Sunday, 13 November 2016

Misteri Batu Megalith “Gunung Padang” di Jawa Barat, “Stone Henge” Versi Indonesia

Misteri Batu Megalith “Gunung Padang” di Jawa Barat, “Stone Henge” Versi Indonesia

Hasil gambar untuk gunung padang 

“Situs Gunung Padang, situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiusitas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit.”

*
Type of research  : Geology & Archeology
Search research    : The Indonesian Megaliths
Location                    : Cianjur regent, West Java Province.
Sub Location          : Karyamukti village, Campaka sub-district.
Village                         : between Gunungpadang backwoods & Panggulan.
Coordinate              : 6°59’36.9035”S – 107°3’22.6264”E
To use English or other languages, chose and click on the Right Sidebar
===========================================

Mount Padang West Java, Terrace Pyramid from Ancient Megalith Era!

Kalau Inggris punya Stone Henge, Perancis punya batu batu Carnac, Laos punya batu batu Guci dan Mikronesia punya Nan Madol, maka Indonesia juga punya situs megalitikum Gunung Padang, yang berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur.
Wilayah ini bukan berada di Sumatera Barat namun ada di Jawa Barat. Dinamakan Gunung Padang, berdasarkan kata “padang” berasal dari beberapa suku kata, yaitu :
– Pa = Tempat
– Da = Besar/gede/agung/raya
– Hyang =Eyang/moyang/biyang/leluhur agung
Jadi arti kata “Padang” itu adalah Tempat Agung para Leluhur atau boleh jadi maknanya Tempat para Leluhur Agung.
Situs Megalitikum Gunung Padang diperkirakan dibangun pada 2000 SM atau sekitar 2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun.
Anak tangga asli dari batu-batu prasejarah menuju puncak gunung padang, sekarang sudah dibuat lagi alternatif untuk naik ke puncak dengan akses yang lebih landai. (courtesy: Cornel Aji)
Situs Gunung Padang terletak di puncak sebuah bukit, untuk mencapainya dari dasar, pengunjung harus meniti tangga curam setinggi -+ 95 meter terbuat dari tiang-tiang batuan andesit sebanyak hampir 400 anak tangga.
Luas kompleks “bangunan” kurang lebih 900 m². Penduduk setempat mengaitkannya dengan Prabu Siliwangi, meskipun sebenarnya situs tersebut jauh lebih tua dari  buyutnya Siliwangi itu sendiri.
Situs Gunung Padang merupakan Punden Berundak yang tidak simetris, berbeda dengan punden berundak simetris seperti Borobudur, juga berbeda dengan punden berundak simetris lainnya yang ditemukan di Jawa Barat seperti situs Lebak Sibedug di Banten Selatan.
Sebuah punden berundak tidak simetris menunjukkan bahwa pembangunan punden ini mementingkan satu arah saja ke mana bangunan ini menghadap.
Lokasi situs Gunung Padang berada di titik 06°59,522′ LS dan 107°03,363 BT. Situs Gunung Padang terdiri atas lima teras (tingkatan). Dasar situs terdapat di ketinggian 894 m dpl, data setiap teras adalah sebagai berikut:
1. Teras pertama (1st terrace) berada pada ketinggian 983 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,
2. Teras kedua (2nd terrace) berada pada ketinggian 985 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 337° UT,
3. Teras ketiga (3rd terrace) berada pada ketinggian 986 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 335° UT,
4. Teras keempat (4th terrace) berada pada ketinggian 987,5 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 330° UT,
5. Teras kelima (5th terrace) berada pada ketinggian 989 m dpl, arah teras menghadap ke azimut 345° UT.
Penampang atas Gunung Padang
Untuk lebih jelasnya mengenai teras-teras tersebut, anda bisa membaca dibagian bawah artikel tentang kelima teras-teras di Gunung Padang Cianjur tersebut.
Berdasarkan data di atas, tinggi punden berundak situs Gunung Padang adalah 95 meter dengan arah utama teras menuju utara baratlaut dengan rata-rata azimut 336,40 ° UT.
Seluruh teras situs Gunung Padang ini mengarah kepada Gunung Gede (2950 m dpl) yang terletak sejauh sekitar 25 km dari situs ini.
Bahan bangunan pembuat situs adalah batu-batu besar andesit, andesit basaltik, dan basal berbentuk tiang-tiang dengan panjang dominan sekitar satu meter berdiameter dominan 20 cm.
Tiang-tiang batuan ini mempunyai sisi-sisi membentuk segibanyak dengan bentuk dominan membentuk tiang batu empat sisi (tetragon) atau lima sisi (pentagon).
Setiap teras mempunyai pola-pola bangunan batu yang berbeda-beda yang ditujukan untuk berbagai fungsi.
penemu gunung padang NJ Krom Dutch Arkeolog founder
NJ Krom arkeolog Belanda yang menemukan Gunung Situs Megalith Padang pada tahun 1914
Teras pertama merupakan teras terluas dengan jumlah batuan paling banyak, teras kedua berkurang jumlah batunya.
Sedangkan Teras ke-3 sampai ke-5 merupakan teras-teras yang jumlah batuannya tidak banyak.
Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan keberadaannya oleh peneliti kepurbakalaan zaman Belanda: N.J. Krom.
Laporan pertama tentang Gunung Padang muncul dalam laporan tahunan Dinas Purbakala Hindia Belanda tahun 1914 (Rapporten van den Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie).
N.J. Krom tidak melakukan penelitian mendalam atasnya, hanya menyebutkan bahwa situs ini diperkirakannya sebagai sebuah kuburan purbakala.
gunung padang Tropen Museum 1940
Reruntuhan di dekat perkebunan karet dan teh dekat Gunung Manik Lampegan. (Foto koleksi Tropen Museum Belanda tahun 1940) – Ruïne in het bos bij de rubber- en theeplantage Goenoeng Manik omgeving Lampegan – Ruin in the woods near the rubber and tea plantation near Gunung Manik Lampegan.
Situs ini kemudian dilaporkan kembali keberadaannya pada tahun 1979 oleh penduduk setempat kepada pemilik kebudayaan dari pemerintah daerah. Pada waktu itu, situs megalith ini dikenal oleh penduduk dengan nama “Goenoeng Manik Lampengan“.
Sejak itu, situs ini telah diteliti cukup mendalam secara arkeologi meskipun masih menyisakan berbagai kontroversi. Para ahli arkeologi sepakat bahwa situs ini bukan merupakan sebuah kuburan seperti dinyatakan oleh Krom (1914), tetapi merupakan sebuah tempat pemujaan.
Pengamatan di lapangan; pengukuran posisi, ketinggian dan azimut setiap teras, pengolahan data posisi situs menggunakan program astronomi (arkeoastronomi), memperhatikan semua keterangan para interpreter serta diskusi-diskusi para ahli telah membawa kepada sebuah kesimpulan yang pada intinya adalah bahwa situs megalitikum Gunung Padang adalah sebuah situs megalitikum prasejarah yang dibangun untuk keperluan penyembahan dan dibangun pada posisi yang telah memperhatikan geomantik dan astromantik.
Megalith Padang Hills (Gunung Padang) West Java Indonesia
Tentang umurnya, ada yang berpendapat bahwa situs ini dibangun pada masa Prabu Siliwangi dari Kerajaan Sunda sekitar abad ke-15 karena ditemukan guratan senjata kujang dan ukiran tapak harimau (maung) pada dua bilah batu.
Tetapi para ahli arkeologi berpendapat bahwa situs ini umurnya adalah 1500 tahun sebelum Masehi (SM) bahkan mungkin lebih dari 5000 tahun sebelum masehi.
tapak maung_Gunung_Padang
Tanda pada batu yang dimitoskan oleh penduduk sebagai Tapak Harimau (Maung) di batu megalith Gunung PAdang.
Kesimpulan itu berdasarkan bentuk monumental megalit dan catatan perjalanan seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda, Bujangga Manik, yang semasa dengan Prabu Siliwangi, menulis bahwa situs ini sudah ada sebelum Kerajaan Sunda.
Dan, tidak mungkin Bujangga Manik tidak tahu kalau situs ini dibangun oleh Kerajaan Sunda sebab ia pun seorang bangsawan dari Kerajaan Sunda.
Tidak ditemukannya artefak berupa manik-manik atau peralatan perunggu menyulitkan penentuan umur situs ini. Kebanyakan artefak megalitik di Indonesia dan Asia Tenggara ditemukan pada saat Kebudayaan Dongson (500 SM) berlangsung (Sukmono, 1977, 1990).
Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geologi sebab ia dibangun dengan memanfaatkan sebuah bukit punggungan/ puncak oleh lava andesit basaltik dan lava basaltik berumur era Pliosen (2,1 juta tahun) yang pernah dipetakan secara geologi oleh Mang Okim pada 1973, direvisi 2003 dan lembar Sindangbarang.
Megalith Padang Hills (Gunung Padang) West Java Indonesia
Pada lembaran peta, situs itu terbuat dari tiang-tiang batuan andesit dan basal yang telah terlepas secara alami karena retakan oleh pendinginan lava (kekar tiang, columnar jointing). Batu-batu tiang ini kemudian ditambang oleh manusia pada zaman itu untuk membangun punden berundak-undak.
Situs megalitikum Gunung Padang telah dibangun dalam harmoni geomantik untuk tujuan religiositas berupa penyembahan Sang Hyang atau sang penguasa alam saat yang oleh manusia pada masa itu diyakini bermukim di puncak Gunung Gede.
Gunung dalam kosmologi agama purba Jawa adalah personifikasi pemberi dan pengambil (Magnis-Suseno, 2006). Ia pemberi kesuburan tanah yang menumbuhkan tanaman untuk dimakan, tetapi ia juga adalah sang pengambil yang letusannya bisa membinasakan siapa saja. Maka gunung harus disembah agar ia tak marah dan selalu memberi berkah.
Megalith Padang Hills (Gunung Padang) West Java Indonesia
Bahwa situs ini dipakai untuk tempat penyembahan dengan orientasi sang penguasa Gunung Gede dibuktikan oleh kelima teras situs ini dari yang paling rendah (teras 1) sampai yang paling tinggi (teras 5) selalu diarahkan ke Gunung Gede yang posisinya berada pada arah azimut rata-rata 336,40 ° UT.
Pembangunan situs ini juga, terutama di teras 1 telah cukup memperhatikan masalah kelabilan area ini yaitu dengan cara menyusun tiang-tiang batu secara mendatar dan saling menumpuk untuk penguatan.
Dalam hubungannya dengan penyembahan, situs ini pun dapat dibangun untuk maksud agar manusia dijauhkan dari bencana gempa atau gunung api yang memang sumber-sumbernya tidak jauh dari Gunung Padang.
Teras-1, terdapat batu-batu berwarna abu-abu berbentuk kolom yang masih tersusun rapi membentuk ruang persegi panjang. Batu-batuan di Gunung Padang adalah batuan jenis andesit basaltis yang merupakan hasil pembekuan magma pada lingkungan sisa-sisa gunung api purbakala pada jaman Pleistosen Awal, sekitar 2 – 1 juta tahun yang lalu. Karena pengaruh proses alam, batu-batuan ini membentuk dirinya menjadi kolom-kolom poligonal segi empat, lima, enam, delapan, yang permukaannya sangat halus sehingga banyak orang yang mengira batu-batuan ini merupakan hasil karya tangan manusia jaman dahulu. (courtesy: Cornel Aji)
Di teras 2 terdapat dua menhir dan satu dolmen kecil yang kelihatannya dipakai untuk duduk, dan itu tepat mengarah ke puncak Gunung Gede. Arah azimut rata-rata ini pun membentuk kelurusan dengan semua bukit/gunung yang ada di sekitar Gunung Padang yaitu : Pasir Pogor, Gunung Kancana, Gunung Gede, Gunung Pangrango.
Situs Gunung Padang pun secara geologi berada pada area yang secara kegempaan cukup aktif, yaitu tidak jauh dari Sesar Cimandiri. Sesar Cimandiri adalah sesar besar yang memanjang dari Teluk Pelabuhanratu sampai sekitar Padalarang.
Bila ada pengaktifan gaya geologi di sekitar Teluk Pelabuhanratu atau Jawa Barat Selatan, maka sesar ini sering menjadi media penerus gaya goncangan gempa. Beberapa menhir yang terguling dan patah di area situs ini diperkirakan diakibatkan gempa.
Teras-2, Megalith Padang Hills Gunung Padang West Java Indonesia
Tidak seperti banyak situs megalitikum lainnya (seperti Piramida, Stonehenge, Machu Picchu) yang dibangun untuk menyembah atau mengindahkan (dewa) Matahari, situs Gunung Padang dibangun untuk diorientasikan seluruhnya kepada Gunung Gede.
Ini nampak dari pola bangunan punden berundaknya yang asimetris, tidak dibangun simetris ke semua sisi seperti Candi Borrobudur, tetapi hanya ke satu sisi, yaitu Gunung Gede. Dengan demikian, Gunung Gede menempati posisi geomantik yang sangat kuat bagi situs Gunung Padang.
Gunung Padang Sound Stone. Saat dipukul, batu megalitik ini dapat mengeluarkan nada tertentu.
Yang unik dari situs megalitik Gunung Padang adalah ditemukannya bilah-bilah batuan yang diperuntukkan sebagai alat musik. Ini adalah penemuan pertama di Indonesia.
Dahlan dan Situngkir (2008) dari Bandung Fe Institute berbekal alat perekam dan analisis Fourier transform pernah meneliti musikologi situs ini dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga bilah batu yang bisa mengeluarjan nada musik dengan dentingan (pitch) berfrekuensi dari 2600-5200 kHz selaras dengan nada-nada f”’, g”’, d”’, a”’.
Jika batu basal kecil dipukul-pukulkan ke alat musik batu ini, maka akan terdengar dentingan yang tinggi dan teratur dari batu ini. Dapat dibayangkan bahwa manusia pada zaman dahulu ini melakukan penyembahan dengan iringan musik-musik batu. Menurut cerita, konon penduduk kampung di bawah situs ini masih suka mendengarkan riuh musik dari bukit ini pada malam-malam tertentu.
Terlihat posisi beberapa alat musik dari batu di Gunung Padang
Secara astronomis, situs Gunung Padang pun mempunyai harmoni dalam naungan bintang-bintang di langit. Analisis astronomi menggunakan program ‘planetarium’ menunjukkan bahwa posisi situs ini pada pada masa prasejarah (pemrograman dilacak sampai ke tahun 100 M) berada tepat di bawah bagian tengah lintasan padat bintang di langit berupa jalur Galaksi Bima Sakti.
Dan, lokasi situs Gunung Padang pun di sisi atas dan bawah kaki langitnya masing-masing ‘dikawal’ oleh dua rasi yang merupakan penguasa dunia bawah (Bumi) yaitu rasi Serpens (ular) dan dunia atas (Langit) yaitu rasi Aquila (elang). Secara kosmologis, para pembangun situs ini telah memperhatikan tata langit di atasnya.
Bila situs ini benar dibangun pada masa prasejarah, pembangunannya adalah ras Austronesia yang merupakan pendatang pertama di Indonesia. Mereka melintasi Nusantara dari tanah asalnya dengan cara berlayar, dan penguasaan ilmu perbintangan/falak adalah salah satu hal mutlak dalam pelayaran antarpulau. Mungkin juga bahwa situs ini digunakan untuk menjadi tempat pengamatan bintang pada masa lalu.


Situs Gunung Padang ini adalah situs prasejarah megalitik yang menurut beberapa sumber merupakan situs megalitik terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Asia – Pasifik!
Tak disangka situs yang terletak di Kabupaten Cianjur, ternyata sarat makna yang melibatkan faktor geologi, arkeologi, religiusitas, dan astronomi yang dibangun dalam harmoni bumi dan langit. Begitu hebatnya nenek moyang bangsa Indonesia dimasa lalu hingga situs berharga ini bagaikan dunia yang hilang lalu ditemukan dan kini mulai diselidiki.
Lebih Dekat Dengan Lima Teras di Gunung Padang Cianjur.
Puncak Situs Megalitikum Gunung Padang di kabupaten Cianjur, Jawa Barat memiliki 5 teras. Masing-masing teras memiliki susunan menhir rapi dari batuan andesit yang berbobot ratusan kilogram.
Bagaimana gambaran detil masing-masing teras di situs yang diduga piramida yang lebih tua daripada piramida di Mesir ini? Mari kita melihat tiap teras situs seluas 4.000 meter persegi yang berada di ketinggian 885 mdpl itu.
gunung_padang_teras teracce illustration
Berikut kelima teras yang ada di Gunung Padang tersebut:
Teras 5 (5th terrace)
Di teras tertinggi ini terdapat begitu banyak susunan batuan andesit. Ada satu susunan batu yang berbentuk kotak. Di dalam kotak terlihat batuan tersusun tidur menyerupai teras. Sementara tiap sisi dikelilingi menhir. Belum diketahui apa fungsi susunan batu tersebut untuk manusia periode megalitikum saat itu.
Menurut Zaenudin (30), salah seorang arkeolog dari Universitas Indonesia (UI), saat ditemui detikcom di lokasi, ruangan kotak tersebut biasa digunakan untuk pandaringan (tempat istirahat). Terdapat tapak bulat untuk sandaran kepala yang menghadap ke utara ke arah Gunung Gede.
Teras 4 (4th terrace)
Di teras ini terdapat ruang kotak yang dikelilingi menhir. Posisi ruang tersebut berada di bagian timur situs. Di bagian tengah ruang terdapat menhir. Para penjaga situs menyebutnya sebagai ‘batu gendong’.
“Barang siapa yang mampu mengangkat batu itu, permohonannya akan terkabul,” ucap Dadi (50), salah satu penjaga situs yang sudah bekerja selama hampir 11 tahun.
Teras 3 (3rd terrace)
Teras ini pun serupa dengan teras 4. Terdapat ruang kotak yang dikelilingi menhir di tiap sisinya. Letaknya pun sama, berada di bagian timur situs. Sementara batuan lain yang berada di teras ini tidak jelas bentuknya, sebagian berdiri tegak sebagian lagi melintang.
Teras 2 (2nd terrace)
Di tingkat situs megalitikum ini terlihat jumlah menhir yang ada lebih banyak dari puncak. Namun tidak terlihat bentuk ruang kotak seperti yang ditemukan di teras 3, 4, dan 5.
Ada yang menarik, salah satu batu terdapat guratan menyerupai kujang. Menurut arkeolog UI yang meneliti gunung Padang ini, Ali Akbar, guratan tersebut merupakan murni bagian dari proses alam dan bukan karya tangan manusia.
Di teras ini pun terdapat batu duduk yang menghadap ke utara. Kursi batu itu juga memiliki sandaran, namun sandaran kursi batu tersebut sekarang condong ke belakang. “Akibat pohon yang ditebang, jadinya condong ke belakang,” kata Zaenudin.
Teras 1 (1st terrace)
Inilah teras yang biasa disebut teras penyambutan setelah pengunjung bersusah payah menaiki anak tangga berjumlah 300-an.
Di bagian ini terdapat gundukan menhir, di sebelah timur terdapat batu gong dan batu gamelan. Disebut demikian karena batuan ini berbeda dengan batuan yang ada, keduanya mengeluarkan nada bila dipukul dengan batu ukuran sekepal. Yang pasti, nada yang dikeluarkan bukan do re mi fa so la si do.
gunung padang Ruang PertunjukanTidak jauh dari dua batu bernada, terdapat ruang kotak. Saat pengunjung berhasil menapaki teras pertama, serasa diarahkan masuk ke ruang berbentuk kotak yang tiap sisinya tersusun menhir.
Terdapat gerbang masuk dan keluar yang tidak jauh dari batu gong dan gamelan.
“Katanya ruangan itu untuk penyambutan mereka yang naik ke sini. Sambil sesaji ada alunan musiknya,” terang Zaenudin.
Sementara gundukan menhir, lanjut Zaenudin, biasa disebut gunung masjid. “Karena diperkirakan ibadahnya dulu di sini,” ujarnya.
Untuk menaiki tiap teras, terdapat tangga-tangga yang terbuat dari susunan batu. Dari teras pertama ke teras dua akan disambut oleh gundukan menhir.
“Dulu gunungan ini bisa dibilang paling tinggi dan paling sakral, sehingga orang yang naik ke teras dua harus berbelok dan tidak menginjak gunungan itu,” ujar Zaenudin.
Susunan menhir ini, memang langsung berhadapan ke Gunung Gede. Ini berbeda dengan teras lainnya yang terhalang ketika menghadap ke utara. (geologi.iagi.or.id/kaskus.us/detiknews/icc.wp.com)
gunung_padang_teras teracce pyramidstruktur Piramida Gunung Padang 3d lava neck

 sumber : indocropcircle article

Sejarah Meletusnya Gunung Galunggung Sejak 1822, 1894, 1918 dan 1982

Sejarah Meletusnya Gunung Galunggung Sejak 1822, 1894, 1918 dan 1982



Hasil gambar untuk gunung galunggungLocation: Java, Indonesia
Latitude and Longitude: 7.25 S, 108.05 E
Elevation: 2,168 m (7,154 ft)
Volcanoes Type: Stratovolcano
Earliest Eruption: 1822, VEI = 5
Oldest Historic Eruption: 1822, VEI = 5
Most Recent Eruption: 1984, VEI = 2
Number of Eruptions in 20th Century: 3
Largest Eruption: 1822, VEI = 5; 1982, VEI = 4; 35 deaths
Notable Feature(s): Volcanic lightning

Kini, gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter (7.111 feet) di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 km dari pusat kota Tasikmalaya.
Kubah stratovolcano Gunung Galunggung (picture courtesy: volcano.oregonstate.edu)
Terdapat beberapa daya tarik wisata yang ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih 120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani.
Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3 hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar mandi dan bak rendam air panas. Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 – 1.500 meter dan Hutan Ericaceous > 1.500 meter.
Letusan Gunung Galunggung
1. Letusan tahun 1822
Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1822. Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur.
Pasca meletusnya Gunung Galunggung 1982 (picture courtesy: Wikipedia)
Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah.
Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar.
Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.
Petir tampak menggelegar diatas kawah yang sedang meletus pada tahun 1982 (picture courtesy: volcano.oregonstate.edu)
2. Letusan tahun 1894
Letusan Gunung Galunggung berikutnya terjadi pada tahun 1894.
Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang menghasilkan awan panas.
Lalu pada tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822.
Letusan kali ini menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk bukan karena letusan langsung, namun karena tertimpa oleh hujan abu yang tebal.
Kubah lava di dalam danau kawah, kemudian dinamakan: Gunung Jadi (picture courtesy: volcano.oregonstate.edu)
3. Letusan tahun 1918
Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali dengan gempa bumi.
Letusan tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan.
Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85m dengan ukuran 560×440 m yang kemudian dinamakan Gunung Jadi.
4. Letusan tahun 1982
Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 disertai suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.
Terlihat timbunan lahar pasca meletusnya Gunung Galunggung 1982 (picture courtesy: Wikipedia)
Terlihat timbunan lahar pasca meletusnya Gunung Galunggung 1982 (picture courtesy: Discovery)
Selama periode letusan ini, sekitar 18 orang meninggal, sebagian besar karena sebab tidak langsung (kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan). Perkiraan kerugian sekitar Rp 1 milyar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.
Letusan pada periode ini juga telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan Kecamatan Leuwisari.
Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.
Tampak pijaran kilat diatas kawah Gunung Galunggung saat meletus di malam hari pada tahun 1982 (picture courtesy: Wikimedia)
Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus.
Dilakukan pengerukan lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai ‘benteng’ pengaman melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya.
Galunggung eruption 1982
Pada masa tersebut juga dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan material bangunan maupun konstruksi jalan raya.
Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta.
Letusannya juga membuat British Airways Penerbangan 009 tersendat, di tengah jalan (lihat video Air Crash Investigation dibawah halaman).
Mengganggu Penerbangan British Airways-9
British Airways (BA) Penerbangan 009 adalah sebuah penerbangan British Airways yang dimulai dari Heathrow, London menuju Auckland di Australia, dengan pemberhentian di Bombay, Madras, Kuala Lumpur, Perth, dan Melbourne.
Pada 24 Juni 1982, rute ini dipakai oleh City of Edinburgh, nama sebuah 747-236B nomor registrasi G-BDXH. Pesawat tersebut terbang menuju awan abu gunung berapi dari letusan Gunung Galunggung dimalam hari, membuat seluruh mesin mati, dan mesin mati tersebut tidak diketahui kru darat karena terganggunya sistim radio.
Ilustrasi pesawat jumbo jet Boeing 747 British Airlines penerbangan-9 saat melewati awan debu. Terlihat debu panas gunung Galunggung menghantam badan pesawat dan membuat badan serta sayap terlihat berpendar dan bercahaya lalu debu Galunggung mematikan keempat mesinnya. (picture courtesy: wikipedia)
Kejadian bermula setelah BA-9 transit di Kuala Lumpur selama perjalanannya dari London. Kemudian pesawat melanjutkan penerbangan ke selatan, arah Auckland di Australia sebagi tujuan terakhirnya.
Saat kejadian, pesawat sudah berada di selatan pulau Jawa bagian baratnya, disekitar wilayah udara Pelabuhanratu, dan disaat itulah mesin mulai terganggu.
Lalu mesin pesawat raksasa Boeing 747 tersebut mulai terganggu dan secara tiba-tiba mati. Tak lama kemudian, diikuti oleh mesin kedua yang juga tiba-tiba mati.
Hal itu diikuti oleh kedua mesin terakhir yang juga ikut mati. Maka akhhirnya keempat mesin pesawat itu semuanya mati tanpa diketahui oleh kapten dan krew, kenapa dan apa penyebabnya?!
British Airways Flight-9
Kemudian kapten pilot mengambil keputusan untuk berbalik arah ke Jakarta dan mendarat darurat disana.
Saat berbalik arah itulah keempat mesin Boeing akhirnya mati total, tak mau dinyalakan kembali. Pesawat pun terbang tanpa satupun mesin yang menyala!
Pesawat kemudian dialihkan oleh traffic air control ke bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan berharap agar mesin mereka dapat menyala dan mendarat di sana.
Pesawat ini akhirnya dapat keluar dari awan abu gunung Galunggung, dan menyalakan kembali mesin (walaupun gagal sekali lagi), dan dapat mendaratkan pesawat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma. Tak satupun orang terluka.
Hingga ada salah satu penumpang bernama Betty Tootell menuangkan pengalaman dramatisnya tersebut ke dalam sebuah buku berjudul “All Four Engines Have Failed“.
Dan untuk mengenang peristiwa tersebut, mereka semua seluruh penumpang dan krew pesawat akhirnya membentuk club yang mereka namai Galunggung Gliding Club.
Club tersebut dibentuk selain untuk mengenang peristiwa tersebut juga agar sesama penumpang dapat tetap berhubungan diantaranya sebagai bentuk rasa persamaan pengalaman dan persaudaraan.
Program Air Crash Investigation besutan National Geographic juga merekonstruksi peristiwa yang sangat dramatis tersebut dengan judul Falling From The Sky melalui program acaranya.
Karena begitu heroik dan dramatisnya peristiwa tersebut, membuat Discovery Channel akhirnya juga membeli hak siar untuk program Air Crash Investigation

Sumber :  Indocropcircles article

Nama Asli Gunung-Gunung di Indonesia Dalam Bahasa Sansekerta

Nama Asli Gunung-Gunung di Indonesia Dalam Bahasa Sansekerta

Pada zaman kejayaan para raja-raja di Nuswantara (Nusantara) semua gunung memiliki arti yang sakral. Dan membuat penamaan gunung-gunung tersebut memiliki arti yang tidak sembarangan pula.
Namun penjajahan Belanda selama ratusan tahun telah memutus Sejarah Nuswantara dengan putra-putri penerus Leluhur bangsa Indonesia.
Diantaranya juga memutus sejarah nama-nama gunung dan mengganti nama-nama gunung yang tersebar di Nuswantara tersebut.
Hal ini ada maksudnya, karena bila nama gunung diketahui oleh generasi penerus, maka akan diketahui pula kerajaan-kerajaan di sekitar gunung tersebut.
Kini saatnya, putra-putri di Nuswantara harus tahu tentang yang sesungguhnya, bahwa bahasa utama para leluhur Nuswantara adalah bahasa Sansekerta.
Secara otomatis pada awalnya nama-nama gunung di Nuswantara adalah bahasa Sansekerta, berikut nama-nama gunung tersebut:

A – K

  • Agung = Tohlangkir
  • Batur = Tampurhyang
  • Bromo = Bromo (tetap)
  • Cikuray = Prawitra
  • Ciremai =  Indrakila
  • Dieng =  Sang Hyang
  • Galunggung = Kendyaga
  • Gede = Katong
  • Gunung Karang = Nisada
  • Kawi = Kawi (tetap)
  • Kelud = Kampud

L – R

  • Lawu = Mahendra
  • Merbabu = Limohan
  • Muria = Retawu
  • Papandayan = Gn Danghyang
  • Penanggungan = Penanggunangan (tetap)
  • Perahu = Baito
  • Pulosari = Pulosari (tetap)
  • Raung, dan gunung-gunung didekat gunung Raung Jawa Timur dulunya adalah gunung Semeru yg asli

S – Z

  • Salak = Sapto Argo
  • Slamet = Jamurdipa
  • Semeru (yang sekarang) = Salaka
  • Sumbing = Sungging
  • Sundoro = Sundoro (tetap)
  • Toba = Kelasa
  • Ungaran = Sakya
  • Welirang = Gora
  • Wilis =  Pawinihan
Beberapa nama gunung lainnya masih dalam pendataan. Apakah anda mengetahui nama gunung-gunung lainnya  di Indonesia dalam Bahasa Sansekerta? Silahkan komentar. Terimakasih.🙂

Sumber :  Indocropcircles articles




Sunday, 6 November 2016

ilusi langit biru nan semu



“Langit Cerah Ilusi”
        Sebuah cerita awan, ketika biru langit begitu indah di atasnya. Kulukis perlahan dengan satu goresan dari pensil di atas putih polos kertas sketsa. Coretanku berhenti di kala sebuah gumpalan garis putih mengerucut dari sebuah pesawat membuat mataku tertuju padanya.
        “sora no hikoukigumo, shiroku tanabiku sen yo, dareno omoi ga nokoruno?, forimuku yoyou mo naimama.. . . toki no hikoukigumo, tsumi wo tateta mitai ni, hosoku namamashi kizuato, boku wa bonyarito nagamete ita. . .” di antara musim gugur dan dingin kita bersama, ku berniat mengambil jalan pintas, melupakan belokan masa depan dan kebaikan, dan juga melupakan sang angin. Sayonara kau ucapkan dari jauh sana untuk malam nanti meluapkan ekspresimu saat itu. Sinar mentari tak sampai. Namun cinta ini tak akan layu dan gugur bersama musim. “jejak pesawat yang di langit .garis putih lurus memandang, perasaan siapa yang masih ada tanpa mampu menoleh kebelakang. Jejak pesawat suatu waktu. Seperti cakar tajam menusuk, meninggalkan bekas tipis luka baru. Dengan tatapan kosong diriku memandang.”
            Tatapan kosongku mulai memperlihatkan sosok yang ku rindui saat ini. Ku ingat saat ini mungkin seharusnya dia bersamaku, menemani ku dengan coretan dan tulisanku saat ini. Namun, aku ingat satu dimana bagaimanapun aku akan menghargainya. Sosok yang kucinta. Tulus dari perasaan ini. Tiap harinya diriku tak kuasa menahan beban dikehidupan ku. Tak terkecuali juga menahan beban rinduku padanya. Detik demi detik, menit berlalu jam pun demikian melaju meninggalkan angka-angka sebelumnya dan hari-hari yang mulai berganti membawa perasaanku rasa sayang yang semakin bertambah tiap harinya. Sesejuk udara siang ini di taman yang membuat kisah ku dengannya. Sebuah tempat yang suatu saaat akan menjadi kenangan indah dan cerita untuk seorang anak yang menghiasi kehidupan baru di masa yang akan datang.Oyasuminasai ku akan datang lagi di hari-hari berikutnya. Langit indah. Kini hanya awan yang menemaniku. Rindang daun yang tertiup oleh angin yang menemani kehampaan ku.riang gembira dari siulan burung-burung kecil dan gemercik air di taman ini yang sedikit bisa membuat lega sesuatu yang terbelenggu. Senyum kini kembali kurasakan di kala ku tahu dia saat ini sedang memikirkanku,  mungkin ku tak melihatnya. Namun ku bisa merasakannya, dia sangat dekat di sisiku mengisi lubang di hatiku.
           
Kucing yang lewat entah dari mana (?) kita bersama melihat kita seperti apa. Yang di coreti anak-anak pramuka di sebelah sana. Jalanan Aspal. Omoide  wo mataideru. Suatu tempat kita berdua mungkin kan bertemu lagi. Kioku no machikado (karena ditempat kenangan)  sangat banyak cerita. Cinta itu jejak pesawat satu gores luas yang tipis. Sehari kita tak dapat kembali, dan dengan sedih kita tak dapat melangkah maju. Marude hikoukigumo, namida wo kakushu you ni, tooku migite wo kazashite. Kimi wa kanashimi wo miokutte ita. “ seperti  jejak awan pesawat , bak sembunyikan air mata. Jauh aku rentangkan tanganku. Untuk siap memelukmu, menunggu dan menjadi sandaranmu setiap saat. Untukmu.






Semarang, 6 november 2016
3.24 p.m
Taman konservasi, sendiri dengan cerah langit dan pedih dengan cerita hati ini. “ Cerah Ilusi” (kata tanpa makna)
“jejak pesawat”

Tuesday, 1 November 2016

hangat pagi dengan cerita pagi. kopi pahit. . . Jiwa lama!!

     ini bukan cerpen ataupun apa, namun ini adalah sebuah hasil goresan tanpa makna. sebuah pikiran dari dalam jiwa untuk langkah maju bersama. bersama meraih genggaman tangannya, genggaman hangat bersamanya. bersama lagiii, namun bukan lagi mimpi namun sekarang nyata. walau ini hanya langkah awal. namun sosoknya lah yang membuatku berani melangkah, bukan datangnya dari dalam mimpi seperti di belasan tahun yang lalu, hanya untuk menemani ku dan menguatkan aku ketika penat ini mengganggu fikirku.
     Kubukanlah ahli perangkai kata. lagi-lagi tulisan-tulisan ini tak punyai makna. jalanku sedikit terjungkir terbalik. melangkah menuju titik, lakukan yang terbaik, ku ketatkan tekad dan niat agar melesat seperti Rudal squad, KUYAKIN mimpiku untuknya kan Kudapat. mencari tepuk tangan dan simpati atas karya keringatku bukanlah hal yang ingin aku tuju. bukan ingin applause juga. namun disinilah awalku bermimpi. temani sepi dalam sunyi. Sinarilahhh..!! hati ini. ku takkan mampu berdiri tuk raih semua mimpi. tanpa cahyamu menemani di sini. 

     hanya kopi panas ditemani Roti dan beberapa gorengan yang ku goreng bausan di dinginnya pagi inilah membuat hangat dalam raga. searah dengan itu jiwa ini bersama langkah-langkah pasti. ini bukan lagi mimpi atau halusinasi. sebuah anugrah yang akan kunikmati nanti, sebuah kerja kerasku, kan terbayar tuntas akan hadirnya disini.
     kini ku belajar, dari Mimpi semua dapat terjadi. maka lemparkan sayap dan terbanglahh yang tinggi. . . .







“Cerita Malam Curahan Untuk Dirimu”
-Jiwa Lama yang Tumbuh-
            Cahaya rembulan mulai menyinari kaca kamarku. Sepetak ruangan dalam sebuah rumah. Dalam dinginnya udara malam yang mualai terasa. Tangan ini mulai melakukan kebiasaan yang selalu menjadi kebahagiaanku dulu, di kota orang yang kini ku tempati ku tak lagi mempunyai sesuatu. Sesuatu itu telah lama hilang. Yang sudah lama menjadi Lubang di Dalam Hati. Hampa dan kosong, dalam menjalani keseharianku. Sudah belasan tahun berlalu, malam yang semakin larut ini membawaku berjalan ke masa dulu dimana aku yang berbeda dari diriku yang saat ini. ku ingat terakhir saat itu di kamarku ku ceritakan semua kisahku pada sang buku dan bolpoin. Iya dimalam itu adalah dimana hari terakhirku menyayangi buku dan semua cerita hariku.
      Malam yang tak kunjung usai, di usiaku yang masih cukup belia saat itu. Terus ku goreskan kalimat demi kalimat yang membawa arti dalam hariku saat itu. Goresan dalam buku yang menjadikan malam tersebut menjadi sangat bermakna. Ditemani bintang-bintang diluar rumah yang terlihat dari kaca jendela. Hal yang sama yang selalu kujalani dikala malam selepas ku belajar. Hari-hari indah bersama sejuta cerita yang mungkin akan terkenang dan akan menjadi cerita untuk anak-anak ku suatu saat nanti. Malam itu semakin larut dan aku masih bermain dengan goresan lukisan dan terdeskripsikan oleh coretan-coretan tipis Luthfi kecil. Sesederhana itu keseharianku dulu. Namun di suatu saat ketika mulai padat aktivitasku dalam sebuah instansi sekolah, perlahan jiwaku yang terbentuk sejak ku masih kecil mulai hilang. Bukan karena apa-apa, namun aku merasa perlahan sesuatu yang bisa mengisi hatiku mulai seperti hilang dan kosong. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kala itu. Detik demi detik menit demi menit jam demi jam terlewati, tahun berlalu dengan singkatnya tana aku tahu lagi apa yang terjadi padaku.
      Dinginnya malam mulai terasa. Begitu cerita yang terjadi di masa yang lalu mulai membuatku teringat pada apa yang telah terjadi. Malam yang semakin larut membawaku jauh masuk dalam diriku dimana yang lalu bukanlah hal yang harus dilupakan. Di malam  ini aku menemukan pembeda antara diriku yang sekarang dan diriku dimasa dulu. Seketika kudengar sebuah lagu dari handsfree handphone kecilku. Kulihat handphone di sebelahku, handphone mungil yang tergolong sudah tua dengan banyak cerita. Kulihat sejenak layar handphone. Terlihat music play “puisi karya jikustik” tiba-tiba aliran syair dan melodinya membuat hatiku terbuka. Air mata perlahan menetes di pipi. Kudengrkan kata per kata dari lirikny.
“aku yang pernah
engkau kuatkan
aku yang pernah
kau bangkitkan
aku yang pernah
kau beri rasa
saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
selama itu aku akan selalu mengingatmu
kapan lagi kutulis untukmu
tulisan tulisan indahku yang dulu
pernah  warnai dunia
puisi terindahku hanya untuk mu
mungkinkah kaukan kembali lagi
menemaniku menulis lagi
kita arungi bersama
puisi terindahku hanya untukmu”
      ketika sampai di penghujung nada ku kuatkan hatiku. Ini bukan lagi mimpi, namun ini adalah jalan baruku. Jalan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Dalam heningnya mala mini surut suasana dalam hati. “kapan lagi kutulis untukmu?” selarik kata yang membuatku teringat masa dimana aku dulu berpijak pada tanah desa. Berada diatas pohon jambu. Hanya untuk mengarang dengn coretan-coretan tak bermakna. Yang mungkin saat itu aku belum mengerti, siapakah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Mimpi di tidur malamku. Ketika dimasa itu aku hanyalah sebuah bocah yang tak tahu apa itu cinta, apa itu kasih sayang namun dengan hadirnya dia kuingat bagaimana sosoknya selalu hadir menemaniku, di kuatkan, bangkitkan dan pernah memberiku rasa. “Saat aku terjaga hingga ku terlelap nanti, selama itu aku akan selalu mengingatmu” bukan singkat waktu ini berjalan. Lelah letih. Semua teras, disaat masa itu aku sedang lelah sosoknya hadir menguatkan ku lewat mimpi. Mimpi itulah alasanku mengapa berani berlari di keesokan hariny. Capek? Lelah ini terobati dengan lariku untuk menggapainya. Karena aku yakin akan dapat menggapai tangannya walaupun harus lelah. 
      “Kapan lagi kutulis untuknya, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia,. . . puisi terindahku hanya untukmu.” Sejuk nan indah mungkin dikata ini, namun inilah yang membuatku terenyuh dalam-dalam didalam jiwa. Malam pun mulai berganti. Ya. . . kujelang matahari dengan segelas kopi panas menemani, Di pagi ini ku bebas, karna nggak ada kelas, Di ruang mata ini kamar ini srasa luas, Letih dan lelah juga, lambat lambat terkuras
Tanpa terasa kopi sudah habis, kerongkongan ku pun puas. . .Mulai ku tulis semua kehidupan di kertas, Hari hari yang keras, kisah cinta yang pedas, Perasaan yang was was, dan gerakku yang makin leluasa berekspresi. Tinta yang keluar dari dalam pena Berirama dengan apa yang kurasa. Dalam hati ini ingin kuubah semua. Kehidupan monoton penuh luka putus asa. Usai semua keputus asaan ku selama hampir belasan tahun lalu tanpa tulisan-tulisan tanpa maknaku.
Dan kini, mungkinkah kau kan kembali lagi menemaniku menulis lagi. Kita arungi bersama, puisi terindahku hanya untukmu” mungkin ini tulisan dari bait terakhir sebuah syair dan melodi yang membuka mataku. dunia memang tak selebar daun kelor, Akal dan pikiran ku pun tak selamanya kotor akan rasa amarah, Membuka mata hati demi sebuah cita-cita. Mlangkah pasti untuk bersama, pena dan tinta inilah yang akan berbicara.
Namun saat ini aku percaya padanya. Bukan mungkin, namun pasti dia akan hadir. Hari-hari yang kan kujalani kan terasa happy. Menemani setiap langkah kamu kan selalu ada dalam sisi kiri ku. Bergandeng tangan melangkah pasti bersama-sama. Tulisan tulisanku memang tak seindah dunia ini. Namun, untuknya dunia ini lebih indah ketika goresan pena ini melangkah untukna dan bersama dengan harapan-harapan indah kita. Karena kini bukan hanya di mimpi, namun dia hadir nyata di dalam hidupku, dikota Atlas yang luas. Kutemukan sosoknya. gadis kecil dari selatan Jawa, akan menemani tulisan yang tak seindah di dalam syair lagu tersebut.
RASAKAN SENANG BAHAGIA, HINGGA KELAK . . . 



teks asli 




Semarang, 2 November 2016
WIP Finished 5.51 a.m.