Sunday, 6 November 2016

ilusi langit biru nan semu



“Langit Cerah Ilusi”
        Sebuah cerita awan, ketika biru langit begitu indah di atasnya. Kulukis perlahan dengan satu goresan dari pensil di atas putih polos kertas sketsa. Coretanku berhenti di kala sebuah gumpalan garis putih mengerucut dari sebuah pesawat membuat mataku tertuju padanya.
        “sora no hikoukigumo, shiroku tanabiku sen yo, dareno omoi ga nokoruno?, forimuku yoyou mo naimama.. . . toki no hikoukigumo, tsumi wo tateta mitai ni, hosoku namamashi kizuato, boku wa bonyarito nagamete ita. . .” di antara musim gugur dan dingin kita bersama, ku berniat mengambil jalan pintas, melupakan belokan masa depan dan kebaikan, dan juga melupakan sang angin. Sayonara kau ucapkan dari jauh sana untuk malam nanti meluapkan ekspresimu saat itu. Sinar mentari tak sampai. Namun cinta ini tak akan layu dan gugur bersama musim. “jejak pesawat yang di langit .garis putih lurus memandang, perasaan siapa yang masih ada tanpa mampu menoleh kebelakang. Jejak pesawat suatu waktu. Seperti cakar tajam menusuk, meninggalkan bekas tipis luka baru. Dengan tatapan kosong diriku memandang.”
            Tatapan kosongku mulai memperlihatkan sosok yang ku rindui saat ini. Ku ingat saat ini mungkin seharusnya dia bersamaku, menemani ku dengan coretan dan tulisanku saat ini. Namun, aku ingat satu dimana bagaimanapun aku akan menghargainya. Sosok yang kucinta. Tulus dari perasaan ini. Tiap harinya diriku tak kuasa menahan beban dikehidupan ku. Tak terkecuali juga menahan beban rinduku padanya. Detik demi detik, menit berlalu jam pun demikian melaju meninggalkan angka-angka sebelumnya dan hari-hari yang mulai berganti membawa perasaanku rasa sayang yang semakin bertambah tiap harinya. Sesejuk udara siang ini di taman yang membuat kisah ku dengannya. Sebuah tempat yang suatu saaat akan menjadi kenangan indah dan cerita untuk seorang anak yang menghiasi kehidupan baru di masa yang akan datang.Oyasuminasai ku akan datang lagi di hari-hari berikutnya. Langit indah. Kini hanya awan yang menemaniku. Rindang daun yang tertiup oleh angin yang menemani kehampaan ku.riang gembira dari siulan burung-burung kecil dan gemercik air di taman ini yang sedikit bisa membuat lega sesuatu yang terbelenggu. Senyum kini kembali kurasakan di kala ku tahu dia saat ini sedang memikirkanku,  mungkin ku tak melihatnya. Namun ku bisa merasakannya, dia sangat dekat di sisiku mengisi lubang di hatiku.
           
Kucing yang lewat entah dari mana (?) kita bersama melihat kita seperti apa. Yang di coreti anak-anak pramuka di sebelah sana. Jalanan Aspal. Omoide  wo mataideru. Suatu tempat kita berdua mungkin kan bertemu lagi. Kioku no machikado (karena ditempat kenangan)  sangat banyak cerita. Cinta itu jejak pesawat satu gores luas yang tipis. Sehari kita tak dapat kembali, dan dengan sedih kita tak dapat melangkah maju. Marude hikoukigumo, namida wo kakushu you ni, tooku migite wo kazashite. Kimi wa kanashimi wo miokutte ita. “ seperti  jejak awan pesawat , bak sembunyikan air mata. Jauh aku rentangkan tanganku. Untuk siap memelukmu, menunggu dan menjadi sandaranmu setiap saat. Untukmu.






Semarang, 6 november 2016
3.24 p.m
Taman konservasi, sendiri dengan cerah langit dan pedih dengan cerita hati ini. “ Cerah Ilusi” (kata tanpa makna)
“jejak pesawat”

No comments:

Post a Comment