“Langit Cerah Ilusi”
Sebuah cerita awan, ketika biru langit begitu indah di
atasnya. Kulukis perlahan dengan satu goresan dari pensil di atas putih polos
kertas sketsa. Coretanku berhenti di kala sebuah
gumpalan garis putih mengerucut dari sebuah pesawat membuat mataku tertuju
padanya.
“sora no hikoukigumo,
shiroku tanabiku sen yo, dareno omoi ga nokoruno?, forimuku yoyou mo naimama..
. . toki no hikoukigumo, tsumi wo tateta mitai ni, hosoku namamashi kizuato,
boku wa bonyarito nagamete ita. . .” di
antara musim gugur dan dingin kita bersama, ku berniat mengambil jalan pintas,
melupakan belokan masa depan dan kebaikan, dan juga melupakan sang angin. Sayonara
kau ucapkan dari jauh sana untuk malam nanti meluapkan ekspresimu saat itu. Sinar
mentari tak sampai. Namun cinta ini tak akan layu dan gugur bersama musim. “jejak pesawat yang di langit .garis
putih lurus memandang, perasaan siapa yang masih ada tanpa mampu menoleh
kebelakang. Jejak pesawat suatu
waktu. Seperti cakar tajam menusuk, meninggalkan bekas tipis luka baru. Dengan tatapan kosong diriku memandang.”
Tatapan kosongku mulai memperlihatkan sosok yang ku
rindui saat ini. Ku ingat saat ini mungkin seharusnya dia bersamaku, menemani
ku dengan coretan dan tulisanku saat ini. Namun, aku ingat satu dimana
bagaimanapun aku akan menghargainya. Sosok yang kucinta. Tulus dari perasaan
ini. Tiap harinya diriku tak kuasa menahan beban dikehidupan ku. Tak terkecuali
juga menahan beban rinduku padanya. Detik demi detik, menit berlalu jam pun
demikian melaju meninggalkan angka-angka sebelumnya dan hari-hari yang mulai
berganti membawa perasaanku rasa sayang yang semakin bertambah tiap harinya. Sesejuk
udara siang ini di taman yang membuat kisah ku dengannya. Sebuah tempat yang
suatu saaat akan menjadi kenangan indah dan cerita untuk seorang anak yang
menghiasi kehidupan baru di masa yang akan datang.Oyasuminasai ku akan datang lagi di hari-hari berikutnya. Langit indah.
Kini hanya awan yang menemaniku. Rindang daun yang tertiup oleh angin yang
menemani kehampaan ku.riang gembira dari siulan burung-burung kecil dan
gemercik air di taman ini yang sedikit bisa membuat lega sesuatu yang
terbelenggu. Senyum kini kembali kurasakan
di kala ku tahu dia saat ini sedang memikirkanku, mungkin ku tak melihatnya. Namun ku bisa
merasakannya, dia sangat dekat di sisiku mengisi lubang di hatiku.
Kucing
yang lewat entah dari mana (?) kita bersama melihat kita seperti apa. Yang di
coreti anak-anak pramuka di sebelah sana. Jalanan Aspal. Omoide wo mataideru. Suatu tempat
kita berdua mungkin kan bertemu lagi. Kioku
no machikado (karena ditempat kenangan) sangat banyak cerita. Cinta itu jejak pesawat satu gores luas yang
tipis. Sehari kita tak dapat kembali, dan dengan sedih kita tak dapat melangkah
maju. Marude hikoukigumo, namida wo
kakushu you ni, tooku migite wo kazashite. Kimi wa kanashimi wo miokutte ita. “
seperti jejak awan pesawat , bak sembunyikan air mata.
Jauh aku rentangkan tanganku. Untuk siap memelukmu, menunggu dan menjadi
sandaranmu setiap saat. Untukmu.
Semarang, 6 november 2016
3.24 p.m
Taman konservasi, sendiri dengan cerah langit dan pedih dengan
cerita hati ini. “ Cerah Ilusi” (kata tanpa makna)
“jejak pesawat”
No comments:
Post a Comment