Tuesday, 1 November 2016

hangat pagi dengan cerita pagi. kopi pahit. . . Jiwa lama!!

     ini bukan cerpen ataupun apa, namun ini adalah sebuah hasil goresan tanpa makna. sebuah pikiran dari dalam jiwa untuk langkah maju bersama. bersama meraih genggaman tangannya, genggaman hangat bersamanya. bersama lagiii, namun bukan lagi mimpi namun sekarang nyata. walau ini hanya langkah awal. namun sosoknya lah yang membuatku berani melangkah, bukan datangnya dari dalam mimpi seperti di belasan tahun yang lalu, hanya untuk menemani ku dan menguatkan aku ketika penat ini mengganggu fikirku.
     Kubukanlah ahli perangkai kata. lagi-lagi tulisan-tulisan ini tak punyai makna. jalanku sedikit terjungkir terbalik. melangkah menuju titik, lakukan yang terbaik, ku ketatkan tekad dan niat agar melesat seperti Rudal squad, KUYAKIN mimpiku untuknya kan Kudapat. mencari tepuk tangan dan simpati atas karya keringatku bukanlah hal yang ingin aku tuju. bukan ingin applause juga. namun disinilah awalku bermimpi. temani sepi dalam sunyi. Sinarilahhh..!! hati ini. ku takkan mampu berdiri tuk raih semua mimpi. tanpa cahyamu menemani di sini. 

     hanya kopi panas ditemani Roti dan beberapa gorengan yang ku goreng bausan di dinginnya pagi inilah membuat hangat dalam raga. searah dengan itu jiwa ini bersama langkah-langkah pasti. ini bukan lagi mimpi atau halusinasi. sebuah anugrah yang akan kunikmati nanti, sebuah kerja kerasku, kan terbayar tuntas akan hadirnya disini.
     kini ku belajar, dari Mimpi semua dapat terjadi. maka lemparkan sayap dan terbanglahh yang tinggi. . . .







“Cerita Malam Curahan Untuk Dirimu”
-Jiwa Lama yang Tumbuh-
            Cahaya rembulan mulai menyinari kaca kamarku. Sepetak ruangan dalam sebuah rumah. Dalam dinginnya udara malam yang mualai terasa. Tangan ini mulai melakukan kebiasaan yang selalu menjadi kebahagiaanku dulu, di kota orang yang kini ku tempati ku tak lagi mempunyai sesuatu. Sesuatu itu telah lama hilang. Yang sudah lama menjadi Lubang di Dalam Hati. Hampa dan kosong, dalam menjalani keseharianku. Sudah belasan tahun berlalu, malam yang semakin larut ini membawaku berjalan ke masa dulu dimana aku yang berbeda dari diriku yang saat ini. ku ingat terakhir saat itu di kamarku ku ceritakan semua kisahku pada sang buku dan bolpoin. Iya dimalam itu adalah dimana hari terakhirku menyayangi buku dan semua cerita hariku.
      Malam yang tak kunjung usai, di usiaku yang masih cukup belia saat itu. Terus ku goreskan kalimat demi kalimat yang membawa arti dalam hariku saat itu. Goresan dalam buku yang menjadikan malam tersebut menjadi sangat bermakna. Ditemani bintang-bintang diluar rumah yang terlihat dari kaca jendela. Hal yang sama yang selalu kujalani dikala malam selepas ku belajar. Hari-hari indah bersama sejuta cerita yang mungkin akan terkenang dan akan menjadi cerita untuk anak-anak ku suatu saat nanti. Malam itu semakin larut dan aku masih bermain dengan goresan lukisan dan terdeskripsikan oleh coretan-coretan tipis Luthfi kecil. Sesederhana itu keseharianku dulu. Namun di suatu saat ketika mulai padat aktivitasku dalam sebuah instansi sekolah, perlahan jiwaku yang terbentuk sejak ku masih kecil mulai hilang. Bukan karena apa-apa, namun aku merasa perlahan sesuatu yang bisa mengisi hatiku mulai seperti hilang dan kosong. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kala itu. Detik demi detik menit demi menit jam demi jam terlewati, tahun berlalu dengan singkatnya tana aku tahu lagi apa yang terjadi padaku.
      Dinginnya malam mulai terasa. Begitu cerita yang terjadi di masa yang lalu mulai membuatku teringat pada apa yang telah terjadi. Malam yang semakin larut membawaku jauh masuk dalam diriku dimana yang lalu bukanlah hal yang harus dilupakan. Di malam  ini aku menemukan pembeda antara diriku yang sekarang dan diriku dimasa dulu. Seketika kudengar sebuah lagu dari handsfree handphone kecilku. Kulihat handphone di sebelahku, handphone mungil yang tergolong sudah tua dengan banyak cerita. Kulihat sejenak layar handphone. Terlihat music play “puisi karya jikustik” tiba-tiba aliran syair dan melodinya membuat hatiku terbuka. Air mata perlahan menetes di pipi. Kudengrkan kata per kata dari lirikny.
“aku yang pernah
engkau kuatkan
aku yang pernah
kau bangkitkan
aku yang pernah
kau beri rasa
saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti
selama itu aku akan selalu mengingatmu
kapan lagi kutulis untukmu
tulisan tulisan indahku yang dulu
pernah  warnai dunia
puisi terindahku hanya untuk mu
mungkinkah kaukan kembali lagi
menemaniku menulis lagi
kita arungi bersama
puisi terindahku hanya untukmu”
      ketika sampai di penghujung nada ku kuatkan hatiku. Ini bukan lagi mimpi, namun ini adalah jalan baruku. Jalan yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Dalam heningnya mala mini surut suasana dalam hati. “kapan lagi kutulis untukmu?” selarik kata yang membuatku teringat masa dimana aku dulu berpijak pada tanah desa. Berada diatas pohon jambu. Hanya untuk mengarang dengn coretan-coretan tak bermakna. Yang mungkin saat itu aku belum mengerti, siapakah yang selalu hadir dalam mimpi-mimpiku. Mimpi di tidur malamku. Ketika dimasa itu aku hanyalah sebuah bocah yang tak tahu apa itu cinta, apa itu kasih sayang namun dengan hadirnya dia kuingat bagaimana sosoknya selalu hadir menemaniku, di kuatkan, bangkitkan dan pernah memberiku rasa. “Saat aku terjaga hingga ku terlelap nanti, selama itu aku akan selalu mengingatmu” bukan singkat waktu ini berjalan. Lelah letih. Semua teras, disaat masa itu aku sedang lelah sosoknya hadir menguatkan ku lewat mimpi. Mimpi itulah alasanku mengapa berani berlari di keesokan hariny. Capek? Lelah ini terobati dengan lariku untuk menggapainya. Karena aku yakin akan dapat menggapai tangannya walaupun harus lelah. 
      “Kapan lagi kutulis untuknya, tulisan-tulisan indahku yang dulu, pernah warnai dunia,. . . puisi terindahku hanya untukmu.” Sejuk nan indah mungkin dikata ini, namun inilah yang membuatku terenyuh dalam-dalam didalam jiwa. Malam pun mulai berganti. Ya. . . kujelang matahari dengan segelas kopi panas menemani, Di pagi ini ku bebas, karna nggak ada kelas, Di ruang mata ini kamar ini srasa luas, Letih dan lelah juga, lambat lambat terkuras
Tanpa terasa kopi sudah habis, kerongkongan ku pun puas. . .Mulai ku tulis semua kehidupan di kertas, Hari hari yang keras, kisah cinta yang pedas, Perasaan yang was was, dan gerakku yang makin leluasa berekspresi. Tinta yang keluar dari dalam pena Berirama dengan apa yang kurasa. Dalam hati ini ingin kuubah semua. Kehidupan monoton penuh luka putus asa. Usai semua keputus asaan ku selama hampir belasan tahun lalu tanpa tulisan-tulisan tanpa maknaku.
Dan kini, mungkinkah kau kan kembali lagi menemaniku menulis lagi. Kita arungi bersama, puisi terindahku hanya untukmu” mungkin ini tulisan dari bait terakhir sebuah syair dan melodi yang membuka mataku. dunia memang tak selebar daun kelor, Akal dan pikiran ku pun tak selamanya kotor akan rasa amarah, Membuka mata hati demi sebuah cita-cita. Mlangkah pasti untuk bersama, pena dan tinta inilah yang akan berbicara.
Namun saat ini aku percaya padanya. Bukan mungkin, namun pasti dia akan hadir. Hari-hari yang kan kujalani kan terasa happy. Menemani setiap langkah kamu kan selalu ada dalam sisi kiri ku. Bergandeng tangan melangkah pasti bersama-sama. Tulisan tulisanku memang tak seindah dunia ini. Namun, untuknya dunia ini lebih indah ketika goresan pena ini melangkah untukna dan bersama dengan harapan-harapan indah kita. Karena kini bukan hanya di mimpi, namun dia hadir nyata di dalam hidupku, dikota Atlas yang luas. Kutemukan sosoknya. gadis kecil dari selatan Jawa, akan menemani tulisan yang tak seindah di dalam syair lagu tersebut.
RASAKAN SENANG BAHAGIA, HINGGA KELAK . . . 



teks asli 




Semarang, 2 November 2016
WIP Finished 5.51 a.m.




No comments:

Post a Comment