap. Walaupun
ditiup Angin kuakan lindungi bunga itu. Cinta itu suara yang tak mengharapkan
jawaban tapi kan dikirimkan satu Arah. Dibawah mentari tertawalah. Menyanyi
menari sebebasnya. Karena kusuka suka dirimu, kuakan selalu berada disini walau
didalam keramain, taka pa jika tak kamu sadari. Karena hanya dengan bertemu
dirimu saja perasaanku menjadi hangat. Lalu, disaat dirimu merasa resah berdiam
diri aku mendengarkan. Air mata yang terlinang, kan kuseka dengan jari di
anganku. Cinta bagai riak air, meluas dengan perlahan yang pusatnya adalah
dirimu. Semua masih tersimpan dalam benakku. Kini dia ada di sampingku bersama
bermain air dan pasir, sesekali kutulis persahabtan kita berlima sbagai
keberadaan kuat persahabatan ini, bahkan hanya ombak sekalipun tak mampu
menghancurkan kita. Namun sesekali juga kutulis namanya sebagai sebuah goresan
cerita ku di masa ini dan masa yang akan datang. Ku gumpalkan pasir ditanganku
dan melemparkannya, membuang segala kenangan buruknya, kini aku bersamanya.
Mekarlah sahabatku. . .
Azizah nur Aini Muslichah
Dan ini untuk
para sahabatku, Walaupun sedih jangan menyerah. Kelangit! Impian! Lihatlah!!!
Kapanpun disaat memikirkan kalian, ku bisa bertemu kebetulan itu, mungkin hanya
sekali dalam hidup kupercaya keajaiban. Akupun bersyukur kepada tuhan walau
kutoleh kebelakang yang ada hanyalah ujung kegagalann.
Senja mulai
datang diufuk barat sana, kurasa ku harus menyudahi pelampiasan kepenatanku kali
ini. sebuah kisah manis bersama laut dan cakrawala luas ini. kulihat Azizah
masih sangat menikmati arus ombak yang menepi seakan menghampirinya. Namun
waktu sudah semakin sore. Zi sudahan yuk, ajakku kepadanya. Belum terasa
bergulirnya waktu begitu cepat juga kurasakan. Bentar lagi yah, tawarnya
kepadaku. Aku baru tersenyum di sudah menjawab makasih luviii. Sebenaarnya ku
tahu apa yang dia rasakan sama sepertiku. Belum puas jika belum basah seluruh
tubuhnya. namun, karena semuanya tidak basah maka tidak bisa, satu basah harus
basah semuanya bagiku. Sesekali ia
menantangku untuk berhadapan dengan ombak lebih dekat, juga meneebak datangnya
ombak, kadang juga lariku dari ombak takut basah membuatnya tertawa. Namun aku
bahagia melihatnya tertawa. Waktu terus berjalan, sore semakin dekat. Zi.
Sebagai akhir ayuk kita jalan berdua keujung pling timur lalu balik ‘ajakku
lagi kepadanya. Yahhh padahal belum puas. Aku belum basah semua, tapi ayuh deh.
Tapi kamu di pinggir ya. Nggaboleh kabur dari ombak ‘tantangnya kepadaku.
Langsung ku tarik tangannya lalu berjalan bersama bergandeng tangan ke ujung
timur pantai Sadranan lalu kembali. Langkah demi lngkah kita berdua berjalan
walaupun sesekali ombak menerpaku hingga setengah badanku basah kuyub
dibuatnya. Pegangan erat tangannya
kepadaku semakin kuat langkah ini semakin mantap dan maaf saja kita tidak akan
jatuh untuk saat ini.
Semilir angin
sore di pantai mulai terasa. Mungkin ini akhir kisah kami disini. Ku bersama
sahabatku lagi. Berbaur menjadi satu. Satu arah pandangan kami, jauh disana
cakrawala luas dengan mata ini yang tidak akan lelah melihat dan menatap mimpi.
Dengan kaki ini yang tak akan berhenti bangun dan berlari menggapai mimpi.
Fikiran yang akan bekerja lebih lebih dan lebih jauh dari batas kita untuk
mewujudkan mimpi sebagai civitas akademika, serta hati dan perasaan ini yang
membuat kita merasakan semuanya, susah senang dan bahagia, namun semua ini
adalah kebahagiaan murni dari kami. Barisan jejak kaki ini akan menjadi ukiran
kenangan kami dalam pasir putih tanda kesucian abadi. PANCA
ANUCARA ARSAWATI suatu saat kami akan kembali kesini dengan mimpi kita yang
tiada batas seperti cakrawala jagad raya ini yag akan selalu mengembang.
Syair dan melodi
mengiringi langkah kepergian kits (Suatu hari dikala kita duduk di tepi pantai,
dan memandang ombak dilautan yang kian kemari. Burung camar terbang bermain di
derunya air, suara ala mini hangatkan jiwa kita. Sementara sinar surya perlahan
mulai tenggelam, suara gitar ini mengalunkan melodi tentang cinta. Ada hati
membara erat bersatu terbasuh jiwa tercurah saaat itu. Kemesraan ini janganlah
cepat berlalu kemesraan ini inginku kenang selalu, hatiku damai, jiwaku tentram
di sampingkalian, hatiku damai jiwaku tentram bersama kalian SAHABATKU.)
Mungkin hanya ini
lagu yang menghantarkan kepulangan kami. Seeyou next time Gunung kidul dengan
pantai sejuta kenangan. Salam hangat dari kami. Kami pamit tuk pulang Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dengan menutupnya pintu dan kami mulai dari
sini perjalanan pulang kami.
Suasana dalam
mobil sunyi. Wajah letih sahabat-sahabatku terlihat dari ekspresi wajah mereka.
Dedaunan berguguran dari pepohonan besar dikanan dan kiri jalan tertiup oleh
Angin sore yang mulai bertiup kearah Laut. Kita telah berfikir dan memutuskan
akan menghantarkan Azizah ke rumahnya langsung, Azizah teringat sesuatu.
Bertanya pada kita bertiga apakah ada pulsa untuk menghubungi rumah. Karena
HPnya sudah mati. Kusodorkan Handphone kecilku, jari lentiknya mulai menekan
beberapa nomor dan kudengar dia mulai berbincang dengan ibunya, tak lama
kemudian ia mengucapkan salam dan menutup telfonnya dengan langsung
mengembalikanna kepadaku. Akupun menerimanya dan bertanya kepadanya.
“Bagaimana?” dia hanya tersenyum manis tanpa berbicara apapun namun senyumnya
kubaca bahwa tak apa tak ada masalah. Akupun member tahukannya kepada Agung dan
Fatkh, merekapun hanya sama dengan respon singkat karena letihnya. Yah tak apa
ini adalah perjaanan kembali yang tak
kalah beratnya. Dengan kondisi fisik yang sudah letih kita akan menempuh jarak
lebih dari 100 km menuju Universitas negeri semarang lagi. Aku pun mulai
tersenyum lega bahwa kita mampu melakukan apa yang kita impikan. Tiap meter
laju kami ini adalah semangat kami.
Angin bertiup
begitu kencangnya, membawa sejuta kisah dan menggoreskannya kepada daun-daun
yang berguguran, ironis kudapati kini buukan lagi daun-daun yang berguguran,
jauh disebelah sana kulihat banyak pohon-pohon tumbang dari bukit-bukit yang
makin tandus. Entah alam memang sudah tak lagi bersahabat atau ulah manusia
dengan tujuan ekonomi aku tak tahu, kulihat ada beberapa warga dan polisi
disana, semoga akan ada perubahan dan alam ini tetap terjaga hingga suatu saat
nanti aku kembali. Siputih masih terus melaju berkelok-kelok dengan indah, ku yakin
jika kita telah jauh dari pantai namun di kala ku temui pertigaan selalu ada
petunjuk jalan kepantai, aku tak tau berapa banyak garis pantai disini, namun
sungguh ala mini sangat menakjubkan. Tebing-tebing karst yang indah menghiasi
bersama pepohonan jati yang tertancap kuat sesekali kutengok kebelakang dikala
kutemui tanjakan, birunya laut dengan deru ombak masih kudapati disela-sela
tebing yang Nampak mulai menutupinya. Ku masih teringat dikala tadi ku
berlarian di pasir pantai. Di bawah matahari aku berlari, hari-hari masa muda.
Jalan milik kita terbentang lurus dan terus memanjang. Angin yang sesaat
bersama dengan debu, melihatkan memory jauh disana. Tak ingin kalah dari
siapapun, tak peduli dengan siapakah ku bersaing. Sampai tujuan yang aku ingin,
terus jalan walau tak akan sampai. Di tengah mimpi air mata mengalir ku hapus
dengan tangan ini. jauh disana telah banyak orang yang berlari di depan,
menghantarkan bayangan yang panjang. Daun-daun berguguran dan meninggalkan
ranting. Suatu saat akan bersemi lagi.
Terdiam kumemandang matahari senja yang terbenam, kesepian yang
kurasakan. Pikiran yang bimbang dipersimpangan jalan yang berhenti, pada saat
itu ku terpejam dan melewati persimpangan itu. Pada tujuan yang aku tuju,
langit biru menunggu diriku. Terkaget ku tiba-tiba dengan tikungan tajam jalan
yang baru saja dilewati. Aku tersenyum kembali tersadar aku masih dalam
perjallanan dengan sahabat-sahabatku. Didalam dada terasa angin bertiup.
Kulihat jam pada
smartphoneku, sudah lumayan lama kita berada didalam perjalanan. Kini jalanan
mulai tampak lebih besar disbanding jalan saat kita berangkat. Kami mengambil
jalur Yogyakarta kota karena sore telah menjelang. Angin makin terasa
hembusannya. Kulihat awan mendung mulai datang kembali, bak lautan hitam
menyelimuti bumi. Jalan utama yang
kelihatannya baru saja diperlebar dengan warna aspal yang masih sangat baru.
Dengan lebih banyaknya papan petujuk jalan yang sedikit memudahkan perjalanan
ini. terlihat tebing-tebing karst yang baru di keruk. Untuk jalan menambahi
keidahannya. Putih bagai tembok yang berada di kiri kanan jalan, mirip jalanan
menuju Pantai Pandawa di Bali dalam benakku. Agung memacu si putih lebih cepat
lagi dengan kondisi jalanan yang jauh lebih besar dan suasana sepi jalanan,
hanya beberapa kali ku dapati bersimpangan dengan mobi dari arah yang
berlawanan. Laju semakin kencang lurus
dengan tanjakan landai dengan sesekali tikungan dan kelok jalan menambahi
serunya perjalanan dan kebersamaan ini.
Detik demi detik,
menit demi menit hingga sejam telah berlalu, langit kian gelap. Tebing-tebing
terjal kini telah berganti dengan jalan datardengan rumah rumah di sepanjang
jalan. Jalanan kian terlihat ramai. Jaringan dalam smartphonku kini kembali
muncul. Kubbuka gmaps dan tinggal 8kilo meterlagi kita sampai di pusat kota
Yogyakarta. Agung masih dalam senyumnya menikmati perjalanan yang pertama
baginya melewati bukit-bukit terjal, terlihat kebahagiaan dalam pancaran
wajahnya sedang Fatkh masih dengan smartphonnyamemandu perjalanan sedari tadi dengan
sesekali membuka sosmed dalam smartphonnya. Sementara Azizah sudah terlelap
dalam tidurnya dalam pangkuanku. Yah sedikit tenang fikirku semuanya baik-baik
saja. Hanya lelah dan senyum yang menjadi satu kebahagiaanku hari ini.
Selamat datang
Yogyakarta. Negeri mataram yang damai dengan ramah penduduknya dan negeri
istimewa dengan sejuta keindahannya. Negeri ngayogyokarto, negeri koyo
swargo,tansah edi peni lan merdiko. Tenang bagai ombak, gemuruh bagai merapi,
tradisi tetap hidup ditengah modernisasi, nyebarke seni lan budi pekerti. Sepi
ing pamrih, rame ing gawe, sejarah sudah membuktikan Yogyakarta Istimewa.
Nampak di depan tepat terdapat andong yang menjadi transportasi umum. Dengan
berjalannya yang anggun, sungguh mengagumkannya ditengah keramaian kota dan
dunia masih terdapat alat transportassi yang tradisional namun tak kalah dengan
yang sekarang. Semakin padat jalanan yang kami lewati. Jalanan padat tumpah
ruah dengan berbagai jajaan dipinggir jalan menambahi suasana riuh sesak yang
terlalu indah untuk ditonton. Perjalanan masih berlanjut kini kami telah
melewati andong yang tadi berada di depan. Jalanan makin ramai dan padat namun
perjalanan harus tetap berlanjut walaupun harus menembus lautan badai kehidupan
dam persimpangan jalan.
Langit kian pekat
dengan mendung. Jalanan terlintas kini dengan mobil-mobil angkut yang besar,
terlihat aspal basah bekas hujan siang tadi. Jalanan yang tadinya ramai kini
berubah menjadi sepi. Tik. . . tik. . . tik. . . suara gerimis mulai terdengar. Azizah tiba-tiba terbangun dan menutup
mulutnya lagi, benar saja ternyata di muntah lagi. Ku pijit-pijit tengkuk
lehernya, beberapa saat kemudian dia menaruh plastic tadi dan menghembuskan
nafas panas kukasih tisu kepadanya dan ia lansung mengusap bibirnya. Ku arahkan
kepalanya tuk kembali tidur di pangkuanku. Kulihat ia mulai tenang. Ku bisikkn
ditelinganya “zi, masih kuat kan?” dia hanya tersenyum dan
mengangguk.setidaknya itu membuatku lebih tenang, agung masih focus dengan jalanan serta fatur
yang menikmati alunan music yang terputar dengan melihat jalanan. Ku tatap
langit dari kaca jendela yang sedikit terdapat titik-tik air. Ku termangu
melihat langit, seperti apa hari ini yang telah dilewati, pasti terfikir saat
dijalan pulan, meski ada hal sedih ataupun hal yang memberatkan, takapa asal
yang bahagia lebih banyak. Karena tidak membuat keluarga dan teman, dan orang
disekitar jadi khawatir. Kalian paksakan tersenyum dan membuat kebohongn
sedikit, janganlah di penam semuanya di dalam hati. Kurasakan angin disaat
cuaca berganti, dan menyadari sahabat-sahabatku ada bersamaku. Ku dapat
mensyukuri keberadaan kecil itu dan kudapat rasakan kebahagiaan. Apakah ku
melihat langit mentari senja, waktupun berlalu dan sosok sahabatku terlihat
begitu indahnya. Yah, begitulah hari ini berakhir malam yang memulai baru semua
telah datang. Kulihat sedikit lebih baik. Supaa ku dapat hidup jadi diri
sendiri. Sahabatku maaf jika ku keluar ucapan kasar, tak sengaja menginjak kaki
seseorang, atau salah faham berbagai hal yang telah terjadi. Ku ingin kalian
selalu di sisiku. Kusadar hari ini ku
tak dapat melihat langit mentari senja, kuajak hatiku tuk menerima keadaan saat
ini dan terus lanjut. Bila hari ini kutak dapat melihat senja pastilah suatu
saat nanti hal itu akan tercapai.
Langit hitam
mulai berubah menjadi gelap, dihias oleh titik garis yang terbentuk dari
bintang-bintang, sampai hari esok tibalah nanti. Lihatlah mimpi seperti diriku
sendiri… hufhhh. . .tersadar dari lamunanku, kulihat langit di sana mulai
berganti malam. Jalanan basah terkena rintikan gerimis. Saat ini mobil putih
kecil melintas diatas jembatan laying Flyoper menuju Arah Klaten. Bangunan
tinggi-tinggi Nampak disini. Mobil ini terus melaju hanya sesekali berhenti
karena lampu lalu lintas.kurasa kali ini Agung salah stay posisi dalam hatiku,
dia berada pada jalur belok kekanan. Namun tujuat kita adalah luurus. Hehe
benar saja agung terlihat sedikit meringis dan terlihat polisi di depan sana.
Terpaksa kitapun belok kekanan, namun kulihat dig maps ada jalan di arah sana. Lurus
aja gung gapapa nanti belok kiri, kataku kepada Agung. Agung pun hanya
menganguk. Dan kami terus melaju kembali. Kulihat sekeliling banyak sekali
mobil dan kendaraan umum seperti taksi berada disini. Kulihat di depan sana
ternyata masuk di Bandara AdiSutjipto. Namun sebelum gerbang masuk kami hanya
belok dan menyisir jalan kecil Bandara menuju jalan utama lagi. Gerimis
menghiasi jalanan ini, tampak disebelah sana kulihat pesawat sedang berjalan
memutar, bagus sepertinya sebuah bongkahan besi besar namun dapat terbang. Hana
sebentar ku memandangi akhirnya beberapa saat kemudian kami berhasil menuju
jalan utama dan melanjutkan perjalanan.
Beberapa saat kemudian kembali
mendung menyelimuti langit Yogyakarta. Kali ini lebih pekat dari yang
tadi, Hujan lebat disertai gemuruh dan
badai menjatuhi bumi mataram.
Hujan lebat
menemani sisa perjalanan kita sampa di rumah Azizah. Tinggal beberapa kilometer
lagi. Tampak air menggenang di jalanan sampai jika saat kami melintasinya bagai
kapal membelah air. Bunyi hujan pun sesekali terasa keras di atap mobil yang
kita naiki, dengan juga jalanan yang semakin tak terlihat. Laju si putih kini
kembali agak pelan. Beberapa menit berlalu kita akhirnya sampai di depan candi
prambanan yang sekaligus menjadi perbatasan Yogyakarta dan Klaten. Nampak indah
walaupun terkena tutupan kabut hasil hujn lebat ini. hujan ini sedikit
membuatku kedinginan namun taka pa kita akan segera sampai, kini aku kembali
menjadi penunjuk jalan dengan bantuan gMaps dari smartphone mungil dalam genggamanku
karena Azizah tengah lelap dalam tidurnya. Hujan kian tak terbendung lagi,
gemuruhnya menggetarkan tubuh ini. ingin rasanya aku sampai di rumah Azizah
secepatnya untuk melepaskan kelelahan dan berteduh sejenak dari lebatnya hujan
ini. namun pada kenyataannya perjalanan ini masih akan memakan waktu untuk
menempuh jarak untuk mencapainya.
Menit demi menit
meter demi meter waktu dan jarak sudah kita lalui, kurasa kita sudah mendekati
kota Klaten dan juga rumah Azizah. Air hujan yang turun kian berkuran
intensitasnya, namun masih terasa air hujan yang berjatuhan ke bumi ini, kini
sampai kita di terminal Klaten dan sekarang aku sudah tak tau lagi arah, kini
hanya feeling dan instingku yang bermain seolah mengerti, namun kupernah sampai
ditempat ini di dalam mimpiku, selayaknya seorang Indigo lainnya, sedikit aku
merasa ada 2 jalan yang pernah kulalui dalam mimpi namun jalan yang satu terasa
pekat hawa panas jadi aku hanya mengikuti jalur yang satunya. Hingga melewati sebuah rel kereta api saat
ini ku merrasa tidak yakin, dan hasilnya beberapa kali kelewatan dan harus
putar balik. Dan malam semakin larut , gelap kian menggebu sementara kritik
hujan yang meninggalkan gerimis. Kini kurasakan kita semakin masuk kedalam
pedesaan yang entah dimana, kelihatannya aku sudah terlalu masuk kedaerah yang
tak ku ketahuui, diluar sana masih gerimis dan suasana sepi lengang menakutkan.
Agung puter balik aja gung ‘pintaku ke Agung. Agungpun blang iya lalu berputar
balik, sementara azizah mulai terlihat udah gak tahan di dalam mobil, akhirnya
dia bangun dan takut lalu menangis minta ddianterin pulang, sementara Fatkhur
iseng mengejek Azizah bilang bahwa mau di balikin kesemarang Azizah pun
semakinkeras tangisannya, namun
berangsur-angsur kepalanya mulai dingin dan mengetaui jalan ini. lalu dia
memberikan arahan jalan menuju rumahnya, belok kiri terus kanan lalu kiri,
luruusss nanti ada Stikes belok kanan lalu kiri
terus lurusss ada RSUD lurus nanti ada masjid lalu masuk gang lalu luruss
saja, dengan suara yang seakan masih ngantuk dan lucu, setelah beberapa saat
kita mengikuti petunjuk jalannya akhirnya kita sampai di lokasi Rumhnya.
Hembusan nafas lega dari kita semua mengiringi sampainya kita ditempat Azizah.
Rintik gerimis
air hujan serta redupnya lampu penerangan jalan turut menyambut kita di rumah
azizah, Sobrah Gede Buntalan Klaten. Perjalanan yang cukup menegangkan tadi
telah berganti dengan nafas lega, mulai dari saat-saat keluar dari pantai,
hujan lebat dengan badai besar menghadang kami hingga angin malam dengan hamparan
sawah yang gelap turut mewarnai perjalanan menuju kesini. Azizah mulai gembira
tampak dari raut mukanya, ia bergegas membenahi jilbabnya lalu turun dengan
ceria. Sementara itu agung bingung menaruh mobilnya, karena untuk masuk gang
tak memungkinkan. Aku dan Fatkh turun lebih dahulu. Kudapati tiba-tiba Bapak
Azizah sudah disitu. Dan member perintah untuk memarkirkan si putih di tepian
jalan. Akhirnnya ku beri aba-aba kepada Agung. Huffh. . . selesei juga. Agung
keluar lalu membuka bagasi belakang untuk ,emgambil barang bawaan Azizah. Bhuuukk. . suara pintu bagasi belakang di
tutup. Kitapun langsung menuju rumah azizah dengan basah akan gerimis yang
membasuhi diri kami.
Hanya beberapa
langkah kita meninggalkan siputih kami sampai di rumah Azizah. Tampak bapak dan
Ibu Azizah telah menunggu kita di depan rumah. Segar ketika kita menapaki rumah
ini, rumah yang sederhana namun tampak anggun dengan beberapa tanaman tanaman
yang tumbuh kembang merekah di depannya, dengan kicauan burung yang terjaga di
dalam sangkar yang tegantung di tepiannya. Kita ucapkan salam kompak, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh yang
dijawab oleh kedua orang tua Azizah, kitapun langsung salaman kepada bpak dan
ibu azizah dan segera kami di persilahkan masuk dengan sedikit basa-basi garing
sembari kita duduk. Azizah keluar dari kamarnya lalu menghampiri kita, sejurus
dengan itu orang Ibu Azizah kebelakang dan Bapaknya keluar. Ditawari lah kita
Unjukan Kopi. Buk Aku dingin ya ,pinta Azizah dilanjutkan pertanyaan ibu azizah
kepada kita suka es apa hangat. Namun yang keluar dari mulut kita hanya Mboten usah repot-repot bu sebagai khas
orang jawa yang harus santun. Ya walaupun kutahu sebenarnya kita pengen hehe
‘gumamku dalam benakku. Es sedoyo mawon
mbotn nopo-nopo buk ‘lanjut Azizah. Sementara ibunya berlalu meninggalkan
kita kebelakang membuatkan minuman. Eh
masjid dimana ya? Tanya Fatkh kepada Azizah. Oh mu sholat yuh aku tunjukin
‘jawab azizah sembari itu iya berdiri lalu berjalan menunjukan jalan ke masjid
kita pun mengikutinya menuju masjid. Ternyata hanya kurang dari 50 meter kita
sampa di Masjid, terimakasih azizah ‘uap kita kepada azizah dibalas dengan
senyuman dan ia pun berbalik dan berjalan kembali menuju rumahnya.
Langkah demi
langkah kami sampai di masjid. Dengan suasana sedikit gerimis menambahi
segarnya udara kala itu. Segera kita mengambil wudlu dan masuk kedalam masjid.
Damai sekali di hati ketika memasuki masjid. Masjid desa ini cukup unik. Dengan
Arsitektur lama namun tampak tertata rapi dengan deretan sajadah yang menjadi
shof turut berbaris. Dengan cahaya terang dan angin dari sebuah kipas membuat
tambah segarnya udara. Aku segera menempatkan diri di ikuti Fatkh dan Agung. Allahu Akbar. Kumulai menunaikan ibadah
sholat, hingga beberaapa menit berlalu selesai 3 raka’at sholat maghrib dan 2
raka’at sholat Isya yang kita rangkap jama’
serta Qoshor yang telah kita tunaikan sebagai kewajiban umat muslim.
Sejenak pula kita sempatkan buat berdzikir dan berdoa. Beberapa saat kemudian
aku selesai. Terkaget ada beberapa jama’ah di sudut-sudut shof masjid. Sugera
ku keluar dan juga teman-temanku. Segera kita berjalan kembali menuju rumah
Azizah berbarengan. Hanya beberapa langkah kita pun sampai di depan rumah
Azizah kita ucapkan kembali salam yang di jawab oleh Azizah. Setelah itu kita
pun duduk lalu bincang-bincang satu sama lain. Allahu akbar AllahuAkbar, Ditengah canda terdengar suara adzan
berkumandang kita terdiam termangu mendengar adzan itu, Allahu akbar Allahu akbar la ila ha illah sesaat kemudian Adzan
selesai berkumandang. Sesaat setelah itu Aku Fatkh dan Agung tertawa
bersama-sama. Terlihat azizah kebingungan dengan kita, ia pun bertanya dengan ekspresi bertanya-tanya “kalian
kenapa?” kulirik kedua sahabatku pun masih tertawa terbahak-bahak sendiri,
kurasa yang kita fikirkan sama dalam hatiku. Lalu kujawab ke Azizah kalau ini
baru Adzan sedangkan kita tadi udah sholat isya, mendengar itu Azizahpun jadi ikutan tertawa
dibarengi seenyum tawa kita bersama.
Kulihat ibu
azizah membawakan empat gelas kopi kearah kami.
Lalu ditaruhnya dimeja di hadapan kami. Monggo di unjuk ‘ucap ibu Azizah seraya mempersilahkan dan
menyuguhkan minuman itu. Matursuwun bu,
ngapuntene ngrepotake ‘jawab aku Fatkh dan Agung bersamaan lalu ibu Azizah
kembali kebelakang. Woow dingin namun terlihat segar kopi yang berada di gelas
itu, puing-puing pecahan es batu terasa melambai-lambai kearah kita. Tangan kita yang malu-malu mulai perlahan
mengambilnya, blum sempat kita pegang gelasnya tiba-tiba ibu Azizah kembali dan
kini membawakan sepiring gorengan renyah yang masih hangat. Sekejap tangan kita
kembali dan malu-malu. Kembali azizah menerima piring tersebut lalu ditaruhkan
lah di meja di sebelah kopi-kopi yang telah berjejeran tadi. Tak lupa juga kita
mengucapkan terimakasih kepada ibu Azizah, disusul beliau kembali kebelakang.
Dilanjut candaan garing kita bersama tiba-tiba azizah keluar dan hany bilang tunggu sebentar, kitapun
terdiam. Beberapa saat kemudian ia masuk membawa 2 piring nasi goring. eh kok
repot-repot sih zi ‘ujarku kepada azizah. Halah gapapa kok ‘jawab azizah
bersamaan Dia meletakkan piring dimeja lalu keluar mengambil sisanya, ternyata
gerobak nasi goring yang kulihat diluar tadi sewaktu ku kembali dari masjid
ternyata buat memesankan. Lamunanku tersadar tiba-tiba bapak azizah duduk
disebelah Fatkh dan mulai ikut nimbrung bersama kita. Berbasa-basi tentang
perjalanan kita, dan Tanya mengenai kita bertiga. Lama kita ngobrol ngalor
ngidul diselangi canda tawa bareng dan juga member tahu nanti jalan untuk balik
ke semarang dan juga cerita mengenai hal lucu saat pertama menghantarkan Azizah
ke semerang lewat tol yang langsung membuat kita tertawa. Lama gelak tawa dan obrolan kita Azizah masuk
membawa dua piring nasi goreng sisanya, bapak azizah ijin meninggalkan kita
untuk makan dengan mempersilahkan bapak azizah berjalan kebelakaang, sejurus
dengan itu aazizah duduk dan menaruh dua piring nasi goreng satu di kasihkan
Agung dan satunya lagi khusus buat aku sesuai pesananku dan dia pun sepertinya
sudah tau satu piring nasi goreng tanpa
sayuran di taruh dihadapanku, terimakasih Azizah ‘ucapku kepadanya seraya
tersenyum, iapun hanya tersenyum dan menyuruh kita memakan suguhan yang ada di
hadapan kita. Yah awalnya dengan malu-malu kita tak segera mengambil jatah
kita, namun semua itu berakhir dikala Agung memulai makan dahuluan. Ah aku udah
lapar, aku makan duluan yah, makasih lho ya ‘ucap agung sambil tersenyum dengan
mengambil piring di hadapannya. Kita pun jadi lega dan berkata seperti Agung
lalu mengambil bagian kita masing-masing. Sebuah piring dengan nasi goreng yang
kurasa memiliki cita rasa berbeda dari yang biasa ku makan dirumah dengan timun
yang sudah terpotong rapid an juga du potongan tomat ikut menghiasi sajian nasi
goreng dalam piring, kuambil satu goengan yang bagiku juga berbeda, tahu bakso
dengan bentuk kotak ramping dengan masakan yang masih hangat segera ku lahap,
sendok pertama masuk kedalam mulutku, seperti yang kufikirkan rasanya memang
beda namun masih cocok dengan lidahku, begitu juga gorengan yang tadi kuambil.
Dengan baru di goreng hangat gorenga yang masih kres menambah kerenahan
gorengan itu. Sendok demi sendok lahapan nasi goreng masuk kedalam perut hingga
akhir sesaat itu kita selesai dengan nasi goreng yang mulai menghangatkan perut
serta tubuh kita, selanjutnya ttegukan juga tegukan segelas kopi dingin untuk
menegarkan mata ini. hingga tegukan terakhir kuletakkan kembali gelas yang ku
pegang ke meja tamu ini. seperti biasa aku selalu cepat jika makan, kulihat
Agung dan Fatkh masih berkutat dengan makanannya masing-masing beda dengan
Azizah yang terduduk termangu tanpa memakan sesendokpun nasi goreng
dihadapannya. Kurasa perutnya masih tidak enak buat makan. Selesai kupandangi
sahabat-sahabatku terasa aku ingin pipis, Zi boleh ke kamar mandi gak? Kebelet
nih ‘tanyaku kepada azizah. Hmm boleh sih Cuma kamarmandi yang di dalam rumah
lampunya mati jadi yuh tak anterin ke kamar mandi belakang rumah.
Akhirnya akupun
di hantarkan Azizah ke kamar mandi yang dibelakang rumah, kembali diam membisu
diantara aku maupun dia. Di temani gerimis ini rasanya dia mampu meluluhkanku,
sampai di belakang dia menunjukkan sebuah kamar mandi kecil dengaan satu lampu
yang menyala didalamnya lalu iapun kembali. Ah sial ‘gumamku dalam hati. Sunyi
sekali fikirku apalagi gerimis, namun tak kuhiraukan segera kumasuk. Kubuka
celana training yang ku pakai, byurrr
byur byur beberapa siraman air dari gayug dan segera kukenakan lagi celana
trainingku dan segera keluar. Secepatnya kakiku melangkah dan ku sampai di
ruang tamu kembali. Ku duduk dan menghembuskan nafasku “fiuuuhhhhh” dalam
hatiku aku terucap sial dan ingin tertawa. Tak sempat berfikir tentang kejadian
yang baru saja terjadi kulihat tean-temanku udah menyerbu gorengan yang ada di
piring,tak mau kalahh segera aku ikut nyerbu dan membuat kegaduhan dalam rumah
Azizah saat itu juga dengat tawa-tawa kecil semuanya membuat hangatnya suasana
di kala itu.
Tik. Tik. Tik. .
. suara detik jam di dining kian terdengar menandakan malam semakin larut.
Kulihat jam menunjuk pukul 8.30p.m berat rasanya untuk pulang namun kita harus
balik agar tak terlalu larut nantinya diperjalanan. Canda tawa dari kita
berempat kian asyik, baik es kopi maupun gorengan telah habis yang tersisa
hanyalah piring dan gelas yang berjejeran. Sesekali suara siulan burung di
depan rumah azizah terdengar, mungkin menjadi peringatan untuk kita segera
pulang. Akhirnya setelah lama obrolan
kita tentang perjalanan hari ini dan canda tawa kita akan berakhir detik ini.
kurasa memang kita harus segera pergi karena gerimis pun kian turun kembali.
Akhirnya kita sepakat untuk pulang semarang saat ini. eh ini udah larut nih,
yuk balik keburu kemaleman ntar ‘ajak agung. Iya nih udah mau hujan lagi juga
‘tambah Fatkh. Yaudah kalau begitu ayo kita pamitan kepada orang tuanya Azizah
lalu balik ke Semarang ‘ucapku menutup perbincangan malam itu namun masih
beberapa kali percakapan dari kita. Azizah terlihat sudah sangat kecapaian
walaupun terlihat juga wajahnya yang tampak belum puas dan ingin menahan kita
karena tak dipungkiri lagi ini adalah sebuah perpisahan sebelum liburan panjang
semester satu, kita tak akan bertemu selama 1 bulan lebih. Dan walau sudah
seharian bersama tetap saja masih belum cukup rasanya untuk mengganti kerinduan
selama liburan semester satu, walau terlihat di wajahnya dia tidak ingin kita
balik terlebih dahulu, namun dia tetap memanggil orang tuanya tuanya
kebelakang. Buk pak teman-temanku arep balik, mau pada pamitan ‘ujar azizah
yang suaranya terdengar sampai depan. Beberapa detik setelahny Azizah kembali
kedepan disusul oleh bapak dan ibuknya. Sing
nyetir sing ndi iki? ‘tanya Ibu Azizah. Mendengar itu kita semua menunjuk
kea rah Agung. Kemudian Ibuk dan bapknya Azizah berpesan pada Agung dan Kita, Mengko nak kesel aso sedelo ojo mekso (nanti
kalau lelah istirahat saja jangan memaksakan) dengan menghampiri Kita, Aku Agng
dan Fatkh langsung bersalaman kepada Bapak, Ibu dan Azizah lalu keluar. Pak buk, zi balik dulu nggih, pentene mpun
ngrepotke, matursuwun. Assalamualaiukum warahmatullahiwabarokatuh ‘ucapku
menghadap kepada Bapak ibu dan Azizah dibarengi salam dari Agung dan Fatkh
kitapun berbalik badan dan melangkah menuju si putih yang sudah menunggu kita
didepan. Mendengar itu Orang tua dan Azizah menjawab salam kita lalu
menghantarkan kita sampai depan. Gerimis ini mengiringi langkah kita menuju
depan seakan terjadi perpisahan, gerimis ini menjadi perwakilan rindu kita.
Kembali sebelum masuk mobil kita menundukkan kepala dan mengucapkan terimakasih
kepada Orangtua Azizh dan juga Azizah. Lalu kita pun masuk kemobil. Ku buka
pintu mobil ini terlihat tempat duduk belakang yang terlihat luas sekarang,
perjalanan terakhir dibelakang sendiri. Berat rasanya naik, jok
kursi belakang terasa dingin sekarang. Azizah dan bapaknya kembali
member petunjuk jalan yang efektif
kembali kepada Agung dan kita. Cukup lama hingga penjelasan sellesei kembali
kita ucapkan terimakasih kembali dan juga salam pamit pulang. Beberapa saat
selanjutnya Agung mulai menginjak gas dan kulihat dari kaca jendela yang belum
kututup kita telah mulai jalan, dan berlalu menjauhi azizah dan orang tuanya di
belakang sana. Wajah Azizah mulai lesu dan orang tuanya yang membawa payung
memancarkan senyumnya kepada kita.
Entah mengapa
rasanya gerimis yang turun saat ini benar-benar mewakili perasaan kita semua
yang mulai rindu. Walaupun baru saja kita berpisah dimulai dari Rahma yang tak
ikut dalam perjalanan Ini dilanjut Azizah yang sampai di rumahnya dan kini
tinggal kita bertiga menyusuri jalanan panjang menuju Semarang kembali. Bahkan
rumah tua diseberang persimpangan sana dengan pekatnya gelap tak mampu
membuatku gemetar. Uadara dengin ini semakin membuatku merasakan sesak didada.
Hanya sunyinya malam, dengan gerimis yang kian deras kita menyusuri jalanan
kecil pedesaan, padi disawah mulai tak terlihat krena hembusan badai dengan Air
menutupi pandangan kita. Bahkan rumah
sakit yang ada di sebalah kanan pun terlihat sepi sunyi menyeramkan. Lama ita
tempuh perjalanan ini yang kita lewati hanyalah sunyi dan dingin tanpa
kehangatan, Agung tengah focus dengan jalanan sementara Fatkh memandu dengan
gMaps dari smartphonnya.gerimis kini menjadi hujan badai, bahkan terminal yang
biasanya ramai akan orang-orangpun sepi sekali. Tak peduli dengan sekitar
karena perlahan lelah ini mulai terasa, mungkin juga kedua sahabatku di depan
juga sudah merasakan mulai lelah hingga hanya sepatah duapatah kata saja yang
terucap. Yang terfikir dikita hanyalah secepatnya kita sampai di semarang
melewati hujan badai takk tahu Arah hanya mengandalkan gmaps, namun kita harus
terus terus dan trus melaju menerjang badai dan sunyinya malam.
Dingin mala mini
serasa menusuk nusuk jiwaku, dingin sekali dan juga tak ada hangatnya candaan
karena perjalnan panjang ini. kuambil jaket dibelakangku lalu kupakai tuk
sedikit menghangatkanku. Ku baringkan tubuhku di belakang dengan sesekali
mencoba mengaja ngobrol dua sahabatkua agar aku tak ketiduran. Kurasakan laju mobil ini makin cepat
menerjang lebatnya hujan diluar sana,
sudah beberapa kali belokan yang telah kita lalui, hingga kulihat di
Maps ku arahnya terlewati, namun di Smartphone fatkhur yang memakai navigasi
terus melaju. Namun tak terlalu aku hiraukan kareena masih ada jalan lagi di
depan. Beberapa saat setelahnya tiba-tiba aagung dan Fatkh terlihat sedikit
panic, terbangun aku dari tidurku, seakan tak percaya posisi mobil saat ini
melewati kiri kanan saah jalanan sempit tanpa cahaya. Aku merasa mengulangi hal
yang pernah terjadi hapir celaka oleh sunyinya malam melewati jalan yang tak
kita ketahui. Fatkh semakin Panik begitu juga dengan agung. Hanya gelap yang bisa kita lihat, celakanya
kita gak mungkin bisa putar balik dengan kondisi jalan yang seperti ini.
sejenak aku flashback dengan semua kejadian yang pernah terjadi saat aku masih
di depok setahun yang lalu. Persis seperti ini kondisinya ditengah sawah
sehabis hujan hanya jalanan kecil yang terlihat dan juga genangan air di
jalanan. Kala itu yang bisa kulakukan adalah putar balik, namun kondisinya saat
ini berbeda diamana ini adalah mobil, jadi tidak mungkinkita bisa putar balik.
Sudah kurang lebih 500 meter melewti jalanan sempit nan sunyi ini. kulihat
Fatkh kian bingung tpi mau bagaimana lagi aku juga tak tahu harus bagaimana
lagi. namun ku ingat bahwa jalanan yang terlewati tak kan pernah salah,
kalaupun salah maka bisa berputar lagi, pasti akan ada ujung dari jalan, aku
berani bertaruh karena udah terlanjur masuk terlalu jauh jadi tak ada alasan
untuk balik. Angin dingin yang dihasilkan Ac dari depan membawa keyakinanku,
sebuah goresan angin yang akan menuliskan sebuah kisah. Ku yakin ini adalah
salah satu cerita dari perjalanan ini.
fikirku kembali dingin. Kuambil smartphone kecilku dank u buka gMaps
kupelajari dengan cepat medan yang kulewati, sampai beberapa saat akhirnya
ketemu. Sebentar lagi kita sampai di persimpangan jalan alternative menuju
boyolali ‘ucapku kepada Agung dan Fatkh. Yah walaupun keliatan masih tegang
terjadi sesuatu namun sedikit mulai hilang ketakutan dari mereka. Kulihat kembali smartphoneku. Ah tinggal
beberapa meter saja kita sampai dijalan yang lebih besar ucapku pada
sahabat-sahabatku. Tapi kok belum ada tanda-tanda jalan raya ya ‘jawab agung
sedikit tak percaya. Aku tak menjawab agung dan terus memandangi jalanan di
depan. Terlihat rintik hujan mulai memudar di kaca depan mobil. Beberapa
pohon-pohon terlewati dengan cepatnya, tanjakan sedang kita lewati dengan
sedikit kecepatan sedang sampai juga akhirnya di persimpangan jalan raya.
Segera saja agung memutarkan setirnya mengikuti rute jalan awal. Hufftt selesai
juga kedegangan ini sebentar lagi juga sudh sampai boyolali kemudian solotigo
lalu ungaran dan gunung pati. Ya benar sekali perjalanan ini sangat luar
biasa. Kulihat juga Agung dan Fatkh
sudah kembali dalam kondisi relaks dan siap melanjutkan perjalanan. Sinar
orange terang menerangi jalanan, satau persatu kita melewati sinar tiang-tiang
lampu itu, sementara sinarnya terus terlewati dari depan berjalan kebelakan
lalu lenyap begitu seterusnya. Jalann terlihat sangat basah namun hujan mulai
berhenti dan jalanan sepi ini seolah mengajak kita untuk segera tiba di rumah.
Dari sini Agung
sudah hafal jalanan ini, ku sedikit lega Akhirnya kita hampir sampai di rumah,
kembali ku rebahkan tubuh ini di belakang. Kutatp langit dari kaca pintu
terlihat sedikit perlahan mula cerah, sedetik kutertegun dalam
kesendirian,gelap kelam membentang didepan mata. Bintang-bintang sampaikan pada
sahabatku bahwaaku akan tetap bersinar dengankalian semua.
“ ada yang tak hendak kubuang serangkaian
kenang-kenangan, yang tergambar di gelap malam dan tersimpan dipucuk daunan.
Langit diatas simpang jalan, menemani perasaan ini, bagai gejolak pohonan
runtuh, bersama angin, bersama sepi bersama luka dan kecintaanku pada kalian
sahabatku.
Hembusan angin Ac
seketika membuyarkan lamunanku, tak terasa ternyata ku sempat tertidur dalam
perjalanan. Sudah beberapa kilometer terlewati, dari boyolali ke Salatiga
Hingga ungaran telah terlewati. Tinggal beberapa saat saja sampai sudah kembali
di kampus yang terkenal dengan kampus konservasi. Udara kian mendingin.
Pohon-pohon bamboo bergerak terkena tiupan angin kencang. Jalanan kembali
terjal mendekati Tempat kita, terlihat agung masih sangat focus, sementara
Fatkh sudah sangat kelelahan, terlihat SPBU dimana tempat tadi bpagi kita
berangkat, berasa baru saja kita berangkat namun kini harus berpisah lagi. hanya beberapa detik saja terlewati sudah
SPBU tempat kita berangkat tadi pagi. Yang tersisa hanyalah aspal hitam yang
basah oleh hujan tadi. Cepat kurasakan mobil ini melaju. Tanjakan turunan
belokan terlewati. Kembali bangunan-bangunan yang tampak sepi di musim liburan
seperti ini. jalanan juga tampak sepi sekali. Inilah gunungpati tanpa UNNES.
Sepi sunyi senyap. Laju mobil mulai perlahan menurun tak ku sangka sudah
saatnya aku dan Fatkh turun dan berpisah denganAgung, kuputuskan mallam ini aku
nginep di kostnya Fatkhur sehingga ,asih ada teman saat mau tidur nanti. Sepi
sunyi daerah sini dalam batinku. Café soda ocean yang biasanya ramai kini
kulihat hanya beberapa motor saja yang berada dihalaman parkir. Langit sudah mulai cerah lagi, segera ku
bereskan tasku lalu turun dari mobil.
Kutatap sekali
lagi dibalik kaca mungil ini sejenak perjalan. Sangat terjadi hingga terasa
hanya baru sebentar saja aku telah melewati hari ini. Angin yang membawaku hingga
kesini. Sunyi tenang kini yang kurasakan ketika sampai disini kembali. Gg
setanjung dengan deretan tokoMantu lanang ini sungguh sepi tak tampak seperti
biasanya. Huff hembusan nafas panjang ku. Bagaimanapun ini sudah terjadi.
Perpisahan panjang dengan sahabat-sahabatku aakan terasa sangat lama. Setengah
bulan lamanya tak akan bertemu pasti dibayang akan rindu. Cukup lama ku hanyut
dalam diamku sampai yak kurasakan jika sudah sampai tepat di mantulanang.
Seakan kaget akupun terbangun dari lamunanku. Fatkh dengan tenangmembuka pintu
dan turun, dia tersenyum namun wajahnya Nampak kelelahan, Agung juga terlihat
demikian halnya. Sungguh indah perjalanan ini. sebuah kisah klasik untuk masa
depan. Aku lega erjalanan hari ini selesai dengan senyuman dari semuanya. Lelah
ini mengajarkan arti kebahagiaan bersama mereka.
Agung kembali
melaju bersama mobil putih kecil nan imut berlalu. Hanya lambaian tangan dan
ucapan terimakasih serta ucapan hati-hati yang terucap. Rasa sedih mulai
mendatangiku. Inilah akhir dari perjalanan menyenangkan dan awal dari
perpisahan yang panjang. Segera
kulangkahkan kaki ini bersama Fatkh menuju kosnya. Tiap langkahku terasa
berat. Walaupun bintang-bintang diatas
sana mengucapkan selamat datang kepadakuu. Langkah demi langkah berat ini terus
dengan paksa kujalani hingg langkah terakhirku tepat di kost Fatkh. Kutaruh
tasku di sebelah pintu, ku langsung menuju kamar mandi kecil dipojokan tempat
ini. ku basuh muka dan ambil wudhu.
Sesaat ku selesai. Tanpa menghiraukan sekitar segera ku balik menuju
kamar Fatkh. Kubuka satu per satu sepatu yang kupakai hingga kaos kaki
terakhir. Langung kurebahkan tubuh ini diatas kasur dengan sprai orange yang
ada didalam kamar petak yang terasa agak sempit kali ini. beberapa saat setelah
itu Fatkh mematikan lampu lalu berbaring disebellahku, kulihat ia membuka
kacamatanya dan mulai terlelap dalam lelahnya namun tampak tersenyum. Setelah
lama ku termenung dalam gelap mata ku terpejam. Selamat malam sahabatku,
selamat melam dunia. Aku tak akn melupakan kisah ini. kisah hangat bersama
kalian semuanya. Terima kasih banyak sahabatku. Lelah ini terasa nikmat dengan
kebahiaan yang sebenarna. Hingga langkah ini terasa ringan menjalani hari.
Bintang mala mini terlihat tersenyum melihat kita. Terselimuti oleh dingin malam
namun takkan menghapus segalanya. Aku akan menantikan kisah lainnya bersama
kalian Sahabatku.
-Tamat-
Aku sangat mengerti tentang kalian.
Kita boleh menangis karena kita saling menjaga, perasaan sejati dari cinta yang
tertumpah selama ini. kita mencarinya dan kehilangannya saat menunggu fajar,
akan kunamai bintang yang berada di sisi kananku dengan namaku, panggilah nama
ku itu disaat kalian membutuhkanku. Karena bintang disebelah kiriku akan
sempurna jika memakai nama kalian, dengan begitu kita akan selalu berdampingan.
download versi pdf nya kawan
- https://drive.google.com/open?id=0B94v4Wc2WlmHczVEQkdCbFdoQkE
